----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Gamma Nomor: 26-2 - 22-08-2000
Nomor Wahid di Dunia
Seorang hakim muda menambah daftar orang hilang yang sudah berjumlah 598
orang di Aceh. Siapa pelakunya?

LUSIANA kini meratapi suaminya, Kunto Hadi Purnomo, yang hilang begitu saja
sebelum sempat bertugas di Pengadilan Negeri Tapaktuan, Aceh Selatan.
"Apakah dia masih hidup atau tidak, aku tak tahu," kata Lusi yang ditemui
Rizki Yanuardi dari Gamma di rumahnya di bilangan Jalan Kalibata Raya,
Jakarta Selatan, Sabtu pekan silam. Perempuan berkulit putih itu kini
pasrah. "Tapi aku akan terus menunggu, sekalipun kabar pahit yang datang,"
kata Lusi dengan mata berkaca-kaca.
Kisah yang dialami Kunto memang absurd. Sehari setelah dilantik oleh Ketua
Pengadilan Tinggi (PT) Aceh, Kardjono Darmoatmodjo, Kunto pun berangkat dari
Banda Aceh pada 25 Juni pagi lalu. Minibus "Widuri" yang ditumpanginya tiba
di Tapaktuan, malam harinya. Konon, Kunto turun persis di depan Losmen
Rahmat. Eh, ketika seorang pegawai PN Tapaktuan, mengecek kedatangan Kunto
di losmen itu esok harinya, hakim muda yang berasal dari Jakarta itu sama
sekali tidak ada.
Peristiwa itu entah kenapa seperti tenggelam dalam gejolak Aceh yang belum
diam. Barulah, ketika istri Kunto, Lusiana, meneleponi Kardjono, sepuluh
hari kemudian, PT Aceh pun gempar. Apalagi, menurut seorang penumpang
"Widuri", ternyata yang turun di depan Losmen Rahmat itu bukanlah Kunto. Hal
itu diketahui setelah Lusi mengirimkan foto Kunto ke Tapaktuan.
Kardjono pun segera berkirim surat kepada Jaksa Agung, Menteri Kehakiman,
dan Kapolri, meminta agar kasus Kunto ditangani. Lusi juga berkirim surat ke
Mahkamah Agung dan PN Tapaktuan. "Tapi belum ada satu pun balasan yang
kuterima," kata Lusi. Jawaban yang diterima Lusi hanya dari Kapolda Aceh.
"Itu pun cuma menyuruh aku bersabar," kata Lusi.
Padahal, "Saat berangkat ke Tapaktuan, wajah Kunto tampak cerah saja," kata
Kardjono kepada Wiratmadinata dari Gamma. Tak pelak, orang pun kembali
tersentak, bahwa Kunto telah hilang di Aceh, sebuah negeri yang barangkali
punya rekor nomor wahid dalam kasus orang hilang di dunia dewasa ini.
Tragisnya, sampai sekarang belum satu pun yang terungkap.
Bahkan, menurut catatan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
Kekerasan) Aceh, sejak Oktober 1999 sampai Agustus 2000 ini saja ada 53
kasus penghilangan orang di Aceh. Belum lagi pada masa daerah operasi
militer (DOM), yang sudah mencapai 442 kasus. Sementara, menurut Koalisi
NGO-HAM Aceh, sejak status DOM dicabut pada 7 Agustus 1988, tercatat pula
156 kasus -termasuk 22 kasus pada masa Jeda Kemanusiaan Tahap Pertama, sejak
2 Juni sampai 9 Agustus lalu.
Fakta yang sebenarnya lebih besar lagi. "Tapi, kami kesulitan melakukan
investigasi, karena kondisi keamanan yang tidak kondusif," kata Aguswandi
BR, Koordinator Kontras Aceh, dan Abdul Rahman Yakob, dari Koalisi NGO-HAM
Aceh kepada Gamma.
Tampaknya, kasus orang hilang di Aceh itu akan menjadi agenda penting dalam
kongres tentang orang hilang secara internasional yang berlangsung di
Jakarta, akhir bulan ini. Apalagi, hingga kini masih ada belasan lagi orang
hilang yang konon disekap di markas Kopassus di Jakarta -di luar kasus Pius
Lustrilanang dan kawan-kawan- yang sampai kini belum terungkap.
Peristiwa penculikan paling tragis adalah hilangnya Tgk. Nashiruddin Daud.
Tapi mayat anggota DPR/MPR-RI asal Aceh dari PPP ini kemudian ditemukan
terbunuh di pinggiran kota Medan pada Januari lalu. Kemudian, menyusul Tgk.
Ismail Syahputra, juru bicara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang hilang di
Medan pada Mei lalu. Dan yang paling anyar adalah hilangnya Jafar Siddiq
Hamzah, aktivis HAM dan Ketua Forum for Aceh (IFA) yang berkedudukan di New
York, Sabtu pekan silam.
Ketiga tokoh itu memang cukup vokal berbicara tentang Aceh. Nashiruddin
dikenal sangat serius menggugat peran militer di Aceh melalui DPR dan MPR.
Ismail Syahputra adalah juru bicara GAM yang sering mempublikasikan
aktivitas politik GAM. Dan Jafar adalah aktivis HAM yang gigih
mengampanyekan pelanggaran HAM di Aceh di dunia internasional.
Menurut Saifuddin Bantasyam, dari Forum Peduli HAM Aceh, semua tragedi itu,
jelas merupakan pelanggaran HAM yang berat (gross violation of human
rights). "Jadi negara harus memperhatikannya," kata Saifuddin. Apalagi,
menurut Abdul Rahman Yakob, aparat keamanan Indonesia memiliki sejarah yang
buruk dalam praktik penghilangan orang, seperti yang dialami oleh aktivis
Pius Lustrilanang dan Andi Arief di akhir masa rezim Orde Baru dulu.
Aguswandi malah menyimpulkan, penculikan adalah operasi yang paling efektif
untuk membungkam gerakan kritis dari rakyat yang mengganggu kepentingan
kelompok atau orang-orang tertentu yang memiliki kekuasaan.
Seperti ditulis Gamma pekan lalu, Jafar hilang di Medan Sabtu pekan silam.
Semula, Jafar dan keluarganya berangkat dari Banda Aceh menuju Medan pada 27
Juli lalu. Jafar menginap di rumah adiknya, Syarifuddin, sejak Sabtu 29 Juli
sampai Sabtu 5 Agustus lalu di Medan. Tujuan Jafar ke Aceh adalah untuk
membuka kantor Support Commite of Human Right for Aceh, yang menangani kasus
pelanggaran HAM di Tanah Rencong itu.
Nah, ketika Jafar keluar rumah Sabtu siang 5 Juli itulah, ia tak lagi pulang
hingga sekarang. Karena itu, Cut Zahara, adik Jafar, merasa curiga bahwa
abangnya hilang berkaitan dengan aktivitasnya dalam memperjuangkan rakyat
Aceh di dunia internasional. Kontras Aceh pun meyakininya, karena beberapa
kali Jafar diteror melalui telepon. Beberapa pimpinan militer di Aceh sempat
pula menuduh Jafar sebagai kaki tangan GAM di luar negeri.
Padahal, menurut Syarifuddin, Jafar sama sekali tidak pernah berhubungan
dengan organisasi GAM. Menurutnya, Jafar adalah seorang aktivis kemanusiaan
internasional yang bekerja independen untuk mengupayakan dihormatinya
hak-hak asasi manusia di Aceh.
Sekarang, menurut keterangan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan,
Irham Buana Nasution, IFA bersama sejumlah LSM di Amerika berencana akan
berdemo ke Kedutaan Indonesia di AS untuk menekan pemerintah agar serius
menyelidiki hilangnya Jafar. "Jika dalam beberapa hari tidak menemui titik
terang, kami pun akan menyomasi pemerintah Indonesia," kata Irham kepada
Denny Sitohang dari Gamma.
Bahkan, Wakil Ketua IFA, Suraiya I.T., Selasa pekan lalu di New York,
menawarkan hadiah sebesar Rp 20 juta bagi siapa saja yang menemukan dan
mengembalikan Jafar. IFA juga akan mendesak seluruh anggotanya, pemerintah,
dan kalangan LSM untuk melakukan kampanye bagi pembebasan Jafar.
Amnesti Internasional malah telah bertelepon kepada LBH Medan, bahwa mereka
berjanji memberikan pengampunan hukum kepada orang atau lembaga yang
bertanggung jawab atas hilangnya Jafar apabila mengembalikannya dalam
keadaan hidup dalam waktu satu minggu, terhitung sejak 9 Agustus lalu.
Kapolda Sumatera Utara, Brigjen Drs Sutanto, memang telah membentuk tim
investigasi untuk melakukan penyelidikan awal. Kepolisian juga sudah
menyebarkanluaskan foto Jafar ke seluruh Polres di Sumatera Utara. Uniknya,
Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM), Tgk. Abdullah Syafi'ie,
seperti ditulis Serambi Indonesia edisi Minggu, 13 Agustus lalu, juga
mengecam keras kasus hilangnya Jafar.
Hilangnya Jafar juga mendapat simpati dari LSM Natsuko (Nindja Jepang),
Carmel Budiarjdo (TAPOL London), Forum Asia, Amnesti Internasional, dan
Human Right Watch. Jafar yang sudah menikah dengan Jacklyn Aquino Siagno,
seorang profesor salah satu universitas di Australia, tapi warga negara
Amerika berdarah Filipina, memang dikenal luas dalam gerakan penegakan HAM
di berbagai belahan dunia.
Lalu, bagaimana pula dengan nasib Kunto? Menurut Aguswandi dari Kontras
Aceh, sulit dipercaya bila GAM dianggap sebagai pihak yang menculik Kunto.
Pola penculikan oleh GAM, menurut Aguswandi, biasanya ditujukan kepada
anggota TNI/Polri, atau orang yang bekerja sama dengan TNI/Polri.
Abdul Rahman Yakob dari Koalisi NGO-HAM Aceh malah mempertanyakan peran dan
fungsi KBMK (Komite Bersama Modalitas Keamanan) dalam Jeda kemanusiaan di
Aceh. Terlebih-lebih di dalam KBMK itu memang ada unsur GAM, TNI, dan Polri.
"Bayangkan, ada 22 orang yang hilang pada masa jeda kemanusiaan, tapi tanpa
klarifikasi apa-apa dari KBMK," kata Abdul Rahman Yakob.
Kasus Jafar dan Kunto kembali mengingatkan orang pada hilangnya tiga orang
peneliti dari Cifor (Centre for International Forestry Research)-IPB
(Institut Pertanian Bogor) pada 11 September tahun silam di Aceh Selatan.
Namun, hingga kini kasus itu masih gelap, dan tak berjejak.
Namun, Ketua Dewan Pengurus Kontras, Munir, S.H., mengamati bahwa kasus
Jafar itu, memang, kira-kira kerjaan tentara. "Kalau GAM kecil
kemungkinannya, karena bagaimana pun GAM memerlukan orang kritis terhadap
tentara macam Jafar, meski Jafar bukan orang GAM," kata Munir kepada Gamma.
Hilangnya hakim Kunto, menurut Munir, masih berkaitan dengan Jeda
Kemanusiaan yang secara umum membuat Aceh agak tenang. Akibatnya, suasana
kekerasan pun tak lagi main tembak begitu saja. "Tapi berubah dengan cara
silence dan, tentu saja paling cocok dengan cara penghilangan orang," kata
Munir, menganalisis.
Tapi, Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen I Gde Purnawa, menjelaskan bahwa
pihaknya sama sekali tak punya rencana atau gerakan apa pun untuk melakukan
penculikan orang. "Termasuk terhadap aktivis HAM dalam kasus Aceh," kata
Purnawa, Senin, 14 Agustus lalu, kepada pers di Medan.
-Bersihar Lubis dan Julie Indahrini

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 08:25:07 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke