----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

JAWABAN INTERPELASI GUS DUR

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota DPR yang terhormat;

Para undangan dan hadirin yang terhormat;

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dengan kerelaan hati, bahkan dengan senang hati, saya datang aya datang ke
depan sidang Dewan yang terhormat ini memenuhi permintaan DPR untuk
menyampaikan keterangan yang diminta, melalui surat Ketua DPR tanggal 3 Juli
2000, yang saya terima pada tanggal 5 Juli 2000.

Sebelumnya, saya meminta maaf dan pengertian Dewan yang terhormat, bahwa
saya baru dapat memenuhi undangan tersebut pada hari ini, dan bukan pada
hari yang diharapkan yaitu pada tanggal 13 Juli, satu minggu yang lalu.

Sebabnya tidak lain karena jadwal kegiatan saya yang telah disusun memang
lebih memungkinkan untuk memenuhinya dengan lebih baik pada waktu ini,
sebagaimana secara informal telah saya sampaikan langsung kepada yang
terhormat Ketua DPR beberapa waktu yang lampau.

Saya berterima kasih atas kesediaan dan pengertian yang diberikan oleh Dewan
yang terhormat dalam menerima perubahan itu, yang bagi saya merupakan
petunjuk dari adanya semangat persaudaraan yang saling menghargai antara
Dewan yang terhormat dengan Pemerintah.

Semangat ini hendaknya kita pelihara bersama, karena amat dibutuhkan dalam
suasana pancaroba yang sulit sekarang ini; dan sesungguhnya dengan semangat
ini pula saya ingin memberikan keterangan yang diminta oleh Dewan yang
terhormat pada kesempatan ini.

Saya percaya, bahwa Dewan akan sepenuhnya sependapat dengan saya, bahwa
hanya dengan semangat inilah dapat dihapuskan ketegangan, ataupun sekadar
kesan adanya ketegangan, yang sama sekali tidak perlu terjadi diantara Dewan
dan Pemerintah.

Sehingga selanjutnya dapat memberi keterangan bagi masyarakat yang sangat
membutuhkan pegangan dan kepastian di saat ini. Dalam demokrasi yang sedang
ditumbuhkan, kebebasan hanya bisa bermakna penggunaannya manakala kestabilan
politik tetap terjaga dan menyertainya.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan para Anggota Dewan yang terhormat,

Yang membuat kita bertemu dalam kesempatan ini ialah adanya pertanyaan dari
Dewan, yang menjadikan Pemerintah perlu menjawab, yang didasarkan atas hak
untuk meminta keterangan dari Dewan kepada Presiden atau Pemerintah,
sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 4 Tahun 1999, tentang Susunan dan
Kedudukan MPR dan DPR.

Tidak perlu disangkal, terlepas dari tepat atau tidaknya, bahwa di tengah
masyarakat umum sekarang perihal meminta keterangan oleh Dewan ini lebih
sering disebut sebagai "interpelasi". Memang dalam UU bukan istilah
interpelasi yang dipakai, tetapi yang dimaksud dengan "hak meminta
keterangan" sebetulnya serupa dengan apa yang secara umum dimaksud sebagai
interpelasi.

Dan, seperti kita maklumi bersama, hak interpelasi lazimnya dikenal sebagai
suatu unsur dari hubungan Pemerintah dan DPR dalam sistem pemerintahan
parlementer. Dalam sistem ini, singkat kata, Pemerintah bertanggung jawab
kepada Parlemen atau DPR.

Maka, sebelum kita meneruskan, tanpa ingin mengingkari hak Dewan yang
terhormat untuk menggunakan hak untuk meminta keterangan, dan tanpa ingin
menghindar dari memberi keterangan yang diminta sekarang -- dengan izin dari
Dewan yang terhormat - rasanya terlebih dulu kita coba letakkan hal ihwal
meminta keterangan atau interpelasi ini dalam perspektif konstitusi kita
sendiri.

Maksudnya, agar dalam menyelenggarakan demokrasi yang masih muda ini, kita
tidak tak kehilangan orientasi, atau keluar dari proporsi yang wajar.

Apabila dalam kesempatan ini saya mengambil prakarsa untuk menyertakan
catatan penjelasan, itu bukan berarti saya menganggap Dewan yang terhormat
tidak mengetahui seluk-beluk masalahnya.

Tetapi tak ada salahnya mengulangi, sekadar untuk menyegarkan ingatan kita
bersama, dan mengkajinya bersama, karena kita semua masih canggung dan perlu
selalu berlatih menjalankan sistem Pemerintahan dan suasana bebas, yang baru
kita peroleh kurang dari setahun itu.

Pertama-tama, harap dicatat, bahwa "hak meminta keterangan pada Presiden",
demikian juga dengan "hak mengadakan penyelidikan" yang dipunyai Dewan,
dapat ditemukan dalam UU, dalam hal ini yaitu UU Nomor 4 Tahun 1999 pasal
33.

Setelah itu mengenai kedua hak ini - yang satu sering disebut sebagai hak
interpelasi, dan yang satu lagi sebagai hak angket - juga diatur dalam
Peraturan Tata Tertib DPR-RI.

Mudah dilihat, bahwa adanya hak meminta keterangan yang terdapat dalam
Peraturan Tata Tertib DPR itu mempunyai dasar hukum berupa UU Nomor 4 Tahun
1999 tersebut.

Pertanyaannya, "hak meminta keterangan pada Presiden" dalam UU itu sendiri,
apa yang jadi dasar hukumnya? Di mana bisa dicari sumber hukumnya?

Biasanya, dasar hukum suatu peraturan bisa dicari dalam peraturan atau UU
yang lebih tinggi. Dengan demikian, dasar hukum dari isi UU mengani "hak
meminta keterangan" haruslah dicari dan ditemukan sumbernya dalam UU yang
lebih tinggi derajatnya, yaitu dalam UUD.

Dan memang suatu hak, atau wewenang, atau kekuasaan dari sebuah lembaga
tinggi negara seharusnya diatur di tingkat konstitusi atau UUD. Bukan cuma
dalam UU biasa.

Sayangnya, dalam UUD 1945 tidak dapat kita temui rumusan hak DPR yang bisa
jadi dasar hukum bagi "hak meminta keterangan pada Presiden" maupun bagi
"hak mengadakan penyelidikan". Tidak ada, dan memang tidak diadakan hak
interpelasi maupun hak angket di dalam UUD 1945 yang masih berlaku itu.

Tidak bisa ditemukan, baik dalam pasal-pasalnya maupun dalam penjelasannya.
Apakah tidak adanya itu karena UUD 1945 itu singkat dan sederhana, sehingga
terlupakan waktu membuatnya, ataukah memang sengaja hak itu tidak diadakan
dalam konstitusi tersebut?

Jawabnya ialah : hak DPR semacam itu memang sengaja tidak dicantumkan dalam
UUD 1945. Alasannya sederhana, yaitu karena sistem pemerintahan yang dianut
dalam konstitusi itu ialah sistem pemerintahan presidensial. Presiden,
menurut UUD 1945, tidak bertanggung jawab kepada DPR.

Dengan demikian, segala hak atau kekuasaan yang merupakan unsur
pertanggungjawaban Pemerintah pada DPR tidak dimasukkan dalam UUD 1945.
Begitulah, maka dalam UUD 1945 hak interpelasi atau hak meminta keterangan
tidak tercantum sebagai hak DPR, sedangkan hak-hak lainnya memang diadakan
untuk DPR, seperti hak anggaran dan hak inisiatif untuk merancang UU.

Konsekuensi sistem pemerintahan presidensial ini memang disadari penuh oleh
para perancang UUD 1945 dahulu. Dan kesadaran itu sebenarnya tetap ada
sampai sekarang. Hal ini ditunjukkan dari kenyataan, bahwa sekalipun sudah
mengalami amandemen, UUD 1945 tetap tidak memuat tambahan pasal tentang
interpelasi.

Ketika tahun lalu MPR membuat amandemen atau Perubahan Pertama pada UUD
1945, dan mengubah beberapa pasal mengenai kedudukan dan wewenang DPR, namun
perihal hak interpelasi maupun hak angket tetap tidak dicantumkan di
dalamnya. Artinya, konsistensi sistematik dari UUD 1945 yang bersifat
pemerintahan presidensial tetap terjaga, dan masih dikehendaki tetap
demikian.

Intinya ialah Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, sehingga Dewan
tidak perlu dilengkapi dengan instrumen konstitusional yang merupakan bagian
dari proses meminta pertanggungjawaban langsung pada Presiden.

Yang perlu kita tanyakan lebih lanjut adalah apakah benar hak DPR untuk
meminta keterangan itu merupakan sesuatu yang perlu diatur dalam UUD, dan
tidak cukup dengan UU biasa? Dengan kata lain, apakah penetapan hak DPR
semacam itu merupakan materi konstitusi?

Memang, segala sesuatu yang menyangkut lembaga-lembaga tinggi negara dan
kekuasaannya, serta hubungan kekuasaan di antara lembaga-lembaga tersebut,
harus dirumuskan, dinyatakan dan diatur dalam tingkat UUD. Ini adalah asas
ketatanegaraan yang berlaku secara umum untuk suatu negara hukum, yang telah
kita maklumi bersama.

Secara khusus, hak meminta keterangan atau hak interpelasi dan hak angket
dari DPR, juga kita ketahui sebagai sesuatu yang harus diatur dalam
konstitusi. Ada contohnya yang kita alami dalam sejarah ketatanegaraan kita
sendiri. Ketika NKRI menggunakan UUDS 1950, maka hak interpelasi, hak
bertanya dan hak menyelidiki (hak angket) secara tegas tertulis dalam
pasal-pasalnya yang mengenai DPR (pasal 69 dan 70).

Contoh ini mengukuhkan prinsip bahwa apabila hak-hak tersebut diperlukan
dalam sistem pemerintahnnya, maka hal itu haruslah dicantumkan dalam
konstitusinya. Secara terbalik mudah disimpulkan, apabila hal tersebut tidak
dicantumkan dalam konstitusi, maka itu berarti sistem pemerintahannya tidak
memerlukannya.

Sebagaimana kita ketahui, dalam UUDS 1950 yang berlaku ialah sistem
pemerintahan parlementer. Pemerintah, dalam hal ini kabinet (dewan menteri)
bertanggung jawab kepada DPR, dan bisa dijatuhkan oleh DPR tersebut.
Sedangkan dalam sistem pemerintahan menurut UUD 1945, sebagaimana disebutkan
tadi, Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.

Negara hukum demokratis selalu menggunakan asas perimbangan dalam pembagian
kekuasaannya. Dalam sistem pemerintahan parlementer, kekuasaan DPR untuk
minta pertanggungjawaban dan bisa menjatuhkan pemerintah, diimbangi dengan
hak Presiden untuk boleh membubarkan parlemen.

Sedangkan apabila pemerintah tidak harus bertanggung jawab kepada DPR,
seperti dalam sistem UUD 1945, Presiden pun tidak berhak untuk membubarkan
parlemen. Demikianlah keseimbangan dijaga, sebagai salah satu bentuk check
and balances, demi mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Maka akan timpanglah sebuah sistem, yang di satu pihak memberi hak
interpelasi dan hak angket pada parlemen, tapi di sebelah lainnya tidak
memberi hak pada Presiden untuk membubarkan parlemen bila perlu. Atau, bila
itu yang terjadi, maka itu tak bisa dinamakan sebagai sistem. Bukan sistem
parlementer, dan juga bukan sistem presidensial namanya.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan yang terhormat,

Telah menjadi kenyataan, yang harus kita terima bersama, bahwa hak meminta
keterangan pada Presiden atau hak interpelasi itu telah tercantum bukan
dalam UUD 1945, melainkan dalam sebuah UU biasa, yaitu UU Nomor 4 Tahun 1999
tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Apakah ini berarti bahwa hak DPR untuk meminta keterangan kepada Presiden
berdasarkan UU itu bertentangan dengan UUD, ataukah sekadar tidak sesuai
dengan UUD?

Kalau dianggap bahwa soal hak interpelasi itu "tidak ada" dalam UUD tanpa
diperiksa lagi sebabnya, maka boleh dikatakan bahwa pengaturan hak
interpelasi dalam UU Nomor 4 Tahun 1999 itu sekadar tidak sesuai dengan UUD.

Tetapi kalau memang hak interpelasi itu sengaja "tidak diadakan" dalam
pembuatan UUD 1945, maka pencantuman hak tersebut dalam UU biasa bisa
digolongkan sebagai bertentangan dengan konstitusi.

Dari uraian panjang lebar sebelumnya, bisa dipastikan bahwa sesungguhnya hak
interpelasi itu sengaja dan secara sadar "tidak diadakan" dalam pembuatan
UUD 1945, karena hal itu berlawanan dengan asas sistem pemerintahan
presidensial.

Kalau begitu, kita semua bisa terjepit dalam sebuah dilema interpelasi;
kalau tidak dijalankan bisa dituduh melanggar UU Nomor 4 Tahun 1999, tapi
kalau dijalankan akan bertentangan dengan UUD 1945. Jangan-jangan Presiden
pun, ketika harus melayani hak interpelasi DPR, dapat dituduh melakukan
perbuatan yang berlawanan dengan konstitusi, atau setidak-tidaknya
menyimpang dari UUD 1945.

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan yang terhormat,

Tidak ada terkandung maksud untuk menghindar dari kepatutan untuk memberi
keterangan yang diminta oleh Dewan, jika saya menguraikan panjang lebar
perihal hak interpelasi ini dari perspektif konstitusional.

Penghargaan pada Dewan yang terhormat ini pasti akan mengharuskan saya untuk
memenuhi permintaan keterangan yang diajukan melalui surat Ketua DPR tanggal
3 Juli 2000 itu.

Tetapi memang adanya ketimpangan dari sudut pandang konstitusi mengenai hak
interpelasi ini perlu dicatat, dan dipertimbangkan dengan serius. Bukan
tidak mungkin kita akan melakukan hal yang sia-sia, bila suatu penyimpangan
kita biarkan berlanjut terus tanpa usaha meluruskannya. Suatu kekeliruan,
bila tidak segera dikoreksi, bisa menjadi preseden yang menyulitkan di
kemudian hari.

Namun saya menganggap, bahwa walau harus dipisahkan dari pertanggungjawaban,
hak meminta keterangan kepada Presiden ini adalah salah satu wujud dari
fungsi pengawasan DPR pada pemerintah, yang saya akan selalu dukung dan
hargai. Bila dilaksanakan dengan itikad baik oleh kedua pihak, adanya
kekurangtepatan di sana-sini tentu bisa disisihkan dan diatasi.

***

Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan yang terhormat,

Permintaan keterangan Dewan yang disampaikan pada saya, pada intinya ialah
mengharap klarifikasi atau kejelasan tentang alasan pemberhentian Saudara
Laksamana Sukardi dan Saudara Yusuf Kalla dari kedudukannya sebagai menteri
beberapa waktu yang lalu.

Tentu saja permintaan keterangan ini tidak mungkin dipandang sebagai bagian
dari pertanggungjawaban Presiden kepada Dewan. Karena itu jawaban yang
diberikan juga hanya menyangkut segi "apa", dan tidak akan menyinggung aspek
"mengapa" dari masalahnya.

Sebelumnya, saya mengharap bahwa interpelasi atau permintaan keterangan itu
ditujukan terhadap suatu kebijakan yang tengah berjalan, bukan mengenai
suatu keputusan yang telah selesai. Sebab, apabila keterangan yang diminta
itu mengenai sesuatu yang telah selesai, maka itu akan masuk dalam jenis
pertanyaan "mengapa", yang hakikatnya ialah permintaan pertanggungjawaban.

Para anggota Dewan yang terhormat tentu sependapat, bahwa UUD 1945 tidak
akan mengizinkan itu terjadi, karena konstitusi mengamanatkan bahwa Presiden
tidak bertanggungjawab kepada DPR.

Pemberhentian kedua menteri tersebut adalah suatu keputusan politik, yang
didasari atas beberapa pertimbangan kebijakan tertentu. Alasan dari pilihan
kebijakan itu termasuk dalam wilayah kewenangan diskresioner dari Presiden,
yang tidak mungkin diuraikan satu demi satu.

Salah satu alasan yang juga pernah dikemukakan adalah ialah demi terciptanya
kerjasama dan hubungan yang lebih serasi dalam tim ekonomi khususnya, dan
dengan kabinet pada umumnya, termasuk dengan Presiden sendiri.

Presiden memang mempunyai banyak pertimbangan, berdasarkan banyaknya masukan
yang diterima. Penilaian dari mutu keterangan yang diterima, dilakukan
dengan pertimbangan dan oleh ukuran yang ditetapkan sendiri. Dengan
demikian, kebijakan yang dihasilkan adalah sepenuhnya berdasarkan pilihan
sendiri, dan sepadan dengan risiko yang dipikul.

Keputusan politik, yang tak perlu disangkal sering berangkat dari preferensi
pembuat keputusan, bukanlah putusan pengadilan yang ke-sah-annya didasarkan
atas asas pembuktian legal. Keputusan politik tetap sah, sekalipun masukan
yang dijadikan pertimbangan masih bisa diperdebatkan mutunya, ataupun
dipertanyakan tingkat kredibilitasnya.

Dengan memohon maaf pada Dewan yang terhormat, dalam kesempatan ini saya
tidak bisa melayani permintaan klarifikasi tentang hal-hal mengenai kedua
mantan menteri tersebut, yang bahannya diambil dari pemberitaan mass media,
yang pada gilirannya bersumber dari bocoran rapat konsultasi tertutup antara
Presiden dan Pimpinan Dewan beberapa bulan yang lalu.

Sebagaimana Dewan yang terhormat lebih memahaminya, pembicaraan dalam rapat
tertutup pada dasarnya bersifat rahasia dan tidak boleh diumumkan (sesuai
Peraturan Tata Tertib DPR pasal 89).

Kalau saya menanggapi sesuatu yang seharusnya tidak terbuka di muka umum,
maka itu berarti saya ikut menambah kesalahan dari yang telah melanggar
peraturan dan etika rapat, dan lebih menyulitkan persoalannya. Dengan
meminta pengertian dari Saudara-Saudara Anggota Dewan yang terhormat, saya
memutuskan untuk tidak melakukannya.

Sekalipun begitu, saya juga harus menyatakan penyesalan saya yang dalam,
bahwa kebocoran itu sampai terjadi. Karena akibatnya telah merugikan banyak
pihak, khususnya kedua mantan menteri tersebut.

Saya sadari, untuk mengobati luka yang terjadi, tidaklah cukup dengan
sekadar mengatakan bahwa penyebab kebocoran itu bukan di pihak saya. Dari
mimbar ini, saya nyatakan penyesalan saya sekali lagi, dan mengharap bahwa
persoalan tersebut dapat selesai sampai di titik ini saja.

Demikianlah keterangan yang dapat saya sampaikan untuk memenuhi permintaan
Dewan yang terhormat. Mohon maaf atas semua kekurangan yang ada dan
ketidaksempurnaan dalam penyampaiannya ini.

Terima kasih atas perhatian dan pengertian yang Saudara-Saudara berikan,
semoga ini semua dapat membawa ketenangan yang diperlukan bagi stabilisasi
politik dan reformasi ekonomi yang sedang kita selenggarakan sekarang.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 20 Juli 2000
Presiden Republik Indonesia
Abdurrahman Wahid

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jul 2000 jam 04:46:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke