----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Jakarta - 02 Aug 00 07:00 WIB (Astaga.com)

Agar DPR benar-benar menjalankan fungsi kontrolnya berdasarkan kepentingan
rakyat, maka Lembaga pengontrol pemerintah itu harus terus diawasi seluruh
rakyat Indonesia. Benar, bahwa selama lebih dari tiga dasawarsa kita hidup
di bawah pemerintahan yang totaliter. Pengalaman itu telah membuat kita
kapok dan sensitif terhadap praktik-praktik pemerintahan yang tidak memiliki
akuntabilitas. Sensitivitas inilah yang kemudian membuat kita lalai untuk
menyoroti kinerja DPR, padahal lembaga tersebut sekarang ini telah menjadi
sarang kekuatan-kekuatan lama.

Demikian diungkapkan ketua PBHI Hendardi, ketika menjadi pembicara dalam
seminar bertajuk "Evaluasi Transisi Demokrasi: Bidang Politik", yang
diselenggarakan The Jakarta Democracy Watch (DEWA), di Jakarta, Selasa
(1/8).

Menurut Hendardi, memiliki sebuah parlemen yang ompong sama bahayanya dengan
memiliki pemerintah yang mudah dijatuhkan. Dalam dua hal itu, lanjutnya,
pihak yang terus dirugikan adalah rakyat. Pemerintah totaliter akan membuat
parlemen hidup di bawah ketiaknya dan membuat rakyat kehilangan kebebasan.
Sebaliknya, pemerintahan yang sangat mudah dijatuhkan parlemen akan membuat
rakyat tak bisa menghargai kebebasan.

Lebih jauh Hendardi mengungkapkan, mengontrol pemerintah tidak sama dengan
menjatuhkan presiden. Ukuran keberhasilan kontrol parlemen adalah perbaikan
kualitas demokrasi, bukan jatuhnya suatu pemerintahan karena hal itu justru
bisa mengancam kelangsungan proses demokratisasi.

Di sini, lanjutnya, rujukan yang harus dipakai dalam melakukan fungsi
kontrol adalah konstitusi. "Ethics of parliamentarism, yang menurut saya
belum dipahami anggota DPR, justru bersumber pada konstitusi dan bertujuan
meningkatkan kualitas demokrasi itu," ujar Hendardi.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Aug 2000 jam 09:48:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke