---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http: under construction Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000 ================================================ MUJAHIDIN: NII TAK LAKU? (POLITIK): Para tokoh Islam garis keras NII berkonggres. Mereka tak lagi mempersoalkan bentuk negara. Tapi mereka menekankan pelaksanaan Syariat Islam. Strategi atau memang NII tak laku lagi? Pagi itu belasan bus dengan mengangkut ribuan orang datang dari berbagai arah menuju GOR Kridosono Yogyakarta, Sabtu awal bulan ini (5/8). Puluhan bendera Hizbut Tahrir warna hitam berlogo laa ilaaha illallah dikibar-kibarkan massa. Sementara di beberapa titik terlihat Laskar Mujahidin dengan berbaju loreng bersepatu lars dan berbaret sigap mengawasi seantero stadion. Dan siang itu di Stadion Kridosono itu digelar acara Tabligh Akbar sebagai permulaan Konggres Mujahidin I. Para kader NII kini tak lagi bergerak di bawah tanah. Mereka terang-terangan muncul dengan bendera baru: Gerakan Mujahidin. Pada 5-7 Agustus 2000 lalu, mereka menggelar hajatan besar, Konggres Mujahidin I di Yogyakarta yang dihadiri oleh para bekas tahanan pengeboman Borobudur dan peledakan BCA. Serta tokoh-tokoh bekas Tapol NII dan belasan pemuka Islam garis keras terkemuka. Para pemuka Islam itu adalah Ustad Abu Bakar Ba'asyir, Prof Dr Deliar Noor, KH Mawardi Noor, Ohan Sudjana, KH Abdullah Rasyid, KH Ali Yafie, Prof Ahmad Mansyur Suryanegara, KH Asep M Affandi, KH Siddiq Amin, KH Miftah Farid, Ustad Abu Bakar Ba'asyir, Ustad Muhammad Thalib, KH Kamaluddin Iskandar, KH Alawy Muhammad, Ustad Abdul Qadir Baraja, Baharuddin Anwar, KH Salman Farid, Tengku H Daud Zamzani, Tengku H Ibrahim Bardan, Prof Dr Abdurrahman A Basalamah dan Ustad Zamzam. Sejumlah kalangan sebelumnya mencurigai bahwa Konggres Mujahidin ini akan dijadikan ajang unjuk gigi para tokoh Islam garis keras untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Namun dugaan itu meleset. Karena ternyata mereka sudah mahfum dengan negara ini dan hanya ingin memasukan Piagam Jakarta atau menambahkan tujuh kata dalam pasal 29 UUD 45. Dari luar sidang memang terdengar mereka hanya ingin menguatkan pelaksanaan Syariat Islam, bukan lagi kukuh mendirikan negara Islam. Bahkan di beberapa bagian mereka juga mengakui keberagaman agama. "Mujahidin tidak ingin mendirikan negara Islam meskipun berniat menegakkan Syariat Islam di Indonesia. Penegakan Syariat Islam ini tak harus berhadapan dengan kekuasaan negara. Bagaimana cara terbaik untuk menegakkan Syariat Islam tanpa harus menumpahkan darah dan berbenturan dengan kekuasaan akan menjadi salah satu agenda utama dalam Konggres I Mujahidin Indonesia," kata Ketua Panitia Konggres I Mujahidin Indonesia Ustad Irfan Suryahadi Awas dalam acara pembukaan konggres. Irfan mengakui, selama ini paradigma yang berkembang, menegakkan Syariat Islam itu harus dibenturkan dengan kekuasaan. "Padahal bukan begitu seharusnya," kata Ustad Irfan. Untuk mengantisipasi kerisauan umat non-Muslim ketika Syariat Islam itu betul-betul ditegakkan di Indonesia, menurut Ustad Irfan tidak bisa hanya sekadar wacana. Tetapi katanya, setelah diberi kebebasan oleh pemerintah untuk melaksanakan Syariat Islam itu, baru akan terasa hasilnya. Karenanya Mujahidin akan menuntut pada pemerintah agar membuat aturan hukum di Indonesia yang tidak bertentangan dengan semua agama di Indonesia. Misalnya dengan mengambil universalitas dari ajarannya. "Nanti orang Kristen biarlah kembali dengan ajarannya pada Injil, Hindu kembali pada ajarannya sesuai Weda, begitu pula umat Islam dan umat yang lainnya," lanjutnya. Sementara menurut Ketua Ahlul Hali Wal Akdi sementara, Ustad Abu Bakar, penegakan Syariat Islam ini tidak bisa dibebankan pada anggota DPR/MPR saja tapi oleh seluruh umat Islam. Ustad Abu Bakar Ba'asyir mengingatkan bahwa ada tiga kesadaran yang perlu dipegang dalam perjuangan jihad. Pertama, perjuangan yang paling bernilai di dalam hidup di dunia ini adalah perjuangan untuk menegakkan Islam. Kedua, menegakkan kalimat Allah merupakan beban yang amat berat dan akan mendapatkan tantangan yang keras. Ketiga, dalam menegakkan dinullah di samping berbekal takwa juga harus berbekal sabar. Meskipun ditimpa musibah, tetap tidak merasa lemah semangat dan tidak menyerah. Keputusan lain yang dihasilkan dalam Konggres I Mujahidin Indonesia adalah keinginan agar DPR/MPR dalam sidang tahunan ini dapat memasukkan tujuh kata Piagam Jakarta dalam Pembukaan UUD 1945. Atau, paling tidak, memasukkan tujuh kata yang dibuang dalam Piagam Jakarta itu pada Pasal 29 UUD 1945. Dan itu yang dipakai Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai dasar untuk ngotot dalam sidang-sidang amandemen UUD 45. Dan, cara berpikir para tokoh Islam Garis keras ini dinilai oleh sejumlah kalangan sebagai kemajuan pikiran mereka. Atau jangan-jangan dagangan Negara Islam Indonesia (NII) yang selama ini ditawarkan sudah tak laku lagi. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ----------------------------------- SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 05:58:20 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
