----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 28/III/16-23 September 2000
================================================

PERUSAHAAN SOEHARTO PRODUKSI BOM

(PERISTIWA): Hanya ada tiga pemegang izin impor dan distribusi bahan
peledak di Indonesia. Dua diantaranya perusahaan milik Keluarga
Soeharto.

Bom meledak di Kantor Kejaksaan Agung, 4 Juli 2000, persis di ruangan
di mana berkas-berkas perkara dan dokumen-dokumen kasus korupsi Orde
Baru disimpan. Hari itu bertepatan dengan pemeriksaan Tommy Soeharto
untuk dugaan korupsi yang dilakukan ayahnya. Bom yang meledak adalah
jenis M-1 (military one) buatan PT Pindad. Identitas bom diketahui
berasal dari gudang TNI Angkatan Darat, oleh karenanya, penyelidikan
polisi mentok.

Lalu, 31 Agustus 2000, bahan peledak meledakkan sebuah mikrobis milik
Kopaja di jalan Taman Margasatwa, sekitar 500 meter dari Departemen
Pertanian, tempat persindangan kasus Soeharto. Bom itu meledak, sehari
sebelum kasus Soeharto untuk pertamakalinya disidangkan.

Dua pekan kemudian, juga sehari sebelum kasus Soeharto disidangkan
lagi, 13 September 2000, sebuah bom meledak di BEJ. Jenis bom yang
digunakan kali ini adalah C-4 atau semtex, jenis yang juga digunakan
untuk mengebom rumah Dubes Filipina. Apa artinya ini? Artinya ada
indikasi awal bahwa ada kaitan antara rangkaian pemboman itu dengan
kasus Soeharto. Tak berlebihan jika masyarakat menduga, Seoharto atau
setidaknya para operatornya terkait dalam rangkaian pemboman ini.

Apalagi, menarik diketahui, bahwa ternyata, sejumlah perusahaan milik
keluarga Soeharto memegang izin impor dan distribusi bahan baku
pembuatan bom dan memonopoli impor dan distribusi bahan peledak jadi.

PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) perusahaan yang dimiliki Bambang
Trihatmodjo dan Hutomo Mandala Putra melalui Keppres No 86/1994  yang
berisi Perubahan atas Keppres No. 5/1988 tentang pengadaan bahan
peledak" Merubah ketentuan yang mengatur tentang pengadaan bahan
peledak, memperoleh monopoli impor dan peredaran bahan peledak untuk
keperluan industri. Keppres ini memberikan hak monopoli menyangkut
pengadaan bahan peledak yang meliputi kegiatan produksi dan penjualan
bahan peledak dan komponennya. Keppres ini juga memberikan hak
monopoli distribusi bahan peledak dan komponen kepada PT Dahana untuk
bahan peledak militer.

Lalu, ada lagi Keppres 14/1997 tentang pengadaan bahan peledak,
memberi lagi izin impor bahan peledak kepada sebuah perusahaan swasta
yakni PT Tridaya Esta, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang
energi, milik Bambang Trihatmodjo.

Selain mengimpor bahan peledak dan bahan baku peledak PT MNK ternyata
juga mengantungi izin memproduksi amunium nitrat, bahan baku utama
bom. Amunium nitrat berbentuk biji putih sebesar kacang hijau. Barang
ini tidak berbau itu tak bereaksi apa-apa jika terkena api. Namun,
akan menjadi barang berbahaya jika dilengkapi detonator dan solar
dalam komposisi tertentu.

Dua tahun terakhir produksi amonium nitrat PT MNK mencapai 30 ribu
ton. Sementara total kebutuhan dalam negeri untuk tahun 1999
diperkirakan 120 ribu ton. Jadi, seperempat kebutuhan amonium nitrat
dalam negeri diproduksi PT MNK. Pembeli amonium nitrat dari PT MNK
adalah perusahaan-perusahaan besar, seperti PT Freeport, PT Semen
Padang, PT Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa, serta beberapa
perusahaan tambang emas, batubara, dan nikel.

Polisi sebenarnya bisa memeriksa dua perusahaan milik keluarga
Soeharto itu apakah berkaitan dengan rangkaian peledakan di Tanah Air.
Tampaknya, polisi tak memiliki pengetahuan di bidang ini, bahkan juga
tak memiliki kekuatan untuk membongkarnya, kendati institusi ini
sebenarnya tahu siapa pelakunya. Ini yang membuat Jaksa Agung Marzuki
Darusman kesal. Ia mengungkapkan, polisi menghadapi kesulitan dalam
melakukan penyelidikan terhadap peristiwa pengeboman karena harus
berhadapan dengan militer. "Polisi berhenti melakukan penyelidikan,
karena harus berhadapan dengan militer," ujar Marzuki.

Kapolri Jenderal Polisi Rusdihardjo pernah mengatakan ia kesal dengan
Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Sudi Silalahi yang berusahan menutupi
dan melindungi pelaku pemboman Kejaksaan Agung. Bom yang dipakai
membom Kejaksan Agung berasal dari Kodam V Brawijaya. Sudi adalah
orang Jendral Wiranto, jendral yang secara tragis terguling dari
jabatannya di pemerintahan. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 04:47:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke