----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 20 September 2000

EDITORIAL: Embargo bukan Peradaban

TIMOR Timur kembali menjadi duri dalam daging. Sekalipun negeri
itu telah menjadi negara yang merdeka, tetapi durinya masih
terus melukai dan bikin berdarah-darah citra Indonesia. Bahkan,
kali ini berupa ancaman dibatalkannya kelangsungan semua bantuan
ekonomi komunitas internasional kepada Indonesia.

Yang memberi ancaman bukan sembarang negara. Ancaman itu
meluncur dari mulut Menteri Pertahanan Amerika Serikat William
Cohen. Dan, disampaikan langsung kepada Presiden Abdurrahman
Wahid.

Intinya, pemerintah Amerika Serikat meminta pemerintah Indonesia
untuk menyelesaikan dengan cepat persoalan di Atambua. Terutama,
segera menghentikan semua aksi kekerasan yang dilakukan oleh
anggota milisi Timor Timur di wilayah permukiman pengungsi.
Indonesia berjanji memenuhinya. Jika tidak, AS mengancam
menghentikan pemberian bantuan ekonomi dan kerja sama militer
Indonesia-AS. Dengan kata lain AS memikirkan sebuah bentuk
embargo.

Omongan Menhan Cohen itu, kembali memperlihatkan watak dasar
pemerintah AS. Yaitu, arogan. Inilah keangkuhan kekuasaan negara
superpower, yang semakin menjadi-jadi setelah perang dingin
usai.

Setelah bangkrutnya komunisme dan robohnya Uni Soviet sebagai
negara adikuasa, maka praktis AS satu-satunya negara yang paling
berkuasa di dunia. Sebuah kekuasaan yang membuat AS bisa
seenaknya mendikte negara lain. Bukan lagi dengan ancaman invasi
militer, melainkan dalam bentuk yang lebih sublim yaitu embargo
ekonomi. Yaitu, melumpuhkan negara yang tidak memenuhi `selera
politik` AS, dengan cara menyiksanya perlahan-lahan. Ancaman
militer adalah kematian yang cepat dan kasar; sedangkan ancaman
ekonomi adalah kematian gradual dan halus. AS, sang polisi dunia
itu, memilih sikap, kejam tapi beradab. Padahal, kekejaman
adalah kekejaman, kekerasan adalah kekerasan, apa pun bentuk dan
isinya. Tetapi inilah perkara yang sulit dipahami oleh siapa pun
yang terlalu berkuasa.

Sikap AS itu telah dilakukan terhadap banyak negara. Dan
sekarang mengancam Indonesia. Sesuatu yang terang bisa berakibat
fatal bagi Indonesia, yang sedang dihajar krisis ekonomi. Bangsa
ini jelas memerlukan bantuan ekonomi dari komunitas
internasional, tetapi inilah pula bangsa yang suatu masa dalam
sejarahnya pernah mempersetankan bantuan luar negeri (go to hell
with your aids), dan pernah pula mencampakkan IGGI karena
mencampuri urusan dalam negeri.

Ancaman Menhan Cohen dinilai banyak kalangan sebagai sikap
keterlaluan. Pula, bukan lagi zamannya main ancam. Tetapi AS
rupanya tetap memperlihatkan wataknya yang arogan, dan mengira
sikap itu efektif menghadapi Indonesia.

Dalam hal yang terakhir ini Cohen bisa sangat keliru. Karena
Republik Indonesia bukan negara cacing. Yang diinjak cuma bisa
menggeliat lalu mampus. Tidak, sekali lagi tidak. Bangsa ini
adalah bangsa yang mampu melawan. Embargo ekonomi AS itu bisa
membawa bumerang bagi kepentingan Amerika di dan sekitar
Indonesia. Karena itu..., Washington..., ancaman embargo kepada
negara lain adalah tabiat politik kuno yang tidak pantas
dilakukan di zaman ini.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Sep 2000 jam 06:42:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke