---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Gus Dur : Pak Harto Suka Metik Terong New York, LippoStar Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan, mantan Presiden Soeharto bisa saja diadili secara inabsentia (persidangan tanpa kehadiran tersangka) kalau tidak dapat dipanggil dan dihadirkan ke persidangan. "Proses hukum tidak gampang. Pak Harto tidak bisa dihadirkan di persidangan karena semua dokternya mengatakan Pak Harto sakit. Padahal saya tahu, Pak Harto masih suka metik terong karena di Cendana ada hidroponik (kebun dalam ruangan)," kata Gus Dur dalam tatap muka dengan masyarakat Indonesia di New York, Selasa petang (Rabu pagi WIB). Tentu saja sekitar 200-an hadirin tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Gus Dur yang serius tapi santai itu. Dalam acara tersebut, selain didampingi Ibu Negara Sinta Nuriyah, Gus Dur juga didampingi Menlu Alwi Shihab, Wakil Tetap RI di PBB Dubes Makarim Wibisono, Dubes RI untuk Washington Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Konjen RI di New York Dubes I Gusti Ngurah Swetja. Menurut Gus Dur, proses hukum atas Soeharto harus terus berjalan, karena hukum harus ditegakkan. Selama ini pengacara dan tim dokter Soeharto menyatakan bahwa mantan penguasa Orde Baru itu tidak bisa diadili karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk diperiksa di persidangan. "Kalau jalan lain (untuk menghadirkan Pak Harto ke pengadilan) tidak bisa dilakukan, ya diadili secara inabsentia," katanya. Pernyataan Gus Dur mengenai pengadilan inabsentia itu muncul menjawab pertanyaan Ketua Himpunan Masyarakat Maluku di New York, Steven Waisapy. Saat itu Steven menanyakan mengapa Presiden tidak membawa ke pengadilan provokator konflik di Maluku yang telah membawa ribuan korban jiwa. Terhadap pertanyaan itu, Gus Dur mengatakan orang bisa saja menyebut nama-nama provokator, namun secara hukum sulit membuktikannya. "Sebagai contoh, di Maluku saya tahu Sultan jadi biang kerok. Tapi dari sudut hukum tidak bisa dibuktikan. Contoh lain, dari sudut hukum Pak Harto juga tidak bisa dihadirkan ke persidangan karena semua dokternya mengatakan dia sakit. Padahal, dia masih bisa memetik terong," katanya disambut tawa hadirin. Gus Dur mengatakan tidak benar dia membiarkan saja konflik Maluku berlarut-larut. "Belum pernah seumur hidup saya membiarkan konflik antaragama. Kita sudah berbuat banyak. Terus terang pemerintah kirim aparat ke sana juga bisa juga salah. Kalau dikatakan saya harus bertanggung jawab, ya sayalah yang bertanggung jawab, karena kirim aparat yang salah," kata Kepala Negara. Bertemu Soros Pada kesempatan itu Gus Dur juga menjelaskan perkembangan terakhir di Tanah Air yang tidak seburuk seperti yang dilaporkan media asing atau Internet. Pemberitaan media massa misalnya membuat fund manager George Soros saat bertemu Gus Dur mengaku sangat pesimistis tentang Indonesia. Menurut cerita Gus Dur, Soros pesimistis karena adanya informasi Menteri Keuangan Prijadi Saptosuhardjo dipublikasikan begitu buruk sehingga tim ekonomi kabinet baru dinilai tidak akan jalan. "Padahal informasi itu tidak benar. Ekspor kita naik, investasi mulai masuk dan kita mulai memasuki kebangkitan ekonomi," kata Presiden. Terhadap suara sumbang itu Gus Dur menuduh adanya upaya memberikan gambaran lebih buruk supaya Indonesia lebih terpuruk lagi. "Ini supaya saya dipaksa keadaan untuk melepaskan jabatan," cerita Gus Dur tanpa memerinci siapa di balik semua itu. Menurut Gus Dur, keadaan di Tanah Air tidak seburuk yang digambarkan. Kemampuan untuk memelihara integrasi nasional sangat tinggi. "Memang keadaan cukup gawat di satu dua tempat, tapi kita bisa tetap mempertahankan keutuhan negara kita. Roda pemerintahan di propinsi tersebut tetap berjalan," katanya. Seusai acara temu muka dengan masyarakat Indonesia, Presiden meresmikan perpustakan di PTRI yang dinamakan Perpustakaan KH Abdurrahman Wahid. Menurut Watapri Makarim Wibisono, perpustakaan yang sudah mempunyai 6.000 judul buku tersebut diberi nama KH Abdurrahman Wahid karena ia tahu presiden adalah seorang yang banyak sekali pengetahuannya karena kutu buku. "Berdasarkan pengalaman saya menemami Gus Dur bertemu dengan pemimpin dunia lainnya, Kepala Negara selalu bisa berbicara mengenai berbagai masalah dari mulai sastra dan kebudayaan sampai ke agama dan politik. Pengetahuan itu banyak di antaranya berasal dari buku-buku yang dibacanya," kata Makarim. Gus Dur mengucapkan terimakasih atas penamaan dirinya pada perpustakaan yang dikelola oleh Tito Batista, seorang diplomat Indonesia asal Timtim. "Nama saya ternyata bisa juga digunakan untuk nama perpustakaan. Saya kira nama saya itu hanya cocok untuk nama bengkel," gurau Gus Dur, yang memancing tawa hadirin.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Sep 2000 jam 04:55:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
