----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Juwono Heran TNI/Polri di MPR hingga 2009

Jakarta (Bali Post) -

Keputusan MPR yang menerima keberadaan Fraksi TNI/Polri di DPR hingga tahun
2004 dan di MPR sampai 2009 menyebabkan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono
terheran-heran. Ia sendiri mengaku tidak tahu-menahu soal jalannya sidang
sampai keluarnya keputusan tersebut.

''Saya tidak mengikuti jalannya sidang dalam fraksi-fraksi,'' kata Juwono
saat ditemui usai mendampingi Presiden Gus Dur mendengarkan pemandangan
akhir fraksi atas hasil sidang komisi MPR di gedung DPR/MPR, Senayan,
Jakarta, Selasa (15/8) kemarin.

Seperti diketahui, soal keberadaan Fraksi TNI/Polri di DPR/MPR sudah
disepakati rapat komisi MPR dan tinggal menunggu pengesahan Sidang Paripurna
Sidang Tahunan MPR.

''Padahal saya menginginkan agar keberadaan TNI/Polri di DPR diakhiri
sekarang juga,'' sesal Juwono.
''Mungkin ini bentuk ketidaksiapan sipil, terutama pengetahuan mereka
tentang pertahanan keamanan,'' tambah Juwono. Berkaitan dengan banyaknya
kritik terhadap situasi keamanan yang tak kunjung membaik, ia berkilah,
siapa pun yang menjadi menteri tetap akan mengalami gangguan keamanan.
''Persoalan utamanya itu terletak pada ekonomi. Kalau semua persoalan
ekonomi teratasi, semuanya akan berangsur membaik,'' ujar Juwono yang
disebut-sebut akan ditempatkan di pos Mendiknas itu.

Pengkhianatan
Sementara itu, pengamat politik Hermawan Sulistio, Ketua PBHI (Persatuan
Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) Hendardi dan Wakil Sekjen PAN (Partai
Amanat Nasional) Bara Hasibuan sepakat mengatakan masih dipertahankannya
TNI/Polri di MPR hingga 2009, jelas merupakan ulah elite politik di MPR yang
menerapkan ''politik dagang sapi''. Hal itu merupakan pengkhianatan terhadap
amanat reformasi.

''Telah terjadi kompromi politik di dalam ST MPR, sehingga TNI/Polri bisa
sampai diperpanjang umurnya hingga tahun 2009 di MPR. Ini kan enggak masuk
akal, orang selama ini militer yang menindas rakyat, kok para elite itu
malah memasukkan TNI/Polri ke MPR,'' kata Hermawan Sulistio, Selasa kemarin.

Menurut Kiki - panggilan Hermawan -- dipertahankannya TNI/Polri di MPR jelas
akibat politik dagang sapi yang dilakukan para elite politik di MPR. Elite
politik itu, tambahnya, tak peduli pada nasib rakyat yang telah tertindas
selama ini akibat militer.

Ketua PBHI Hendardi menilai jiwa dan amanat reformasi yang dirintis,
diperjuangkan dan dihasilkan oleh gerakan mahasiswa pada tahun 1998 dengan
menelan korban jiwa, justru tengah digali liang kuburnya oleh para wakil
rakyat di MPR. ''Ini makin menguatkan wakil rakyat di MPR memang tidak dapat
dipercaya dalam membawa kepentingan rakyat,'' katanya.

Padahal, lanjutnya, masyarakat mengharapkan kehidupan demokrasi yang
sesungguhnya bisa lahir dari ST MPR ini. Tetapi, ternyata pengukuhan peran
TNI/Polri dalam UUD tersebut justru mempertontonkan sikap minder para
politisi di parlemen.

''Mereka itu merasa dibayang-bayangi kekhawatiran seolah-olah tanpa
bergandengan tangan dengan TNI/Polri, posisi politik mereka pasti akan
lemah,'' ujarnya. Hal itu, tambahnya, menunjuk kan bahwa ST MPR kenyataannya
telah direndahkan oleh ulah elite politik itu sendiri.

Hendardi menambahkan, gejala di MPR yang tampak sekarang cenderung melangkah
menjadi suatu superbody yang bisa melakukan apa saja, termasuk mengkhianati
rakyat tanpa merasa perlu bertang gung jawab. ''Ini sebuah oligarki politik
baru yang berbahaya, karena menjadi gugatan dan problem ketatanegaraan.
Sebab, kepada siapa nanti pimpinan MPR akan mempertanggungjawabkan keputusan
politik yang dibuat institusinya?'' ujarnya.

Di tempat terpisah, Wakil Sekjen PAN Bara Hasibuan berpendapat, saat ini di
masyarakat telah terjadi erosi kepercayaan terhadap para politisi. Itu
karena mereka telah melak ukan kompromi politik selama menjalani ST MPR.
''Masuknya TNI/Polri tidak bisa ditoleransi dong, sebab itu sama artinya
dengan mengebiri kehidupan berdemokrasi,'' ujarnya. Ketua Umum PRD Budiman
Sudjatmiko menilai saat ini telah terjadi gap antara aspirsi di masyarakat
dan di MPR. Menurutnya, perubahan politik sampai saat ini masih belum
tergambar lantaran para elite politik hanya terfokus pada pembagian
kekuasaan.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 2000 jam 11:35:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke