---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Kritik Sultan untuk Gus Dur Jakarta - 28 09 2000, (Buana News) Presiden Gus Dur seharusnya tidak perlu mengeluarkan pernyataan yang mengizinkan mahasiswa untuk melakukan demo ke Cendana dengan cara-cara anarkis seperti memecahkan kaca di rumah Pah Harto. Demonstrasi tidak identik dengan kekerasan. Belum diketahui apa tujuan Gus Dur membuat pernyataan semacam itu. Tapi yang jelas, seorang pemimpin tidak sepantasnya mengeluarkan pernyataan itu. Demikian pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X usai diskusi 'Budaya dan Restrukturisasi Ekonomi', di Jakarta Media Center (JMC) kemarin. Pernyataan ini menanggapi pertanyaan wartawan tentang diijinkannya mahasiswa berdemo di sekitar rumah Soeharto walaupun harus melempari dan memecahkan kaca-kaca tempat tinggal mantan presiden tersebut. "Apapun kesalahan yang dilakukan Pak harto pada masa lalu, tidak pantas kalau sekarang harus dikuyo-kuyo sementara proses hukumnya belum selesai," ujar Sultan. Saat ditanya mengenai sikap dari kelompok Ciganjur terhadap kendala-kendala Presiden, Sri Sultan hanya mengatakan,"Ciganjur itu ada pada saat lalu. Sekarang ini Ciganjur sudah tidak ada lagi," katanya. Menyinggung dokumen Yogja hasil pertemuan beberapa tokoh nasional sebelum ST MPR lalu, Sri Sultan mengatakan, sebenarnya dokumen Yogya itu sudah jelas, bahwa sebagai pemimpin suatu bangsa dan negara mereka harus menyadari kondisi saat ini. "Prakteknya sekarang apakah mereka menyadari atau tidak. Jika tidak menyadari itu, berarti para pemimpin itu akan memiliki resiko sendiri," tegasnya. Sri Sultan juga membantah bahwa etnis Jawa identik dengan kekerasan, meski ada fakta yang menunjukkan banyak kerusuhan dilakukan oleh orang Jawa. "Saya tak yakin, apakah budaya atau latar belakang etnis bisa demikian mempengaruhi pribadi seseorang, atau malah sifat-sifat internal orang tersebut yang bisa menciptakan budaya kekerasan," ujarnya mempertanyakan. Menurut Sri Sultan, meskipun suku Jawa menjadi mayoritas, bukan berarti menjadi dominasi, tapi malah memberikan keseimbangan. Ia menilai, masyarakat Indonesia umumnya kurang menghargai proses. Kita inginnya segera menikmati hasilnya tanpa ingin melalui proses. "Padahal proses menentukan keberhasilan. Dengan proses bisa memperkaya visi dan membangun pemahaman," tegasnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Sep 2000 jam 11:13:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
