----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Giliran 20 Pengungsi di Atambua Dibantai
* Megawati Gelar Rapat Khusus

Jakarta (Bali Post) -

Rupanya pembakaran tiga pekerja UNHCR di Atambua harus ditebus dengan
dibantainya 20 pengungsi asal Timtim. Pejabat PBB di Timtim menyatakan
menerima laporan bahwa 20 orang tewas di Timor Barat Kamis (7/9) malam,
sehari setelah tiga pekerja UNHCR (Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi) tewas
di serbu milisi.

Anggota Komisi UNHCR di Timtim Bernard Kerblat kepada AFP mengatakan,
sejumlah penduduk setempat menuju perbatasan Timor Timur dan Barat dan
melaporkan pembunuhan terhadap 20 warga kepada tentara PBB (UNTAET).
Pembunuhun terhadap ke-20 pengungsi tersebut terjadi di kota Betun, 60 km
sebelah tenggara Atambua.

Gentingnya suasana di perbatasan Timtim-NTT dan makin tajamnya sorotan
internasional terhadap Indonesia memaksa Wapres Megawati menggelar rapat
khusus. Wapres yang ditugasi memimpin teknis pemerintahan sehari-hari, Jumat
(8/9) kemarin langsung menggelar rapat kabinet terbatas. Rapat yang tak
biasanya dilakukan tiap Jumat -- biasanya tiap Rabu dua minggu sekali --
dihadiri dua menteri koordinator, Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung.
Rapat yang berlangsung pukul 10.00 hingga 16.00 WIB itu secara khusus
membahas soal kerusuhan Atambua.

''Memang rapat kali ini tidak biasa, tetapi bukan pula luar biasa,'' kata
Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjuntak ketika membuka acara jumpa pers yang
dihadiri Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono dan Kepala Biro Pers dan
Media Dharmawan Ronodipuro.

Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, pemerintah mengutuk dengan keras pelaku
kerusuhan di Atambua dan berjanji menyelesaikan kasus itu secara adil,
bijaksana dan realistis. Bahkan, bila perlu melibatkan pihak CNRT selain
tentunya UNTAET.

Mantan Kaster TNI ini menambahkan, pemerintah Indonesia tak mau
terus-menerus disalahkan dalam kasus Timtim. Sebab, penyelesaian sebetulnya
bisa dilakukan secara kolektif dan komprehensif.

Panglima TNI Laksamana Widodo AS dan Kapolri Letjen Pol. Rusdihardjo
mengatakan, telah dikirim satu batalion pasukan TNI-AD, dan satu kompi
Brimob. Diharapkan kehadiran pasukan tambahan ini bisa menciptakan
stabilitas yang lebih baik di Atambua.

Dilindungi

Sementara itu, Jaksa Agung Marzuki Darusman mengatakan sedang berupaya
mengamankan seorang anggota milisi yang diduga terlibat dalam kerusuhan
Atambua itu. Bahkan, bila perlu Kejaksaan Agung akan meminta milisi tersebut
dibawa ke Jakarta demi keamanan. Jangan sampai ada pihak-pihak tertentu yang
tidak menginginkan kasus ini terungkap melalui proses hukum secara tuntas
dengan cara menghabisinya.

Di tempat terpisah, Ketua Tim Penyidik Gabungan Pelanggaran HAM Timtim M.A.
Rachman mengatakan, saat ini sedang mempertimbangkan penahanan terhadap
milisi yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut. ''Kami khawatir
tersangka akan dihabisi oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan proses ini
berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku.''

Ditambahkannya, tim penyidik telah menyiapkan biaya untuk mendatangkan
tersangka yang berada di Atambua untuk datang ke Jakarta guna menjalani
proses penyidikan. ''Biaya untuk mereka sudah disiapkan,'' ungkap Rachman.
Kepala Divisi Pemantauan Pemilu Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP)
Leopold Sudaryono, S.H. mengatakan tidak yakin pelaku penyerbuan kantor
UNHCR di Atambua adalah orang-orang asli Timtim. ''Bisa jadi pelakunya
adalah orang kita sendiri untuk membuat malu Gus Dur di PBB. Jadi, saya
sependapat dengan pernyataan Gus Dur,'' ujar Leopold, kemarin.

Menurutnya, tidak semua milisi pro-integrasi adalah orang Timtim. Bisa jadi
kebanyakan penjahat kriminal. ''Walaupun kita baru mengidentifikasi para
pelakunya, tetapi sepertinya mereka berhasil menghilangkan jejak dan ada
motif balas dendam,'' kata Leopold yang pernah meninjau Timtim saat
referendum tahun lalu.

Leopold juga menyatakan tidak setuju omongan para elite politik yang
mengatakan Indonesia tak bertanggung jawab atas masalah yang terjadi di
Atambua. ''Lho, PBB saja akan memberi ruang dan mengagendakan masalah
Atambua dalam sidang khusus. Hal ini berarti kita sedang disorot dunia,''
paparnya.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Sep 2000 jam 05:19:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke