----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Meski belum bisa Dibuktikan
Dugaan Soeharto Terlibat G-30-S/PKI makin Kuat

Jakarta (Bali Post) -

Tanda-tanda mantan Presiden Soeharto sebenarnya mengetahui akan terjadi
peristiwa G-30-S PKI tahun 1965 lalu, ternyata sangat kuat. Hanya, sampai
saat ini dugaan keterlibatan jenderal besar itu belum bisa dibuktikan.
Demikian dikatakan Robert E. Elson, guru besar Griffin University,
Australia, dalam sebuah seminar di gedung CSIS Jakarta, Kamis (7/9) kemarin.
Namun, menurut pengamat politik yang juga staf pengajar Institut Ilmu
Pemerintahan (IIP) Andi Alfian Malarangeng, dugaan keterlibatan Soeharto
dalam peristiwa G-30-S/PKI perlu dijadikan wacana, untuk membuka dan
mengupas kembali sejarah yang sebenarnya terjadi.

Menurut Robert Elson, pengakuan mantan Komandan Brigade Infanteri I Jakarta
Kolonel Latif yang mengatakan sudah memberi tahu Soeharto pada malam sebelum
kejadian, masih cukup sulit dibuktikan. Pada malam itu, konon, saat
menjenguk putra Soeharto (Tommy-red) yang dirawat di RSPAD karena sakit,
informasi Latif hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Soeharto. Itu pun
sulit dibuktikan, karena tidak ada saksi yang mengaku melihatnya. Bahkan,
menurut buku ''Dua Jenderal Besar Bicara tentang Gestapu'' karangan Anton
Tabah dengan mengutip pernyataan Pak Harto, kedatangan Latif itu untuk
membunuhnya.

Pada pagi hari 30 September 1965 pun, lanjut Robert Elson, Soeharto memang
mengadakan inspeksi pasukan dalam rangka persiapan upacara Hari ABRI,
termasuk pasukan dari Batalion 530 dan 454 yang menjadi tulang punggung PKI.
''Tetapi itu pun bukan merupakan bukti kuat, kalau pasukan itu berada di
bawah komando Soeharto pada malam kejadian,'' katanya.

Ketika ditanya kenapa Soeharto yang waktu itu menjadi Panglima Kostrad tidak
menjadi sasaran PKI, Elson yang sedang mengadakan penelitian sejarah
G-30-S/PKI di Australia, Indonesia, dan Amerika Serikat menjawab, mungkin
karena waktu itu Soeharto bukan merupakan lingkaran dalam (inner circle)
dari Kasad Jenderal Yani, sehingga tidak dianggap berbahaya, walaupun kelak
terbukti ternyata perhitungan PKI ini salah. ''Hanya, sampai saat ini memang
sedang terus dilakukan penelitian lebih jauh dugaan keterlibatan Soeharto
dalam G-30-S/PKI. Saya memang sedang terus melakukan penelitian khusus soal
itu, termasuk berbicara langsung dengan Soeharto. Tetapi karena keburu
sakit, belum sempat meminta penjelasan lebih jauh,'' ujarnya seraya
menambahkan, seminar yang digelarnya pun dalam rangka menggali informasi
sebanyak-banyaknya tentang G-30-S/PKI tersebut.

Jadikan Wacana

Di tempat terpisah, pengamat politik yang juga staf pengajar Institut Ilmu
Pemerintahan (IIP) Andi Alfian Malarangeng mengatakan, dugaan keterlibatan
Soeharto dalam peristiwa G-30-S/PKI perlu dijadikan wacana. Ini diperlukan
untuk membuka dan mengupas kembali sejarah yang sebenarnya terjadi. ''Saya
tidak tahu, apakah dia terlibat dengan gerakan itu. Tetapi paling tidak dia
tahu, apa yang sebenarnya terjadi,'' jelasnya.

Kata Andi, pembukaan terhadap sejarah ini sangat diperlukan sekali, untuk
menilai masing-masing versi, mana yang sebenarnya terjadi. Sebab, selama ini
sebagian besar masyarakat masih meragukan PKI yang melakukan tindakan makar
untuk menjatuhkan Presiden Soekarno di bulan September 1965 tersebut.

Paper atau pun naskah yang menceritakan masalah tersebut, lanjut Andi, telah
banyak beredar di masyarakat. Ia menilai tabir G-30-S/PKI itu perlu kembali
dibahas, sehingga mendapatkan gambaran jelas, siapa saja tokoh yang terlibat
dalam peristiwa yang menelan banyak korban jiwa selama dalam sejarah
terbentuknya negara ini. Ia juga berpendapat, peristiwa itu sebenarnya lebih
mengarah kepada persoalan internal TNI-AD waktu itu. ''Soal militer, bukan
bidang saya,'' jelasnya.

Jika nanti dalam faktanya Soeharto jelas-jelas terlibat, ia masih meragukan,
apakah mantan penguasa orde baru itu bisa dihukum. ''Untuk kasus KKN saja
sangat sulit, apalagi tentang peristiwa besar itu,'' tambah mantan anggota
KPU ini.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Sep 2000 jam 04:50:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke