---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA NO 118/ IV/2000 [EMAIL PROTECTED] Catatan kecil Aini Patria sekitar G30S TOKOH SYAM YANG MISTERIUS buat Bung Ben Anderson Entah telah berapa tumpuk buku, tulisan, diskusi, seminar yang mencoba menguak peristiwa berdarah yang merupakan Tragedi Nasional dan Anti Kemanusiaan di Indonesia yang beberapa hari lagi mencapai tigapuluh lima tahun itu. Namun nampaknya masih banyak bagian-bagian yang diselimuti kabut. Soalnya banyak pelaku atau yang diduga sebagai pelaku dihilangkan, tanpa diadili, kalaupun diadili sering peradilan itu sudah dimanipulasi, bukti palsu, ditambah lagi dengan diciptakannya bermacam-macam mitos yang diangkat sebagai kenyataan sejarah untuk mencuci otak masyarakat dan generasi penerus. Selain itu ada tokoh 'misterius' semacam Syam alias Kamaruzaman bin Ahmad Mubaidah yang diduga pegang kunci, tapi tidak mudah ditebak posisinya. Siapakah sebenarnya tokoh 'misterius' yang katanya mengepalai 'Biro Khusus' PKI itu? Sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar! Juga Soeharto yang menjelang longsor menobatkan diri jadi Jenderal Besar itu, apabila sebelum mati tidak mengadakan kesaksian peristiwa itu seperti adanya, apalagi ada berita pemusnahan dokumen-dokumen dsb, jenderal Besar itu juga akan meninggalkan 'beban sejarah' pada bangsa ini. Tentang data-data tokoh Syam pernah diutarakan oleh Bung Ben (Ben Anderson) yang secara kelakar setelah dilarang masuk ke Indonesia oleh rejim Orde Baru, malah diangkat menjadi "Kawan Ketua" di Cornell itu. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Ben Abel beberapa tahun lalu dia mengatakan antara lain "identitas dan nasibnya Kamaruzaman alias Syam itu masih menjadi teka-teki." Data tentang Syam dalam wawancara itu antara lain: "Setelah memeriksa beberapa dokumen di Amerika, di Indonesia dan Belanda, ternyata si Syam ini pernah menjadi anggota PSI. Dalam majalah resmi dari PSI namanya pernah disebut pada tahun 1951 sebagai ketua ranting. Kalau tidak salah di Rangkasbitung, Banten. Selain itu ditemukan juga dokumen dalam arsip Belanda dimana Kamaruzaman ini pada waktu revolusi pernah diangkat sebagai orang intelnya Recomba Jawa Barat. Recomba itu pemerintah federal buatan Belanda. Itu bisa juga. Karena pada waktu itu ada juga patriot-patriot yang pura-pura jadi pegawai Belanda untuk mengetahui rahasia Belanda. Tapi toh rada aneh. Terus di koran-koran Indonesia ada informasi bahwa pada akhir tahun 50-an Kamaruzaman nongol sebagai informan dari komandan KMK (Komando Militer Kota) Jakarta. Jadi Syam ini orangnya cukup misterius. Jelas dia dikenal baik oleh pimpinan PKI. Tapi dia juga pegang peranan di Recomba, di PSI, di tentara, dsb. Sampai sekarang serba misterius. Di mana kesetiaannya? Buat saya tidak jelas. Walaupun pemerintah mengumumkan bahwa Syam sudah dieksekusi, itu masih disangsikan kebenarannya. Mungkin dia cuma disimpen saja." Selain data yang diutarakan oleh Bung Ben, ada data yang mungkin sampai sekarang belum pernah dipublisir. Pada tahun 1967 dalam rangka diskusi Otokritik, seorang peserta 'membongkar' rekayasa yang dilakukan oleh Syam pada tahun 1950. Yaitu isu bahwa D N Aidit dan MH Lukman pergi ke luar negeri, dan pada tahun 1950 kembali. Kemudian sekelompok orang menjemputnya di Tanjungpriuk. Apa sebenarnya yang terjadi? Pada th 1948 DN Aidit meninggalkan Yogya ke Jakarta. Kemudian 1950 MH Lukman menyusul ke Jakarta. Pada tahun itu SBKP (Serikat Buruh Kapal dan Pelabuhan)- SB daerah pendudukan mengadakan fusi dengan SBLP (Serikat Buruh Laut dan Pelabuhan)-SB daerah Republik. Pertemuan fusi itu diadakan di Surabaya. Menurut kawan yang waktu itu ikut yang pidato DN Aidit . Setelah fusi, namanya diubah menjadi SBPP (Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran) dengan ketua Syam Kamaruzaman. Meskipun pertemuan fusinya di Surabaya, pusat organisasi selalu mengikuti hirarki pemerintahan, jadi di Jakarta. Ketika ada kapal berlabuh di teluk Jakarta (maaf saya tak ingat namanya), DN Aidit dan MH Lukman oleh Syam yang menjadi ketua SBPP itu dinaikkan kapal dari Pasar Ikan dan diturunkan di pelabuhan Tanjungpriok. Selain itu ada semacam pengerahan massa yang menjemput seakan-akan mereka datang dari luar negeri. Waktu itu dikatakan datang dari Vietnam dan Tiongkok. Peristiwa ini dipublikasi, kemudian berkembang menjadi mitos. Dan setelah jadi mitos, oleh Orde Baru diangakt menjadi kenyataan sebagai fakta sejarah. Ini bisa dilihat dalam Buku Putih Orde Baru menseneg Moerdiono dan mungkin buku-buku sejarah Orde Baru yang lain. Bahkan Iwan Simatupang dalam Surat-surat Politik 1964-1966 yang ditjukan pada Larto, dengan 'romantis' menggambarkan sebagai "terbirit-birit ngacir dengan sampan dari Lamongan dan ngumpet ke RRC...." (baca Prahara Budaya, 412). Mengapa rekayasa ini dilakukan? Menurut beberapa kawan katanya sebagai kamuflase, bahwa kedua tokoh muda itu agar tidak disangkutkan Peristiwa Madiun, dan bisa mendirikan partai lagi secara legal. Kedua tokoh muda ini memang tidak ikut peristiwa itu, Aidit lolos ke Jakarta. Menurut beberapa kawan MH Lukman ketika Peristiwa Madiun aman, karena dilindungi oleh Bung Hatta. Ketika Haji Muchlas ayah Lukman dibuang di Boven Digul, Lukman dan adiknya ikut di tanah buangan itu. Bung Hatta meskipun tak lama juga ikut dibuang di Digul. Persahabatan ayah Lukman dengan Bung Hatta itu cukup mendalam, sampai di depan nama Lukman ditambah MH (Mohamad Hatta) Lukman. Jadi Lukman semacam anak angkat Bung Hatta. Yang menguak persoalan ini Soemadi Partoredjo. Soemadi ketika anak-anak ikut ayahnya yang dibuang ke Boven Digul, karena ayahnya anggota Sarekat Rakyat. Setelah agak besar dikirim kembali ke Jawa agar bisa melanjutkan sekolah, namun dia malah aktif di IM (Indonesia Muda). Pada jaman Jepang dia ditangkap Jepang, semula ditahan di penjara Tulungagung, kemudian dipindah ke penjara Kediri, dari Kediri ke Kalisosok, dari Kalisosok ke Sukamiskin. Di sana bertemu dengan Sudisman, Tjugito, Sukarna, Subiyantokusumo, Kusnandar, Haji Dahlan Kahar, Ruslan Kamalaudin dll. Di jaman revolusi menjadi pimpinan PESINDO Kediri, kemudian pindah Yogya jadi tentara masyarakat dengan pangakat Letkol. Terakhir aktif di serikat buruh. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu di Swedia. Lalu bagaimana kisah Syam selanjutnya? Menurut kawan yang mantan pengurus SBPP, pada th 1951 ada Razia Agustus. Peristiwa itu dimulai dengan apa yang dinamakan adanya "PKI Malam" yang menyerbu markas Brimob (polisi?). Kemudian kabinet Sukiman dari Masyumi itu mengadakan penagkapan terhadap orang-orang kiri, kebanyakan orang PKI. Menurut kawan itu sejak Razia Agustus itu, Aidit mengatakan tidak ada hubungan lagi dengan Syam. SBPP lalu dipimpin oleh Achmad Sumadi. Baru tahun tahun 1958 menurut kawan itu Syam kelihatan muncul kembali. Namun tidak ada yang tahu di mana selama sekitar 7 tahun itu, selanjutnya tidak di SBPP lagi. Apa yang bisa kita buat dengan cuwilan informasi ini? Pertama, menguak kamuflase "tentang isu pergi ke luar negeri" nya dua tokoh yang sudah berubah menjadi mitos. Dan mitos yang oleh sebagian orang, terutama Orde baru diangkat menjadi kenyataan sejarah dan dijadikan bumbu politik itu perlu diluruskan. Kedua, barangkali cuwilan informasi ini bisa menjadi pertimbangan atau pelengkap informasi yang sudah ada. Ketiga, mungkin meskipun tidak banyak, kita bisa merekonsruksi potongan riwayat hidup tokoh misterius ini pada masa tertentu. Padepokan 14.09.2000 Aini Patria ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Sep 2000 jam 05:35:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
