---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Peledakan Bom, Cara Kekuatan Lama Pertahankan Eksistensinya Jakarta, Kompas Cyber Media Rentetan peledakan bom yang terjadi di Tanah Air, terutama di Gedung BEJ, dinilai sebagai cara kekuatan lama untuk mempertahankan eksistensinya di tengah arus demokratisasi yang tengah bergulir. Penilaian tersebut terangkum dalam diskusi bertajuk "Menguji Kredibilitas Pemerintah dalam Menangani Kasus Peledakan Bom" yang diselenggarakan Komunitas Untuk Transformasi (Katalis) yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis. Diskusi tersebut menghadirkan Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Hendardi serta Abdul Hamid dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). "Bagaimanapun juga kekerasan tampaknya merupakan cara yang efektif bagi kekuatan lama untuk meningkatkan 'bargainning position' (posisi tawar) mereka dengan penguasa baru," kata Abdul Hamid. Rangkaian tidak kekerasan, khususnya bom, menurutnya, membuat pemerintah memperhitungkan kekuatan lama ini dengan tidak melakukan tekanan yang kuat terhadap para tokoh yang pernah berkuasa di masa lalu. "Peradilan terhadap tindak korupsi yang dulu pernah dilakukan pun akan berkurang, bahkan dikompromikan," katanya. Hendardi juga sependapat bahwa demokratisasi yang tengah digulirkan memiliki konsekuensi penegakan supremasi hukum, yang pada akhirnya dapat menyeret penguasa dan kroni Orde Baru ke pengadilan. "Karena itu, mereka berkepentingan untuk menciptakan ketidakstabilan yang dapat menghambat berjalannya proses demokratisasi tersebut dengan berbagai tindak kekerasan," katanya. Ia juga menyayangkan kelambanan pemerintah dalam mengungkapkan berbagai kasus peledakan tersebut. "Ini menunjukkan pemerintah, khususnya polisi, tidak berdaya untuk menghadapi aspek politik dalam upaya pengungkapan kasus tersebut," katanya. Dalam kaitan itu, ia berkeyakinan siapapun figur kepala kepolisian akan menghadapi kesulitan jika problem-problem politis tersebut masih kuat. "Jika kemudian berhadapan dengan TNI, polisi tidak akan berani untuk meneruskan pengusutan," katanya. Sementara itu, Abdul Hamid berkeyakinan bahwa kasus peledakan bom tidak akan terungkap. "Paling-paling kemudian tercapai kompromi yang menghasilkan kesepakatan untuk tidak ada lagi teror peledakan bom," katanya. Hendardi menyatakan, ketidaktegasan komitmen pemerintah untuk memutus hubungan dengan masa lalu menjadi hambatan penting dalam pengungkapan berbagai kasus yang melibatkan tokoh-tokoh Orba, termasuk peledakan bom. "Ketidaktegasan ini terlihat dari proses peradilan, seperti kasus Soeharto, yang mengesankan hanya akal-akalan saja," katanya. Masih kuatnya pengaruh politik institusi militer seperti terjadi di masa lalu, juga menjadi hambatan bagi penegakan hukum. "Pengadilan terhadap 19 tersangka pelanggaran HAM berat di Timtim pun kemudian ternyata diarahkan pada pemeriksaan kriminal biasa," katanya. Karena itu, kata dia, pemerintah harus mengambil langkah memutus hugungan dengan masa lalu melalui pencabutan Dwifungsi TNI/Polri yang secara politis masih berlangsung hingga saat ini. Selain itu, kata dia, Presiden harus mengambil jalan pintas untuk menegakkan supremasi sipil dengan memensiunkan dini para tentara, terutama TNI AD, yang terbukti telah melakukan manuver menghambat proses demokratisasi. Pemeriksaan berbagai kasus pidana yang melibatkan penguasa dan kroni Orde baru harus dilaksanakan hingga tuntas. "Selain itu perlu dilakukan pembatasan terhadap tokoh-tokoh yang berperan di pemerintahan masa lalu dalam berbagai bidang untuk tidak lagi menduduki jabatan publik," katanya.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Sep 2000 jam 06:43:52 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
