----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Tempo Interaktif, Bulan Juni 2000

Freddy Numberi:
"Papua Itu Bak Sapi Perah"
 IRIAN Jaya merdeka dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Freddy
Numberi, diminta menjadi presidennya. Apa jawab putra Irian itu? "Seharusnya
saya menjadi presiden RI," jawab putra Irian itu. Kenapa? Sumbangan devisa
Irian Jaya terbesar di antara provinsi yang lain.
Tapi itu memang baru sebuah cita-cita. Kemerdekaan Irian Jaya atau Papua
baru sebuah pernyataan yang lahir dalam Kongres Rakyat Papua baru-baru ini.
Meski demikian, pernyataan itu bukannya tanpa dasar. Freddy Numberi yang
pernah menjabat Gubernur Irian ini pun mengaku memahami cita-cita rakyat
Papua itu.
Berikut petikan wawancara Oman Sukmana dari Tempo Interaktif dengan Freddy
Numberi di Kantornya, di Jalan Sudirman, Jakarta, seputar masalah Irian Jaya
atau Papua itu.

Bagaimana Anda melihat hasil Kongres Rakyat Papua yang menuntut Papua
merdeka itu?
Saya melihat ini semua masih dalam taraf aspirasi, masih dapat dilakukan
upaya-upaya melalui dialog. Memang, aspirasi ini harus kita waspadai, karena
bisa menjadi preseden buruk bagi keutuhan wilayah kita. Saat ini kami sedang
berupaya melakukan upaya pendekatan secara persuasif melalui dialog.
Kapan dialog itu dilaksanakan?
Saya belum tahu; mungkin itu kewenangan Menteri Dalam Negeri. Tapi, melihat
situasi saat ini tentunya hal itu akan dilakukan secepat mungkin, paling
tidak sebelum tanggal 1 Desember, batas waktu yang diberikan oleh Kongres
Papua kepada pemerintah, kami sudah mengambil langkah konkret menyelesaikan
masalah Papua.
Menurut Anda apa yang melatarbelakangi adanya tuntutan merdeka ini?
Semua ini terjadi karena kebijakan yang salah dari rezim yang lalu.
Misalnya, pembangunan yang tidak menyentuh masyarakat, rakyat merasa
diperlakukan tidak adi. Pemerintah masa lalu tidak jeli melihat bahwa suatu
saat Papua ini bisa bergejolak. Nah, repotnya, hal itu terjadi sekarang,
(hingga) kabinet sekarang ini tak ubahnya pemadam kebakaran.
Tapi Anda pernah menjadi Gubernur Irian Jaya di zaman rezim yang lalu �
Ketika saya menjabat Gubenur, saya sudah menyampaikan semua kondisi dan
keadaan Papua yang sebenarnya. Permintaan bantuan yang kami ajukan ke
pemerintah pusat tidak pernah mendapat tanggapan serius. Waktu saya menjabat
Gubernur itu dana untuk pembangunan pun kami tak punya. Permintaan bantuan
sebesar Rp 50 miliar untuk menangani masalah banjir di Papua juga tidak
mendapatkan respon. Papua saat itu memang tak ubahnya sapi perah:
penghasilan yang diperoleh jauh lebih kecil daripada yang seharusnya. Tapi,
waktu itu, kami tidak sanggup melawan rezim. Maka, begitu datang reformasi,
kami di Papua begitu gembira.
Sebenarnya, apa kebutuhan rakyat Papua sekarang?
Rakyat Papua itu butuh kesejahteraan; mereka bosan terus-menerus
diperlakukan seperti sapi perah. Mereka juga sudah bosan melihat kekerasan
militer. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kesejahteraan. Misalnya,
mengupayakan agar SPP untuk SD hingga SMU di Papua dibebaskan. Saya kira
tidak banyak anggaran untuk itu, hanya Rp 20 miliar untuk Papua yang telah
memberikan sumbangan devisa yang besar bagi bangsa ini. Juga pengangkatan
guru yang saat ini jumlahnya masih kurang, dan memberi kesempatan kepada
guru yang sudah ada untuk menjadi pegawai negeri. Lalu, membuka pendidikan
kedokteran, karena jumlah dokter di Papua masih kurang. Dulu, di zaman Bung
Karno, dekat setelah Irian kembali ke pangkuan ibu pertiwi, lebih dari 2.000
putra daerah disekolahkan ke luar negeri, meski kondisi bangsa masih sulit,
Setelah itu, putra daerah Irian tidak lagi diperhatikan oleh pemerintah. Ini
yang membuat mereka sakit hati.
Berapa devisa yang dihasilkan oleh Papua?
Papua itu dalam setahun bisa menghasilkan devisa Rp 10 triliun. Sebenarnya
wajar kalau paling tidak 40% atau Rp 4 triliun dari hasil itu dikembalikan
kepada Papua untuk kesejahteraan rakyat. Sekarang, alokasi dana untuk Papua
hanya Rp 1,2 triliun, dan ketika saya menjabat Gubernur dana yang saya
peroleh cuma Rp 650 miliar. Dengan dana sebesar itu, praktis, kami tidak
dapat membangun.
Bagaimana tentang statemen yang menyatakan bahwa Papua bukan bagian RI, dan
sudah merdeka sejak lepas dari penjajahan Hindia Belanda tahun 1962?
Kalau itu sekadar statemen, boleh-boleh saja. Namun kalau kita mau
meluruskan sejarah, Irian yang dulu bernama New West Guinea itu berbeda
dengan Timor Leste. Irian itu sudah sejak dulu bagian dari RI. Bahkan dalam
dokumen Belanda, jelas disebutkan bahwa New West Guinea adalah bagian dari
karesidenan Maluku. Kita tahu, Maluku itu bagian dari Indonesia. Jadi kalau
kita mau melihat sejarah jangan sepotong-sepotong-- harus dilihat secara
utuh perjalanan panjang dari Irian tersebut.
Apakah Anda melihat Kongres Rakyat Papua ini suatu rekayasa politik untuk
mengguncang pemerintahan saat ini?
Oh, tidak, ini murni aspirasi saja.
Kabarnya putra daerah Irian di Jakarta terlibat, diduga memprovokasi gerakan
massa tersebut �
Bisa saja. Mereka memang tidak puas, melihat potensi daerah begitu besar
namun ditelantarkan. Jadi mereka berpikir, untuk apa kita bergabung kalau
hanya untuk telantar? Mengapa tidak merdeka saja? Jadi, sebenarnya aspirasi
meminta merdeka itu belum final. Yang final, bagaimana memberdayakan hidup
mereka secara hakiki, sehingga mereka bisa mendapatkan kesejahteraan hidup.
Mungkinkah ada campur tangan rezim lalu, mereka ingin mengacaukan
pemerintahan saat ini dengan memanfaatkan Papua?
Bisa saja, tapi saya belum punya bukti tentang hal itu.
Kongres Papua juga menolak hasil penentuan pendapat rakyat (Pepera) tahun
1969 yang menyebabkan Irian (Barat) bergabung dengan Indonesia. Hasil Pepera
dianggap tidak sesuai dengan aspirasi rakyat: usul one man one vote diubah
menjadi one delegation one vote. Padahal, yang hadir kan delegasi RI (bukan
delegasi Irian), hingga wajar jika RI menang �
Itu kan komentar generasi saat ini. Kalau saya melihat, dulu, bergabungnya
rakyat Irian itu murni aspirasi rakyat. Ketika itu rakyat memang ingin
segera bergabung dengan Indonesia setelah sekian lama dijajah Belanda. Dan
sepanjang pengamatan saya, mereka masih cinta Indonesia. Pada pembukaan
Kongres pun mereka masih menyanyikan Indonesia Raya. Masalahnya, bagaimana
Pemerintah membalas cinta mereka kepada negeri ini.
Kalau keinginan dialog ditolak, apa masalah ini akan diselesaikan lewat PBB
seperti halnya Timor Leste?
Saya kira tidak. Rakyat Papua itu akan menyambut baik selama kita bisa
mengerti keinginan mereka. Lagi pula dunia international mendukung langkah
Pemerintah mempertahankan Papua tetap dalam negera kesatuian RI. Saya Cuma
ingin mengimbau agar jangan sampai ada tindakan yang merugikan masyarakat.
Andai Anda dicalonkan menjadi presiden Papua?
Saya ini seharusnya menjadi presiden Republik Indonesia, bukan cuma Papua.
Itu kalau kita hitung-hitungan berdasarkan devisa Papua yang disumbangkan
kepada negara --provinsi mana yang sumbangannya lebih besar? Jadi seharusnya
rakyat Papua punya kesempatan untuk jadi presiden RI.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jul 2000 jam 12:00:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke