----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

DPR Jangan Hanya Urusi Dua Mantan Menteri

Jakarta, Buana

Sejumlah tokoh PKB dan kiai NU mendesak DPR agar interpelasi DPR atas
pemecatan dua mantan anggota kabinet dianggap selesai. Atau, minimal
dilokalisir, apa pun jawaban tertulis Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Sebab, menurut mereka, bangsa ini masih menghadapi banyak persoalan lain
yang lebih urgen untuk diselesaikan. Sehingga, berlarut-larutnya silang
pendapat atas pemecatan dua mantan menteri kontraproduktif terhadap upaya
seluruh komponen masyarakat memerangi potensi disintegrasi dan krisis
ekonomi dewasa ini.

Desakan itu disuarakan mantan Ro'is Syuriah PB Nahdlatul Ulama (NU) yang
kini menjabat Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Ma'ruf
Amin; anggota F-PKB DPR H Imam Churmen; dan Ketua Umum DPP Badan Koordinasi
Dakwah Ahlussunah Waljamaah (Bakordas) KH Asmuni Sjamsuri. "Kalau semua
anggota anggota dewan yang terhormat itu bersedia berpikir jernih untuk
kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar, persoalan interpelasi itu
sebaiknya dianggap selesai. Apa pun jawaban Gus Dur Jumat sore ini, DPR
perlu berlapang dada menerimanya," kata Mar'uf Amin kepada. Buana di
Jakarta, Jumat (21/7) pagi. Mar'uf Amin menegaskan, kesediaan menerima apa
pun jawaban Gus Dur penting untuk membuat suasana politik lebih sejuk.
Perbedaan pendapat atau pertentangan antara legislatif dengan eksekutif
selayaknya tidak membuat keadaan makin memburuk. "Kenapa DPR ngotot hanya
untuk ngurusi dua orang bekas menteri?" tanyanya.

Bahkan, Iman Churmen sangat prihatin melihat perilaku anggota dewan. "Apa
mereka itu tidak sadar, masih banyak persoalan bangsa ini yang lebih besar.
Perlu diketahui, kami bersikap seperti ini bukan untuk kepentingan Gus Dur
dan PKB semata-mata. Tapi, untuk kepentingan rakyat banyak," katanya. Sikap
serupa dikemukakan KH Asmuni Sjamsuri. Melihat sikap mayoritas anggota DPR
itu, Asmuni mengambil perumpamaan 'gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi
semut di seberang lautan kelihatan.' "Sangat ironis. Mereka lupa dan tidak
sadar kalau pemberhentian dua orang menteri itu tidak ada apa-apanya
dibanding masalah bangsa lainnya, yang sedang menimpa kita saat ini. Saya
sedih, yang diurusi dan dibesar-besarkan cuma dua orang bekas menteri,"
ungkap Asmuni Sjamsuri.

Tidak fair

Pengamat politik dari CSIS, JB Kristiadi, bisa memahami kalau mayoritas
anggota DPR tidak puas atas jawaban Gus. Namun, dia juga mengingatkan,
interpelasi yang hanya menanyakan pencopota dua menteri tetap saja tampak
tidak fair. Sebab, peristiwa pencopotan menteri terdahulu tidak menimbulkan
protes. "Interpelasi jangan diperpanjang, karena agenda politik bukan hanya
itu. Kita sedang menyongsong Sidang Tahunan MPR. Belum lagi masalah
pembangunan ekomomi rakyat. Lembaga legislatif dan eksekutif jangan lagi
gontok-gontokan, sebab buntutnya mengorbankan masyarakat," ujar. Kristiadi.

Dia menambahkan, interpelasi akan dilanjutkan dengan agenda Sidang Tahunan
MPR. Ketidakpuasan atas pelaksanaan hak interpelasi DPR jangan dijadikan
sampai menimbulkan dendam, sehingga menjadikan sidang tahunan itu sebagai
ajang pertarungan politik antarelite DPR, MPR, dan presiden sendiri. "Bila
terjadi seperti itu, para elite mengabaikan kepentingan masyarakat atau
rakyat yang saat ini merasa dihantui, cemas, dan khawatir. Bagaimana
masyarakat yang dulu hidup rukun, tiba-tiba menjadi bengis dan buas
sesamanya. Bagaimana pula ribuan bangunan hancur, korban jiwa dan
sebagainya," tambahnya. Dia mengingatkan, rasa takut dan was-was menghadapi
Sidang Tahunan MPR bulan Agustus mendatang masih menghantui masyarakat.
Bedanya, kalau saat pemilu di Orde Baru rakyat cemas dan khawatir karena
rekayasa penguasa, menghadapi Sidang Tahunan MPR Agustus mendatang, rakyat
khawatir elite politik saling gontok-gontokan. "Kita memang perlu merasa
khawatir akan terjadi pertikaian dalam berbagai bentuk, seperti perebutan
kapling di BUMN, intrik politik, serta saling tuduh," kata Kristiadi.

Kabinet Gus Dur Gagal

Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung menilai, kabinet Gus Dur gagal
membawa bangsa Indonesia ini keluar dari multikrisis. Hal itu, kata Akbar,
dibuktikan dengan terus melemahnya kehidupan di sektor ekonomi. "Kehidupan
di sektor ekonomi masih cenderung terus melemah dan belum menunjukkan
tanda-tanda akan membaik," tegas Akbar usai menutup acara Rapim Golkar IV di
Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Jumat (21/7) dini hari.
Sebetulnya, kata Akbar, pada awalnya Gus Dur telah dipilih dalam pemilu yang
demokratis dan telah memperoleh dukungan yang begitu jelas. Namun, sejak
pertama Gus Dur menjabat sebagai presiden hingga saat ini, belum ada
tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan.

"Kami belum melihat ada hal-hal yang membaik. Selain di bidang ekonomi, law
enforcement juga masih rendah dan belum bisa berjalan efektif," ungkap
Akbar, seperti dikutip Detik.Com. Menurut Akbar, selama ini harapan Golkar
terhadap pemerintahan Gus Dur begitu besar untuk menyelamatkan bangsa
Indonesia ini dari keterpurukan. "Pemerintahan Gus Dur itu punya alasan yang
kuat untuk mengeluarkan bangsa ini dari krisis," jelasnya lagi. Mengenai 11
pernyataan politik hasil Rapim Golkar IV, yang telah dibacakan dalam acara
penutupan, Akbar mengatakan hal itu akan dijadikan pegangan bagi para
anggota Partai Golkar yang duduk di MPR. "Pernyataan tersebut akan ditindak
lanjuti pimpinan fraksi di MPR," tegasnya.

Saat disinggung apakah dirinya dianggap telah merusak kesepakatan 11 fraksi
MPR, Akbar menjelaskan, Golkar sebagai salah satu partai politik di
Indonesia ingin menggunakan fungsi mereka sebaik-baiknya. Yaitu, dengan
memberikan pendidikan poltik bagi masyarakat dan juga sebagai pengawas.
"Tapi, kalau orang menafsirkan lebih dari itu, silakan saja," kilah
Akbar.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Jul 2000 jam 04:37:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke