---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- detik.com, 25 Juni 2000 MUI Maluku : Tak Ada Warga Kristen Disandera Reporter: Nurul Qomariyah detikcom - Ternate, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Maluku Utara Syarif Syahfin membantah pemberitaan di beberapa media massa yang menyebutkan bahwa warga Kristen telah disandera di Galela. "Yang benar adalah sekitar 30 tokoh agama dan masyarakat serta sekitar 80 anak-anak, orang tua dan perempuan kini dilindungi warga muslim dan TNI, menyusul pertikaian di Desa Duma Kec. Galela Pulau Halmahera (Maluku Utara)," kata Syarif di sela-sela rapat koordinasi antara Bupati Maluku Utara Gahral Syah dengan tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat di Ternate, Minggu (23/6/2000) seperti dikutip Antara. "Jadi tidak benar warga Kristen di Galela disandera seperti yang dilansir media massa nasional maupun asing itu, tambah Syarif. "Sesuai laporan yang diperoleh MUI Maluku Utara dari Galela, warga desa Duma bersama tokohnya saat ini hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya yang muslim di Soasio Ibukota Kecamatan Galela," ujarnya. Menurut Syarif, pemberitaan media massa yang menyebutkan ada penyanderaan setelah peristiwa desa Duma, sangat sepihak dan menyudutkan umat Islam khususnya di Maluku Utara. Para tokoh agama dan masyarakat itu merasa tertipu oleh provokasi yang dilakukan oknum tertentu di Tobelo, sehingga ditawari oleh aparat keamanan untuk dievakuasikan ke Tobelo, namun puluhan warga desa itu tidak mau. Mereka tetap bertahan di Galela daripada menjadi korban untuk kedua kalinya, karena Tobelo masih menjadi target setelah Galela, apalagi puluhan anak-anak, orang tua dan perempuan dilindungi. Yang disandera justru 66 anak usia 5-12 asal Desa Sukamaju di Tobelo, sejak 29 Desember 1999. Dari 66 anak-anak muslim dari eks Unit Pemukiman Transmigran (UPT) Piduwang itu 22 anak di antaranya diketahui masih hidup, ungkap Syarif. Ia justru mempertanyakan mengapa korban pertikaian di Desa Duma Galela itu dibesar-besarkan media massa termasuk media asing. Padahal pembantaian terhadap 253 warga muslim di mesjid desa Togoliuwa dan sekitar 250 orang di mesjid Popilo Kec. Tobelo, oleh umat Kristen di Halmahera dianggap sebagai korban perang. Menanggapi pernyataan Presiden Abdurrrahman Wahid, tentang hadirnya orang-orang dari luar, di Maluku dan Maluku Utara, Syarif mengatakan, sampai saat ini belum ada orang luar yang ikut campur mengenai persoalan konflik di propinsi termuda di Indonesia itu. Namun dia menyatakan, pihaknya sangat mendukung larangan Presiden bagi orang-orang luar untuk tidak masuk ke Maluku Utara, menyusul masih merebaknya pertikaian bernuansa SARA yang saat ini masih terjadi di Halmahera itu. Disebutkan, yang terjadi di Maluku Utara adalah gerakan spontan dari umat setempat baik Islam maupun Kristen. Laskar jihad yang masuk ke kawasan Halmahera Utara itu adalah pengungsi muslim yang ingin kembali ke kampung halaman mereka. Mereka ingin mengambil kembali hak-hak mereka yang kini dikuasai warga nonmuslim di daerah itu. MUI menghimbau kalau ada oknum mendanai kelompok sehingga terorganisir, maka sebaiknya dana itu diberikan kepada pemerintah, guna membangun kembali rumah dan bangunan yang rusak akibat kerusuhan itu. Komandan Satgas operasi pemulihan keamanan Maluku Utara Kolonel Inf Sutrisno juga membantah adanya isu penyanderaan warga Kristen di Galela itu. Tidak ada warga yang disandera, apalagi disiksa, katanya. Sebagian warga korban pertikaian di desa Duma tidak mau dievakuasi, setelah mendapat perlindungan dari TNI dan saudaranya di Galela. Yang dievakuasi ke Tobelo hanya para korban luka berat dan ringan, sementara korban lainnya tetap dilindungi, tambahnya. Menanggapi sorotan kinerja TNI yang ditugaskan memulihkan konflik di Maluku Utara, Sutrisno mengatakan, TNI sudah berupaya maksimal. Namun, kondisi geografis wilayah Maluku Utara kurang mendukung tugas-tugas operasional aparat disamping terbatasnya personil TNI Polri, sarana dan prasarana, seperti transportasi dan komunikasi. Menurutnya, desa-desa yang diserang beberapa pekan terakhir ini adalah warga desa yang menolak penempatan TNI, termasuk warga desa Duma Galela. Begitu diserang dan menimbulkan korban maka aparat keamanan justru disalahkan dan Pos Penjagaan pun diserang, tandas Sutrisno yang juga Komandan Brigif-13 Kostrad itu. Ia menilai ada upaya oknum tertentu yang sengaja mau mengadu domba TNI dengan masyarakat, sebab meski aparat ditolak tapi pihaknya tetap memasuki desa-desa di Tobelo dan Galela. Sedangkan dari Ternate dilaporkan, situasi keamanan di beberapa tempat di Maluku Utara cukup kondusif, sementara di kawasan Halmahera Utara, terutama di Kao, Tobelo dan Galela sejak peristiwa Senin lalu hingga saat ini masih mencekam. Satu Batalyon TNI dari Kodam 512 Brawijaya, satu peleton Korps dan satu peleton dari Batalyon 501 Kostrad yang ditugaskan di Tobelo dan Galela terlihat berjaga-jaga di daerah konflik dan rawan konflik. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Jul 2000 jam 10:39:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
