----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Soeharto dan Bom

Bali Post Online -

PEMERINTAHAN Presiden Abdurrahman Wahid ditandai juga banyaknya bom meletus.
Belakangan ini, masyarakat dikagetkan berita-berita tentang bom yang meledak
di satu wilayah di Ibu Kota, kemudian meletus di wilayah lain, dan mbledos
di wilayah lainnya lagi. Tampaknya, masa pemerintahan presiden yang terpilih
melalui mekanisme paling demokratis ini harus berjalan terseok-seok di
antara letusan-letusan bom.

Ada satu hal yang menarik, berupa tudingan lurus kepada Soeharto tiap
peristiwa berbau terorisme tersebut terjadi. Pengkaitan nama Soeharto dan
keluarga Cendana dengan aksi-aksi kekerasan, yang memang marak belakangan
ini, memiliki alasannya masing-masing. Pak Harto meninggalkan kursi
kepresidenan akibat upaya pelengseran yang dilakukan mahasiswa, elite
politik, cendekiawan, bahkan mantan pendukungnya. Oleh karena itu bisa
dimengerti jika dalam lubuk hati mantan penguasa tunggal itu tersisa
seberkas rasa dendam yang cukup mendalam. Mengingat untuk berkuasa kembali
tidak mungkin, dia ingin membuktikan bahwa kepergiannya dari Istana Negara
akan membuat Indonesia kacau dan tidak aman, berbalik total dengan keadaan
pada masa kekuasaannya.

Kepergian Pak Harto dari kursi kepresidenan juga menyisakan rasa ketakutan
di banyak orang, khususnya mereka yang dulu sempat mendapatkan rezeki
darinya. Seperti yang terjadi terhadap pemimpin yang tergusur lainnya,
terhadap Pak Harto pun diterapkan upaya peradilan. Pengadilan terhadapnya
terutama dituntutkan kelompok mahasiswa, elite politik yang sempat menderita
pada zaman emasnya penguasa tersebut, dan kelompok intelektual yang
beridealisme mencari keadilan sampai tuntas. Bisa dimengerti jika mereka
yang pernah nunut mukti pada zaman Soeharto sekarang berusaha mati-matian
untuk mencegah proses pengadilan terhadap diri mantan bos mereka. Berkat
sukses yang mereka raih pada zaman Orde Baru, kelompok ini mempunyai cukup
dana untuk mengupayakan batalnya pengadilan terhadap mentor mereka. Salah
satu upaya yang sudah mereka hafal adalah jalan teror.

Pendek kata, ada segudang landasan pemicu bagi kelompok Cendana untuk
mengacaukan keadaan. Namun sampai hari ini pemahaman itu masih tetap
bersifat spekulatif karena proses peradilan yang membuktikan kebenarannya
belum sempat digelar. Usaha kejaksaan agung untuk menyeret mantan orang
nomor satu di Indonesia tersebut masih superfisial karena hanya mengajukan
kasus penyalahgunaan dana yayasan, belum kasus-kasus lain yang lebih berat
bobotnya, semacam pelanggaran HAM, atau pembuatan kebijakan politik yang
berbuntut kekerasan.

Jika kita simak secara permati perjalanan sejarah perpolitikan kita selama
34 tahun terakhir ini, akan kita dapati peristiwa menarik yang dapat kita
golongkan sebagai pengulangan sejarah. Pada masa jaya-jayanya Pak Harto,
tiap tindakan yang dinilai antikekuasaan selalu dilabelkan sebagai
kembalinya pengikut komunis, bangkitnya kembali komunisme atau
bergentayangannya komunis-komunis malam. Tiap tindakan tak terpuji di mata
pemerintah Orde Baru, hampir selalu diidentifikasikan dengan komunis. Bahkan
ketika hikayat komunisme di dunia nyaris tamat, pemerintah Soeharto masih
sempat menuding kelompok Partai Rakyat Demokratik sebagai berbau komunis.
Ini menunjukkan adanya sikap mental yang sengaja ditanamkan penguasa Orde
Baru kepada rakyat untuk memelihara biang kerok yang bisa dituding tiap kali
terjadi kesalahan, gangguan maupun kegagalan. Rakyat yang bergerak
mempertahankan tanah mereka ketika aksi penggusuran dilakukan pengusaha yang
didukung penguasa, tudingan komunis dengan cepatnya akan muncul.

Bahasa sejarah mengatakan, peristiwa sejarah cenderung terulang. Pak Harto
yang dulu senang menuding orang atau kelompok sebagai biang kerok, kini
harus mengalami nasib serupa dengan yang dia lakukan terhadap orang lain. Di
Bali orang berbicara tentang karmapala, sementara di Jawa orang menyebutnya
ngundhuh wohing panggawe, memetik hasil perbuatan sendiri. Dulu rakyat
dengan ringannya menunjuk hidung PKI untuk tiap peristiwa negatif, kini
rakyat mulai menunjuk hidung Pak Harto dan konco-konconya. Budaya tunjuk
hidung kini tengah lahir dan tumbuh dengan pesat sebagai pengulangan sejarah
atau historical recurrance dari masa Orde Lama dan Orde Baru. Kita masih
ingat betapa dengan entengnya rakyat, terutama PKI, menunjuk hidung apa yang
mereka kategorikan sebagai tujuh setan desa sebagai biang kerok musibah
ekonomi dan sosial pada awal-awal tahun 1960-an.

Budaya tunjuk hidung ini memiliki muatan amat berbahaya, karena cenderung
mendorong munculnya aksi spontan atau sepihak. Pada zaman Orde Lama, anggota
PKI dengan mudah melakukan penjarahan hak milik rakyat hanya dengan landasan
tunjuk hidung bahwa pemiliknya adalah salah satu dari tujuh setan desa,
yaitu tuan tanah. Itulah yang disebut-sebut sebagai aksi sepihak, yang
terkadang memang bersifat spontan. Pada zaman Orde Baru, label ''PKI'',
''Gestapu'' maupun ''tak bersih lingkungan'' dapat digunakan sebagai
landasan tunjuk hidung yang amat ampuh bagi rakyat biasa maupun pemerintah.
Penunjukan hidung semacam itu sudah cukup kuat secara hukum (rimba) untuk
memperlakukan korban secara sewenang-wenang, bahkan tidak jarang dengan
menggunakan kekerasan. Kasus tangkap, tahan tanpa peradilan sampai tidak
tahan, sangat marak pada zaman awal-awal Orde Baru.

Kita memang memprihatinkan munculnya budaya tunjuk hidung yang mulai merebak
akhir-akhir ini. Namun kita yakin bahwa pemerintahan Gus Dur tidak akan
melakukan kesalahan sama seperti yang dilakukan Orla maupun Orba, yang
sempat menelan korban ratusan ribu nyawa manusia. Jika budaya ini tak
teredam dan tak tercegah perkembangannya, tak pelak lagi bangsa kita kembali
terjerumus ke dalam budaya tunjuk hidung yang sama jahatnya dengan yang
berkembang pada zaman pemerintaha Bung Karno maupun Pak Harto.

Sebelum telanjur marak, kita masih mempunyai kesempatan untuk meredamnya.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Sep 2000 jam 09:53:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke