----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

               ADIL, PEMBUBARAN PARTAI GOLKAR
 (RE - Usulan pembubaran Partai Golkar di Muktamar PKB 2000)

                   Oleh M.D.Kartaprawira*)

Sudah tidak dapat didebat lagi bahwa Golkar (Partai Golkar) adalah tiang
penyangga kekuasaan Orde Baru, yang otoriter, diktatorial, yang membawa
Indonesia ke jurang malapetaka. Meskipun sekarang ini partai tersebut
sudah berusaha menunjukkan mengadakan perubahan-perubahan sesuai
tuntutan reformasi, identitet sebagai Partai Kekuasaan Rezim Orde Baru
tidak begitu mudah dihilangkan dari mata rakyat Indonesia. Tentu hal itu
harus dimengerti oleh Partai Golkar, Elitenya dan massanya. Dengan
demikian kalau sampai sekarang ini masih juga santer orang atau golongan
mengutuk dan mengumpatnya juga harus bisa dimgerti. Hal itu bukan saja
karena sejarahnya yang begitu hitam lebam, tapi juga sampai sekarang ini
tokoh-tokoh Orba masih duduk di partai tersebut. Yang berubah hanya
vokalnya saja yang diselaraskan dengan irama musik reformasi.

Munculnya usulan dalam Muktamar PKB (2000) di Surabaya baru-baru ini
agar Partai Golkar dibubarkan, dapat diperkirakan tidak lepas dari
pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas. Tapi usulan tersebut
dibatalkan, sehingga tidak menjadi rekomendasi muktamar, sebab dinilai
sebagai usulan yang emosional.

Sesungguhnya kalau kita mau adil, Golkar sebagai partai kekuasaan Orde
Baru harus dibubarkan. Secara moral partai tersebut harus sudah tidak
punya hak eksistensi lagi dalam era reformasi, karena dosanya yang tidak
lepas dari kesatuan dosa kekuasaan rezim orde baru. Kalau gerakan
reformasi dewasa ini menuntut dilenyapkannya sistim Orde Baru dan
"sisa-sisa" kekuatannya dari bumi kehidupan politik dan sosial di
Indonesia, maka tidaklah salah kalau Golkar dituntut pembubarannya,
bagaimanapun vokalnya yang "reformatif" dewasa ini. Jadi Partai ini
harus dibubarkan. Tentu mereka akan berteriak: bertentangan dengan
demokrasi. Tapi kalau pembubarannya melalui prosedur hukum, teriakan
tersebut akan terdengar sumbang dan sia-sia.

Ada 2 momentum yang terlengahkan oleh kekuatan reformasi dalam
konfrontasi dengan kekuatan status quo (Orba).
Pertama: ketika Suharto dilengserkan oleh gerakan mahasiswa, seharusnya
terus dilajutkan dengan tuntutan pembubaran Partai Golkar, yang identik
dengan Partai Orba. Partai Golkar adalah satu sendi dari sistim Orba.
Dengan demikian jika Orba harus dilenyapkan tidak boleh ketinggalan juga
partainya - Golkar.
Kedua: Menjelang pemilu 1999, partai Golkar di mana-mana dilabrak oleh
massa. Situasi ini seharusnya bisa dijadikan acuan bagi kekuatan
reformasi untuk menuntut realisi aspirasi bawah yang menghendaki
pembubaran Partai Golkar, sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk
mengkonsolidasi diri untuk maju ke dalam pemilu.
Sayang sekali dua momentum tersebut tak dimanfaatkan oleh kekuatan
reformasi.

Kalau kekuasaan Orde Baru harus digempur, mengapa tiang-tiang
penyangganya tidak digempur (a.l. Partai Golkar)? Tanpa tiang penyangga
tersebut tidak mungkin kekuasaan diktator Orde Baru bisa berkuasa sampai
32 tahun. Sejarah telah mencatat bahwa melalui mayoritas Golkar di dalam
MPR/DPR, kekuasaan Orde Baru terus dengan leluasa melampiaskan tiraninya
terhadap rakyat Indonesia, hukum dan HAM.

Adalah tidak adil kalau suatu lembaga/partai yang berandil besar dalam
penegakan pemerintahan tirani yang menjerumuskan negara dan bangsa ke
dalam kesengsaraan tidak mendapat "hukuman" yang setimpal. Mungkin
phrase ini dipandang emosional, tapi sesungguhnya suatu suara tuntutan
keadilan yang rasional. Kalau hanya masalah pembubaran partai,
sesungguhnya hanya suatu hal ringan, dalam arti belum setimpal dengan
akibat kegiatannya yang mencelakakan rakyat dan negara. Bahkan secara
resmi partai Golkar belum menyatakan permintaan ma�af terhadap
tindakan-tindakannya selama menjadi penyangga kekuasaan Orde Baru.
Hal ini berdasarkan moral politik sangat tidak dapat dibenarkan.

Kalau kita mengkaji balik sejarah di tahun-tahun pra Orde Baru,
pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia disebabkan
karena tokoh-tokohnya (Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap,
Soemitro Djojohadikusumo d.l.l.) tersangkut dalam pemberontakan
PRRI-Permesta, di mana partai-partai tersebut tidak mengutuknya. Lepas
dari benar tidaknya kebijakan pemerintah Soekarno, "dosa" tokoh-tokoh
tersebut beserta partai-partainya relatif kecil dibandingkan dengan dosa
Partai Golkar dan tokoh-tokohnya. Sebab partai Golkar bersama-sama para
tokohnya dengan sadar menjadi alat rezim  tirani Orde Baru yang memusuhi
rakyat, menginjak-injak demokrasi, hukum dan HAM, menjarah kekayaan
rakyat Indonesia (Aceh, Riau, Kalimantan, Irian Jaya dll), menjerumuskan
negara dan bangsa Indonesia dalam jeratan hutang yang tak ada
tanda-tanda bisa melunasinya, menjerumuskan negara dan bangsa Indonesia
dalam multikrisis dll, dsb.

Dewasa ini sangat nyaring terdengar adanya imbauan rekonsiliasi. Ini
suatu hal yang indah, suatu wacana untuk membangun kedamaian dan
perdamaian kehidupan bernegara dan berbangsa. Tapi rekonsiliasi tanpa
menyingkap kebenaran, akan hanya membangun kemunafikan saja. Beranikah
Partai Golkar menghadapi kebenaran atas terjadinya peristiwa-peristiwa
masa lalu yang menyangkut aktivitas sebagai alat Orde Baru?

Sebetulnya pemerintahan di bawah Presiden Abdurrahman Wahid, bisa
mengambil tindakan agar partai tersebut dibubarkan. Sebab alasan-alasan
yang mendasari sangat kuat. Tetapi karena kekuatan Orde Baru praktis
dimana-mana masih belum tersentuh, maka hal itu mungkin menjadi
pertimbangan mengapa partai tersebut tidak dibubarkan setelah Gus Dur
memimpin pemerintahan. Wawasan yang menghendaki adanya stabilisasi
politik kiranya lebih mendominasi strtegi politik Gus Dur, dari pada
timbulnya kekacauan akibat dibubarkannya partai Golkar.

Terus berlanjutnya eksistensi Partai Golkar sampai dini hari menunjukkan
bahwa pengaruh Orde Baru masih cukup besar. Melalui partai ini mereka
berusaha melakukan segala macam manuver politik yang lihai untuk melawan
kekuatan reformasi. Dalam pemerintahan Habibie rakyat tetap menganggap
Partai Golkar belum ada perubahan ke arah reformasi. Makanya tidak
timbul konflik dengan pemerintah, yang dipimpin juga oleh panglima
tertinggi Golkar - Habibie. Suatu hal yang logis. Tapi ketika terbentuk
pemerintahan Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarnoputri, tampak
manuver-manuver yang aneh-aneh dan neko-neko, namun jelas ke mana
arahnya: ialah menggoyang pemerintahan Gus Dur. Segala alasan yang
diulas dengan retorika demokrasi dan reformasi tidak bisa menutupi wajah
bopeng Golkar. Tentu saja tidak benar kalau dikatakan bahwa semua tokoh
partai Golkar antek Orde Baru, sebab ada dari mereka yang sudah
mereformasikan dirinya. Bahkan di dalam percakapan rakyat sehari-hari
dikenal adanya Golkar-putih dan Golkar-hitam. Tetapi secara lembaga
tetap Partai Golkar adalah partai yang dilahirkan, dididik, dibesarkan
dan dibina sebagai penyangga kekuasaan tirani Orde Baru.

Memang untuk menuntut pembubaran Partai Golkar sekarang ini tidak mudah.
Sebab secara yuridis dia telah dikukuhkan oleh pemilu 1999  yang relatif
demokratis. Meskipun kemenangannya dengan ranking kedua setelah PDIP,
bukanlah karena didukung rakyat berdasarkan hatinuraninya, tetapi karena
ditunjang dana besar yang dimiliki dan pengalaman puluhan tahun sebagai
partai hegemonik. Selama Suharto beserta rezim Orde Baru tidak
dinyatakan sebagai pelaku tindak kejahatan kemanusiaan (kasus pembunuhan
massal 1965-66, kasus Tanjung Priok d.l.l.) sukar untuk menuntut
pembubaran Partai Golkar. Kalau Orde Baru harus dituntut di Pengadilan
HAM atas pelanggaran-pelanggaran HAM, maka partai Golkar harus juga
tidak ketinggalan.
Apabila partai tersebut tidak mendapat konsekwensi yang setimpal, hal
itu adalah suatu ketidak adilan dan dosa yang tidak bisa dimaafkan oleh
rakyat. Tapi memang demikianlah kenyataan yang tragis dewasa ini, bahwa
pelaksanaan hukum dan penegakan keadilan di Indonesia bisa
dipermain-mainkan oleh kekuatan status quo.

Di samping itu, adalah suatu keangkuhan dan arogansi terhadap rakyat dan
negara, apabila secara resmi di depan DPR dan publik Partai Golkar tidak
menyatakan minta maaf atas dosa-dosanya semasa rezim Orde Baru. Sedang
pernyataan maaf tersebut haruslah merupakan keputusan partai, bukannya
hanya pernyataan dari tokoh-tokohnya saja.
Adalah sangat menggembirakan bahwa dalam Muktamar PKB 2000 di Surabaya
rakyat diingatkan lagi sejarah hitam Golkar di masa rezim tirani Orde
Baru, dengan adanya usulan pembubaran partai Golkar, meskipun tidak
diterima sebagai rekomendasi.

Den Haag, 03 Agustus 2000
*) Anggota Indonesian Legal Reform Working Group, Nederland.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Aug 2000 jam 12:07:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke