---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Suara Pembaruan, Selasa,1-8-2000 Masyarakat Papua Akhirnya Menerima Pengungsi Ambon Jayapura, 1 Agustus Akhirnya sekitar 600 pengungsi asal Ambon yang menggunakan KMP (Kapal Motor Penumpang) Dobonsolo diturunkan di Dermaga Pelabuhan Jayapura, Selasa (1/8) siang. Sebelum diturunkan diawali dengan ibadah bersama dipimpin Pdt Herman Awom yang diikuti oleh seluruh pengungsi di atas kapal serta dihadiri Wagub Irja Abraham Atururi, para Muspida Tk II Kota Jayapura, tokoh-tokoh masyarakat Jayapura dan tokoh masyarakat Maluku yang ada di Jayapura. Seusai ibadah syukuran, Hengki Hattu yang mewakili para pengungsi dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kesediaan masyarakat Papua, khususnya masyarakat Kota Jayapura yang telah bersedia menerima para pengungsi yang datang dari Ambon, yang mencari perlindungan dan kedamaian di tanah Papua. "Kami datang di Jayapura untuk mencari perlindungan setelah daerah kami saat ini masih porak-poranda. Kami tidak ingin Ambon-Ambon lain terjadi di tempat lain, termasuk di Jayapura dan tempat lain di tanah Papua," kata dia. "Kami turun dari kapal minta dijemput dan dikawal oleh satgas Papua dari kapal sampai di tempat tujuan. Kami tidak ingin dikawal aparat keamanan karena kami ingin bersama-sama warga masyarakat Papua. Kami ingin setelah menginjakkan kaki di tanah Papua, melakukan ibadah secara khusus. Untuk itu, kami sampaikan terima kasih kepada warga masyarakat Papua. Begitu juga kepada warga masyarakat Maluku yang berada di Papua kami ucapkan terima kasih atas penerimaan saudara-saudara para pengungsi dari Ambon" ujarnya. Dikatakan, sampai saat ini ia belum mengetahui nasib akhir, para pengungsi yang sempat turun di Sorong, Manokwari dan Biak dari kapal ini sebelum sampai di tujuan Pelabuhan Jayapura. Ada yang anaknya masih tertinggal di Sorong, ada juga istri yang tertinggal di pelabuhan lain, demikian juga istri yang belum ketemu para suami. Dalam situasi demikian mereka menjadi terpisah-pisah. Untuk itu, mohon keadaan mereka difasilitasi oleh pemerintah daerah. Pdt Herman Awom dalam sambutannya selaku wakil Ketua Sinode GKI Papua mengatakan, "Saudara-saudara yang datang ini tidak kami sebut sebagai pengungsi, tetapi adalah saudara-saudara kami yang mencari perlindungan keamanan, ketertiban dan tempat berteduh. Silahkan saudara-saudara menyesuaikan diri dan bergabung dengan dengan masyarakat setempat. Demikian juga dapat menghubungi tempat-tempat ibadah untuk mencari ketenangan dan keteduhan." Keputusan Kemanusiaan Sementara itu Wagub Abraham Atururi mengatakan, semula Pemda Irja memang menolak kedatangan para pengungsi dari Ambon karena ada kekhawatiran mereka disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab sehingga menimbulkan konflik baru di tanah Papua yang selama ini dirasakan tenang dan situasinya kondusif. Selanjutnya para pengungsi yang turun, yang memiliki keluarga di Jayapura dapat ditampung keluarganya, sementara yang tidak memiliki keluarga atas kesediaan warga masyarakat setempat akan ditampung di rumah-rumah mereka atau di tempat ibadah. Menurut Wagub, hari ini juga proses penurunan dan penempatan para pengungsi harus sudah tuntas. Keputusan kemanusiaan tersebut telah diambil dan disepakati bersama oleh pemerintah daerah bersama pihaknya dan komponen-komponen yang ada di tanah Papua dalam rapat yang dipimpin oleh Gubernur Musiran Darmosuwito yang dihadiri Pangdam Mayjen Albert Inkiriwang, Kapolda Brigjen Pol SY Wenas dan Lantamal V Laksamana Pertama TNI Franklin Kayhatu Senin (31/7) malam. Sementara itu Kapolda Irian Jaya Brigjen Pol SJ Wenas ketika ditanya Pembaruan melalui telepon dari Jakarta ke Jayapura Selasa (1/8) pagi mengatakan, para pengungsi asal Ambon tujuan Jayapura segera ditampung dalam suatu tempat tertentu. Menurut Wenas yang pernah menjabat sebagai Komandan Korps Brimob Mabes Polri, situasi Irian Jaya saat ini dalam keadaan tenang setelah masyarakat menerima para pengungsi dari Ambon dalam suatu kebaktian khusus. '' Situasi keamanan di Irian Jaya khususnya Jayapura sampai Selasa siang dalam keadaan aman dan tentram,''ujarnya. Kepala Biro Humas Pemda Maluku Saimima Selasa (1/8) pagi melalui telepon kepada Pembaruan, mewakili Gubernur Maluku, Saleh Latuconsina, mengucapkan terima kasih kepada Pemda Irian Jaya yang telah menerima ribuan pengungsi dari Ambon di daerah itu. Pengungsi Ambon yang sempat ditolak oleh masyarakat Jayapura, akhirnya diterima dan telah diturunkan dari atas KMP Dobonsolo pada Selasa pagi. Menyinggung persediaan pangan pengungsi Ambon yang mulai menipis, Saimima mengatakan, bila kemampuan Pemda Irian Jaya terbatas, Pemda Maluku akan berupaya mengirim bantuan berupa pangan ke sana. Namun demikian, yang lebih penting diharapkan mereka lebih aman di Irian Jaya, ujarnya. Perhatian Sementara itu di Jakarta Senin (31/7) malam, anggota DPR-RI Asal Daerah Pemilihan Irian Jaya, Tonny Rahail kepada Pembaruan menyampaikan permintaan masyarakat Papua kepada pemerintah pusat dalam hal ini Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) segera mengirim utusan untuk menyelesaikan masalah pengungsi asal Maluku tersebut. Selain itu, pemerintah pusat dan sesama warga negara hendaknya menunjukkan rasa solidaritas dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan kepada pengungsi dengan menggunakan pesawat terbang Hercules milik TNI AU. Tonny Rahail telah melakukan komunikasi pertelepon ke Jayapura dengan sejumlah tokoh masyarakat, tokoh gereja, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan Pemda Daerah Tingkat I Irian Jaya, hari Senin (31/7) petang berkaitan dengan masalah pengungsi tersebut. Pemerintah pusat, menurut Rahail, harus segera mengirim utusan untuk melihat apa yang terjadi di sana. Kita minta untuk utusan yang dikirim adalah menteri yang terkait dan Panglima TNI untuk melihat aspek keamanan. Pemerintah pusat harus menyelesaikan semua persoalan pengungsi di berbagai daerah antara lain di Aceh, Kalbar, NTT, Sulut, Sulteng, Maluku dan Irja. Jangan diserahkan kepada pemerintah daerah, karena pemda tidak mempunyai dana yang cukup untuk membantu pengungsi tersebut. Di Sulut Tertutup Sementara itu, DPRD Tingkat I Sulut mendukung keinginan Wakil Gubernur Sulut, Freddy Sualang bahwa daerah ini tertutup bagi pengungsi baru. Karena jumlah pengungsi membengkak sekitar 31.000 jiwa. Kondisi Sulut tidak memadai/tidak mampu lagi menerima pengungsi baru karena tidak ada lagi dana dan lokasi penampungan pun habis. "Karena itu, kami menolak bila ada pengungsi baru yang akan masuk. Sebab berdasarkan fakta di lapangan, kehidupan pengungsi semakin memprihatinkan menyusul kehabisan bantuan dari pemerintah pusat." "Hal ini juga untuk menjaga agar Sulut terhindar dari kemungkinan memanasnya kondisi sosial politik, akibat membengkaknya pengungsi, dan terjadinya kecemburuan masyarakat," ujar Ketua DPRD Sulut, Drs Syarial Damapolii MBA, dan Wakil Ketua DPRD, Saul Yakobus Pantouw, kepada wartawan di kantornya, Senin (31/7). Sebagai wakil rakyat mereka khawatir kalau pengungsi membengkak, maka kemungkinan timbulnya implikasi negatif itu bisa terjadi. Hal ini tentunya membahayakan bagi masyarakat Sulut, karena tidak ada dana dan lahan. Pantouw menambahkan, kalau memang ada keinginan Pemda Sulut menerima pengungsi maka pemerintah pusat harus memberikan tambahan bantuan. "Jangan membiarkan pemda menanggung beban pengungsi. Ini kan tidak masuk akal, karena pemerintah pusat tidak bisa atasi kerusuhan, di Maluku dan Ambon, banyak rakyat yang mengungsi, dan bebannya diberikan kepada Pemda Sulut." "Ini tidak benar, karena itu kami minta harus ada tambahan dana untuk 31.000 pengungsi, dan menolak pengungsi baru," tandas Pantouw. Wakil Gubernur Sulut, Freddy Sualang, kepada Pembaruan secara terpisah, Senin (31/7), mengatakan, pemda menolak pengungsi baru, karena tidak mampu menangani yang sudah ada. (VL/136/119/U-2/W-8/H-11/069/139) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Aug 2000 jam 04:29:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
