----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Semoga Tuhan Menyiksa Mereka di Neraka!

Pikiran Rakyat -

BIADAB! Tak berperikemanusiaan! Semoga Tuhan menyiksa pelaku di neraka!

Itulah ungkapan-ungkapan masyarakat Jakarta, ketika mendengar bom meledak di
Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang menewaskan sedikitnya 10 orang dan
melukai 31 lainnya. Korban tewas kebanyakan adalah para sopir yang setiap
hari menunggui para majikannya yang berkantor di situ. Mereka kebanyakan
laki-laki. Jadi mereka rata-rata adalah para bapak yang sedang beribadah
mencari nafkah buat keluarganya. Sayang, mereka meninggal karena ulah mereka
yang terlatih menanam bom, tapi bersifat pengecut, bukan ksatria.

"Kepada korban, pihak manajemen BEJ menyatakan prihatin. Sebaliknya, kami
mengutuk pelaku peledakan. Mereka pengecut!" ujar Presiden Komisaris BEJ,
Erry Riyana Hardjapamekas, ketika menyaksikan evakuasi korban di Gedung BEJ,
Jl. Sudirman, Jakarta, sekitar pukul 21.50 WIB, tadi malam.

Kalaulah Erry mengatakan pengeboman ini sangat biadab, memang bisa dipahami.
Beberapa ledakan terakhir, seperti di Gedung Kejaksaan, Kedubes
Filipina, --atau peledakan granat di Kedubes Malaysia, dan peledakan bus
kota dua minggu lalu pada malam menjelang pengadilan Soeharto--, tidak
banyak membawa korban. Peledakan-peledakan itu bisa dikatakan "hanya"
warning saja. Si dalang penggerak (mastermind) "masih baik hati" untuk
meletakkan bom di tempat-tempat sepi.

Kalau sekarang si dalang memasang bom di tempat ramai sampai membawa korban
tewas sedikitnya 10, itu artinya dia (siapa pun dia itu) betul-betul
bernafsu untuk membunuh, bukan warning lagi. Mereka semakin berani, karena
merasa yakin, polisi tidak mampu membongkar kasus pengeboman, barang sekali
pun. Dan kenyataannya, polisi memang tidak mampu.

Pengeboman ini terjadi satu hari menjelang pengadilan mantan Presiden
Soeharto Kamis ini di Gedung Departemen Pertanian. Maka lantas orang pun
menghubung-hubungkan: setiap kali Soeharto dan keluarganya di-kuyo-kuyo,
pasti ada kerusuhan atau ada peledakan. Kali ini pun demikian.

Wakil Ketua DPR, AM Fatwa, adalah orang yang meyakini hal ini. "Pak Harto
kan rencananya besok dihadirkan ke pengadilan. Peristiwa ini terjadi seperti
biasanya. Waktu Tommy Soeharto dipanggil DPR, terjadi penembakan. Begitu
juga saat pemeriksaan di Kejaksaan Agung, ada pemboman. Kemudian sehari
sebelum pengadilan pertama Soeharto ada peledakan. Besok Soeharto mau
diadili, sekarang terjadi juga," katanya Rabu kemarin (13/9).

Lalu mengapa bom kali ini sangat sadis?

Orang pun lantas menghubung-hubungkan koinsidensi lain, selain pengadilan
Soeharto.

Sekarang ini TNI sedang terpojok dengan pengungkapan berbagai kasus. Yang
paling menyakitkan tentu adalah kasus pelanggaran HAM di Timtim yang harus
menyeret beberapa perwira menengah dan tinggi TNI AD dan Polri. Para perwira
menengah sudah mulai menunjuk "ke atas."

Selain kasus Timtim, Kepolisian juga kini sedang memproses kasus 27 Juli.
Mantan Pangdam Jaya (yang kini Gubenur DKI), Letjen TNI (Purn) Sutiyoso
sudah dipanggil Polri. Tak tahan memendam tekanan, Sutiyoso "bernyanyi"
bahwa penyerbuan Kantor DPP PDI adalah perintah Soeharto yang menetes ke
bawah. Disebutkan, beberapa hari sebelum penyerbuan itu, Pak Harto
mengadakan pertemuan. Yang hadir di antaranya Jenderal Feisal Tanjung,
Jenderal Hartono, Letjen Syarwan Hamid, Mayjen Syamsir Siregar, dan
Sutiyoso. Boleh dikatakan, penyelidikan kasus 27 Juli sudah mengerucut.

Koinsidensi lain, Komnas HAM juga sudah maju selangkah untuk mengungkap
Kasus Tanjung Priok. Penggalian kuburan sudah memberikan titik terang adanya
pembantaian yang dilakukan ABRI waktu itu.

Dengan koinsidensi seperti ini, bukan tidak mungkin, orang-orang yang akan
dirugikan dengan pengungkapan kasus-kasus berbeda ini, akhirnya membentuk
aliansi untuk melakukan perlawanan bersama. Maka perlawanan memasuki skala
yang besar dan fase baru. Hasilnya, ya sedikitnya 10 orang tak berdosa
tewas, 31 luka-luka.

Memang tidak ada bukti yang menunjuk kepada koinsidensi ini. Sehingga sampai
sekarang polisi belum menangkap si Raja Tega itu. Tapi bahwa pelaku
pengeboman ini sudah profesional, sangat logis. "Merakit bom bisa dilakukan
siapa saja. Tapi memasang bom dengan tenang, menunjukkan bahwa mereka
terlatih," kata kriminolog Adrianus Meliala.

Kapolri Jenderal Pol. Roesdihardjo belum berani mengambil kesimpulan itu.
Khusus tentang hubungannya dengan Soeharto, ia hanya mengatakan could be
(mungkin saja, red). "Tapi kami belum bisa mengatakan seperti itu. Pelakunya
belum tertangkap. Jadi polisi belum tahu apa motifnya," katanya di Kantor
Menko Polsoskam petang kemarin, usai pertemuan antara jajaran Menko
Polsoskam dengan anggota Komisi I DPR.

Panglima TNI, Laksamana Widodo AS, yang hadir dalam pertemuan itu, lebih
memilih menghindari pers. Dia segera sembunyi dari incaran wartawan. Dus,
hingga hari ini belum ada keterangan resmi pemerintah, cq Polri dan TNI.

AM Fatwa mengerti situasi dilematis ini. Belum adanya penjelasan resmi dari
aparat, adalah karena pemerintah dan aparat keamanan masih memperhitungkan
sisa-sisa kekuatan mantan presiden RI kedua itu. "Keragu-raguan itu juga
muncul karena masih ada perasaan kompromistis pemerintah. Padahal, untuk
penegakan hukum tidak ada kompromi," ujarnya.

Fatwa sendiri menilai penanganan atas kasus Soeharto masih bersifat setengah
hati. Ini antara lain diindikasikan oleh pernyataan Presiden Gus Dur yang
akan mengampuni Soeharto. Dikatakan Fatwa, seharusnya hal itu tidak perlu
dinyatakan oleh Presiden, karena bisa mempengaruhi proses peradilan yang
tengah berjalan. Proses pengadilan yang kini berjalan pun hanya menggugat
Soeharto dalam posisinya hanya sebagai ketua yayasan.

"Yang paling pokok untuk diproses yaitu KKN Pak Harto sebagai pribadi, lalu
keluarga dan kroni-kroninya, yang terakhir Pak Harto sebagai penguasa Orde
Baru yang banyak melakukan pelanggaran HAM," ungkap Fatwa.

Lantas bagaimana proses kelanjutan pengadilan Soeharto hari ini?

Tentu akan sangat berat bagi Hakim Lalu Marijun, SH. Dan tentu akan sangat
berat bagi Presiden Gus Dur. Di satu pihak, hukum harus ditegakkan. Di lain
pihak, korban akan terus berjatuhan. Indonesia akan jadi Palagan Mahabarata.
Kita jadi negara Pariah di mata dunia.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Sep 2000 jam 10:20:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke