----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 18 Juli 2000

Penyelesaian Masalah Ambon

SITUASI Kota Ambon yang semakin kritis akhir-akhir ini sungguh
memprihatinkan. Betapa tidak, jika kita lihat sendiri
kejadiannya yang sudah memasuki tahun kedua sejak meletusnya
konflik yang bernuansa SARA di Maluku, berbagai upaya telah
dilakukan berbagai pihak untuk menyelesaikannya. Yang terakhir
sekarang ini adalah pemberlakuan keadaan 'Darurat Sipil' di
wilayah tersebut, dengan harapan konflik dapat diselesaikan.
Yang menjadi pertanyaan, "Apakah cara tersebut dapat memulihkan
kembali kondisi keamanan seperti sediakala atau hanya mencegah
terjadinya konflik untuk sementara?"

Sebagai warga Ambon yang mengalami langsung kejadian ini, saya
mengimbau kepada berbagai pihak, baik yang mengalami secara
langsung maupun tidak langsung untuk membuka 'hati nurani' kita
agar 'saling mengampuni' karena tanpa hal ini mustahil
perdamaian dapat diwujudkan. Sudah cukup banyak kita tumpahkan
darah di tanah Maluku tercinta ini, kita sudah merasakan derita
yang sama.

Selama masa kerusuhan sejak 19 Januari 1999 sampai sekarang ini,
sebenarnya sudah dua kali dilakukan upaya perdamaian bagi kedua
pihak yang bertikai, yakni sekitar Mei 1999 dan Mei 2000 yang
baru saja berlalu. Namun, semuanya dirusak 'pihak ketiga' yang
ingin mengambil keuntungan dengan memanfaatkan konflik yang
berkepanjangan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah keuntungan
yang diperoleh pihak ketiga ini sebanding dengan pengorbanan
harta dan darah rakyat Ambon dan Maluku? Sebagai 'manusia'
pantaskah mengambil keuntungan dari darah dan nyawa orang lain,
tanpa menyadari bahwa setiap manusia mempunyai kesempatan hidup
yang sama di bumi ini, khususnya di Tanah Air tercinta ini.

Jika kita berpikir tentang rasa 'dendam', apakah perasaan
tenteram dan damai serta rasa puas dapat diperoleh dengan
'melampiaskan dendam' kita atau saudara kita kepada orang lain
yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadap kita
ataupun saudara kita? Seperti kaum perempuan dan anak-anak yang
menjadi sasaran pelampiasan balas dendam dengan mengalami
kematian yang sia-sia. Bukankah mereka mahluk yang lemah yang
seharusnya mendapatkan 'perlindungan' bukannya 'pembantaian'?
Yang menjadi pertanyaan lagi, adakah manusia yang tidak
mempunyai hati nurani? Jika tidak ada mengapa hal ini sampai
terjadi?

Kita semua tahu dan kita tidak akan menyangkal bahwa diri kita
berasal dari sepasang manusia, Adam dan Hawa yang diciptakan
oleh Tuhan yang sama. Maka sangatlah disayangkan jika konflik di
Ambon dan Maluku, dibesar-besarkan melalui isu agama. Dengan
berdalih agama maka masing-masing pihak yang bertikai bersikeras
saling menghabisi satu sama lain. Bukankah agama dibutuhkan
sebagai sarana untuk pengenalan hakikat adanya Tuhan yang harus
kita sembah, sehingga kita tahu dari mana kita berasal dan
bagaimana seharusnya kita hidup. Dengan demikian agama sangat
identik dengan adanya Tuhan yang dapat mengendalikan manusia
agar hidup teratur dan berbuat menurut kaidah/aturan seperti
yang diajarkan Tuhan, Jadi, agama berguna untuk menyelamatkan
manusia dari kehancuran. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam
kasus di Ambon dan Maluku agama dijadikan sarana untuk
menghancurkan dan membunuh sesama manusia? Jika demikian yang
terjadi adalah sebaliknya, manusia berusaha menyelamatkan agama
bukannya agama yang menyelamatkan manusia.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas marilah kita coba
menjawab dengan hati nurani kita yang bersih untuk mendapatkan
jawaban yang jujur dari hati yang paling dalam, sehingga pihak-
pihak yang bertikai, pemerintah, aparat keamanan, dan pihak-
ppihak lain yang terlibat dalam penanganan konflik ini dapat
lebih arif menangani upaya damai di Ambon dan Maluku. Marilah
kita cari jalan penyelesaian dengan pola pikir ke depan bukan
dengan mencari-cari akar permasalahan dengan pola pikir ke
belakang karena hanya akan menimbulkan kepahitan dan saling
menyalahkan. Kita harus mempunyai jiwa besar untuk saling
memaafkan dengan merenungkan kebesaran Tuhan. Dia Yang Maha
Segalanya saja mau memaafkan kita, bagaimana dengan diri kita
sebagai manusia yang berdosa tentunya dapat saling memaafkan.
Kita sebagai rakyat Ambon dan Maluku sudah cukup menderita,
janganlah kita tambah lagi penderitaan ini. Janganlah kita
dengar provokasi-provokasi dari luar, marilah kita bersaudara di
Ambon dan Maluku bersama-sama menghadapi para provokator yang
akan menghancurkan persaudaraan kita. Dengan sisa kekuatan yang
ada, marilah kita gunakan untuk menyembuhkan luka kita,
kesadaran kita akan nikmatnya hidup rukun dan damai.

Yang terakhir saya berharap dengan diberlakukannya ketentuan
'Darurat Sipil' di Ambon dan Maluku maka pemerintah dapat
memberikan perlindungan yang sama terhadap seluruh rakyat Maluku
serta menindak tegas pihak-pihak dari luar yang akan membuat
kekacauan kembali di Maluku sehingga perdamaian yang abadi dapat
segera terwujud.

SRIYANTO

Kecamatan Baguala, Ambon

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Jul 2000 jam 06:24:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke