----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Semua Menteri Harus Mundur
Arbi Sanit: Amien Rais Politisi Kampungan & Tolol

koridor.com [10 Aug, 21:03]

Agar Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) leluasa menyusun kabinet
baru, maka semua menteri harus mundur. "Sebab Gus Dur, sudah canangkan
mereshuffle kabinetnya," ujar Arbi Sanit kepada koridor.com.

Walaupun Gus Dur sebagai presiden, mempunyai wewenang memecat menteri,
sebagaimana dalam sistem presidensil, tetapi kata Arbi Sanit karena etika
berpolitik dan adat ketimuran, maka Gus Dur tidak melakukannya. Sehingga,
idealnya para menteri yang harus tahu diri.

"Dalam keadaan krisis, di negara manapun, para menteri itu harus mundur.
Apalagi presidennya, sudah menyiratkan hal tersebut," tandas Arbi Sanit,
Kamis (10/8) malam.

Langkah mundur yang ditempuh Menko Ekuin Kwik Kian Gie, pada Kamis (10/8)
sore dan kabar terakhir juga Menkeu Bambang Sudibyo, mundur dari jajaran
Kabinet Persatuan Nasional, merupakan contoh baik yang harus diikuti
menteri-menteri lainnya.

"Itu sikap positif dan meringankan beban presiden, supaya gampang membentuk
kabinet," tandas Arbi. Pengamat Politik dari Universitas Indonesia ini
mengatakan, "Para menteri yang tidak mau mundur, merupakan orang yang kebal
kuping dan mabuk kekuasaan."

Menyangkut penyusunan kabinet baru, Arbi mengungkapkan, keputusan akhir
tetap di tangan Gus Dur, bukan pada Megawati. Sebab dalam ketatanegaraan,
presidenlah yang bertanggungjawab, bukan wakil presiden.

"Ada dua hal, yang tetap berada di tangan Gus Dur. Pertama memutuskan orang
dan kedua, menentukan kebijakan," papar Arbi Sanit. Memang, boleh saja
Wapres Megawati Sukarnoputri, memberikan alternatif. Tetapi, kembali
keputusan akhir ditangan presiden.

Menyinggung keprihatinan Ketua Amien Rais, atas mundurnya Kwiek Kian Gie,
dari jajaran Kabinet Persatuan Nasional (KPN), Arbi Sanit menegaskan, "Amien
Rais, hanya curiga. Dia politisi kampungan dan tolol."

Arbi Sanit juga mengingatkan, kemauan Gus Dur dalam memberikan wewenang
lebih besar kepada Wapres Megawati, untuk menjalankan teknis pemerintahan,
sebagaimana disampaikan di hadapan majelis, pada hari Rabu (9/8) kemarin,
pantas dihargai dan jangan diartikan lain-lain, misalnya memisahkan jabatan
kepala negara dan kepala pemerintahan.

"Itu bisa lebih runyam, karena harus merubah UUD 45. Tap MPR, tidak bisa
mengalahkan Undang Undang Dasar," tegas Arbi Sanit.

Tetapi, kalau kemudian Sidang Tahunan MPR ingin menetapkannya atau
merekomendasikan, pembagian tugas yang diberikan Gus Dur kepada Megawati,
dalam bentuk ketetapan, maka anggota MPR jelas sebagai politisi yang tidak
tahu diri dan tidak tahu batas kewenangan," tambah Arbi Sanit.

Menurut Arbi Sanit, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), seharusnya lebih
dewasa dalam berpolitik, jangan hanya menonjolkan kewenangannya sendiri,
sebab akan merunyamkan persoalan, yang kini sudah rumit.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Aug 2000 jam 06:53:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke