----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Saatnya Menguji Mega

Kamis, 10 Agustus 2000
Suara Merdeka

SEPERTINYA Presiden Abdurrahman Wahid menyadari pidato pertanggungjawaban
selama 10 bulan memerintah bakal dinilai jelek oleh sebagian fraksi dalam
Sidang Tahunan MPR. Karena itulah Gus Dur merasa perlu melemparkan gagasan
pembagian kerja. Presiden akan lebih berkonsentrasi mengurus masalah-masalah
luar negeri. Masalah dalam negeri, termasuk soal-soal mikro, diserahkan ke
orang lain.

Gus Dur ingin menegaskan dia tidak tepat mengurus masalah teknis
sehari-hari. Dia merasa lebih tepat mengurus soal luar negeri, pengembangan
pemikiran-pemikiran demokratisasi, humanisme, dan masalah-masalah besar
lain.

Kalau diruntut ke belakang, saat awal menjadi orang nomor satu dalam
pemerintahan di Indonesia, sebenarnya Gus Dur telah mengembangkan wacana
mengenai pemisahan fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan. Wacana
tersebut saat itu untuk mencari solusi atas kemandekan proses politik akibat
pertentangan BJ Habibie dan Megawati. Pemikiran itu tak berkembang.
Tahu-tahu mnucul lagi dalam Sidang Tahunan MPR saat ini.

Prisip dasar pemikiran itu tidak salah. Tetapi mungkin fungsinya kurang
tepat kalau dimaksudkan sebagai jalan keluar atas impitan masalah yang
mengancam posisi Presiden. Yang jelas Gus Dur juga akan merombak kabinet.
Dengan perubahan itu hampir pasti Gus Dur merombak manajemen kepresidenan.

Bukan Tekanan

Namun yang jelas gagasan itu muncul bukan karena tekanan. Melainkan lebih
sebagai cara atau strategi untuk bertahan dengan menciptakan pemerintahan
yang kuat. Antara lain dengan mengangkat orang yang dipercaya untuk mengurus
pemerintahan sehari-hari. Tetapi hal itu tergantung juga pada gaya Gus Dur.
Kalau pola-pola intervensi, mengatur-atur, hasilnya sulit diharapkan.

Soal yang akan menjalankan itu pejabat setingkat menteri koordinator, yang
banyak diistilahkan orang sebagai menteri pertama, atau apa pun namanya, itu
sepenuhnya hak konstitusi Presiden. Semua dalam rangka gagasan yang
ditawarkan itu.

Mungkin lebih tepat disebut wacana yang ditawarkan Gus Dur itu sebenarnya
dalam rangka kompromi politik bagi yang apriori menjatuhkan dan yang apriori
mempertahankan posisinya sebagai presiden. Yang hebat, wacana yang
ditawarkan Gus Dur lagi-lagi membuat pihak yang mendukung dan yang ingin
menjatuhkan seperti terbuai. Mereka kini sibuk mendiskuikan hal itu. Itulah
kearifan bangsa yang ditunjukkan para politikus di MPR.

Bisa saja Gus Dur memang hanya ingin berperan sebagai guru bangsa, sehingga
harus memberdayakan Wakil Presiden Megawati. Hal itu sah-sah saja. Namun
bagaimanapun bentuk dan struktur pemerintahan nanti, akhirnya yang
bertanggung jawab telaplah Presiden Abdurrahman Wahid. Pemberian kesempatan
kepada Mega juga bukan karena Gus Dur ingin menguji kemampuan Mega sebagai
negarawan.

Karena itu, jika benar skenario itu yang bakal dipakai, sebaiknya Wakil
Presiden Megawati menerima dengan senang hati. Apalagi selama ini berkesan
Presiden dan Wakil Presiden jalan sendiri-sendiri. Bahkan ada kesan apa yang
dilakukan Presiden, Mega tak tahu-menahu dan tak mau tahu, sehingga secara
moral tidak harus bertanggung jawab. Hal itu, misalnya, bisa dilihat Mega
enggan membacakan pidato Presiden.

Peran itu sekaligus bisa dijadikan alat bagi Megawati untuk unjuk kemampuan
yang selama ini sering diragukan masyarakat. Tanpa bermaksud meragukan
kemampuan Megawati, yang jelas dia harus diuji juga. Itu penting, terutama
bagi orang yang masih meragukan kemampuan Megawati. Apalagi Wakil Presiden
juga memiliki staf ahli yang tak perlu diragukan kemampuannya.

Yang lebih penting, kesempatan ini sekaligus bisa dipakai sebagai sarana
menujukkan ke DPR dan masyarakat bahwa Mega tak mengangkat kroni-kroninya
sebagai staf di Kantor Wakil Presiden. Posisi sebagai pejabat yang mengurusi
soal-soal yang langsung menyentuh masyarakat memerlukan sikap arif, bukan
arogan, sok jago. Dan, kini orang menunggu kearifan Mega.

Bagaimana kalau ternyata Mega tidak mampu? Bagi masyarakat, itu justru bagus
karena mereka menjadi tahu. Kalau selama ini yang disorot hanya belang
Presiden Abdurrahman Wahid, kini saatnya sorotan juga diberikan ke Wakil
Presiden Megawati. Kalau dengan pemisahaan kekuasaan itu akhirnya belang
kedua-duanya diketahui, ya buat apa lagi dipertahankan.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Aug 2000 jam 06:54:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke