----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

ELS-Ham Minta Intervensi Internasional Masuk ke Papua

Jayapura, Lembaga Studi dan Pengkajian Hak Asasi Manusia (ELS-HAM)
masyarakat Papua minta intervenasi internasional, khususnya PBB ke propinsi
tertimur ini guna menghindari gejolak seperti di Ambon, karena elite politik
mengabaikan situasi yang sedang berkembang saat ini.

Supervisor ELS-HAM Papua, Drs John Rumbiak yang didampingi Sekretarisnya,
Drs Aloysius Renwarin kepada wartawan di Jayapura, Rabu menilai, kondisi
politik dan keamanan di Indonesia, khususnya Papua saat ini tidak menentu.

Hal ini terlihat ketika munculnya aspirasi merdeka rakyat Papua dimana
penduduk di propinsi tertimur ini dengan leluasa melakukan apa saja yang
diinginkan.
Sementara aparat keamanan dari TNI dan Polri membiarkan aksi yang dimainkan
masyarakat itu. Bahkan aparat keamanan diduga keras ikut bermain dibalik
layar, karena sengaja membiarkan aksi kriminal terus terjadi dimana-mana.

"Aparat keamanan terutama Polri secara terang-terangan tidak mau menangani
berbagai persoalan, apalagi langkah yang diambil aparat tidak melalui
prosedur hukum dan tindakan tersebut sengaja diciptakan untuk membuat
konflik seperti yang terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Aceh," katanya.

Rumbiak mengakui, pecahnya kerusuhan di Ambon dan Maluku Utara merupakan
permainan elite politik dan keamanan sehingga perlu intervensi internasional
masuk ke Papua (Papua) guna menghindari pecahnya konflik di daerah ini.
Dia juga melihat, elite politik Papua seperti Presidium Dewan Papua lamban
mengambil langkah-langkah ke depan sehingga tidak mengimbangi lajunya arus
bawah (rakyat) yang menuntut aspirasi "merdeka".
"Tuntutan aspirasi Merdeka, baik ditingkat pusat maupun daerah agak deadlok
sehingga membuka peluang bagi aparat keamanan memainkan peranannya seperti
yang terjadi di Ambon, Maluku dan Poso,"katanya.

ELS-HAM menilai, pola pendekatan kasih sayang yang digulirkan Kapolda SY
Wenas bertolak belakang dengan praktek di lapangan, karena aparat kepolisian
dalam mengambil langkah-langkah pengamanan tidak mengikuti prosedur hukum
yang berlaku.

Misalnya, kata Rumbiak dan Renwarin, kasus pembakaran Pasar Sentani 8 Juli
lalu dimana aparat Polres Jayapura mengambil secara paksa empat tersangka
yang secara nyata-nyata adalah keluarga dekat korban Nikanor Pulalo yang
ditikam mati di kompleks Wanita Tuna Susila (WTS) Tanjung Elmo, sekitar 30
Km arah barat Jayapura.

Selain itu, aparat kepolisian juga menembak Yimy Sokoy di dalam kendaraan
ketika dalam perjalanan menuju RSUD Dok II Jayapura, tetapiaparat kepolisian
memberikan alasan korban melarikan diri.
Korban setelah dioperasi guna mengeluarkan peluru dalam tulang pahanya,
sementara salah satu tangan korban masih di borgol di tempat tidur.

Dikatakan, aparat juga membiarkan perjudian dan minuman keras merajalela di
pusat-pusat kota di Papua, padahal permainan itu melawan hukum.

"Ini seolah-olah suatu strategi yang dibuat aparat keamanan untuk
menciptakan pecahnya konflik di Papua," kata Renwarin.
Oleh karena itu, para pemerhati masalah kemanusiaan yang tergabung dalam
ELS-HAM Papua minta pihak asing melakukan intervensi internasional ke Papua
guna menghindari konflik yang bakal terjadi propinsi yang hanya berpenduduk
dua juta orang.(ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Aug 2000 jam 04:28:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke