SUKSES BERKAT FILOSOFI BAMBU Nakita-353. Mental tangguh seperti bambu membuat anak-anak dari etnis tionghoa banyak mengukir prestasi.
Benarkah anak-anak dari etnis Tionghoa lebih cerdas? Pertanyaan ini terlontar demi melihat banyaknya pelajar dari etnis Tionghoa yang berprestasi di ajang lomba sains dan matematika. Dugaan lantas muncul, prestasi itu diraih karena orangtua mereka menerapkan pola asuh yang mengutamakan kedisiplinan. Cap sukses yang disematkan pada anak-anak keturunan Tionghoa memang cukup ber-alasan, meski hal tersebut tidak bisa digeneralisasi. Yang jelas, seperti dikatakan Pangesti Atmadibrata, masyarakat etnis Tionghoa sangat menghargai kaum terpelajar. Oleh karenanya, apa pun mereka perjuangkan demi pendidikan anak-anak. UTAMAKAN PENDIDIKAN Pengamat budaya Tionghoa yang mengajar bahasa Mandarin di Fakultas Sastra Universitas Bina Nusantara Jakarta ini lantas mengutip filosofi Tionghoa kuno yang mengatakan, "Orang yang terhormat adalah orang yang terpelajar." Ajaran konfusionis itu kata Chichi, panggilan akrabnya, menjelaskan betapa tingginya derajat orang-orang terpelajar, melebihi "status" para saudagar. Dulu, semasa Tionghoa masih berbentuk kekaisaran, semua warga yang lolos ujian negara bisa menjadi pejabat kerajaan meski tidak memiliki darah bangsawan. Dengan kata lain, kepemilikan ijazah atau keterampilan merupakan salah satu cara untuk me-naikkan derajat seseorang. Paradigma tersebut boleh jadi menjadi pemicu warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk memen-tingkan pendidikan, meski dalam praktiknya kini sedikit mengalami pergeseran. Fokus untuk mengejar pendidikan tinggi tetap sama, tapi caranya dengan memperkuat ekonomi keluarga. Berbekal keuletan, mereka berhasil menjadi pengusaha sukses. Ketersediaan dana tentu saja membuat orangtua bisa memilih sekolah berkualitas bagi anaknya. Memang, sih, tidak semua sekolah mahal pasti bagus, tapi sekolah yang berkualitas umumnya mahal. Segala aturan dan disiplin yang diberlakukan di sekolah ikut membentuk anak tumbuh menjadi individu mandiri dan senang bekerja keras. Tak heran kalau warga keturunan Tionghoa lantas terkesan berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke sekolah favorit, sekolah bertaraf internasional, bahkan ke luar negeri. Namun, kehidupan sederhana pun ternyata tidak menghambat niat mereka mencari ilmu setinggi mungkin di bangku sekolah. Ini bisa dilihat dari banyaknya warga keturunan yang merantau ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya hanya agar bisa mengenyam pendidikan layak. Meski harus hidup prihatin dengan modal seadanya, mereka tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ini yang patut ditiru. Akan tetapi sejauh mana filosofi kuno tentang pendidikan ini diwariskan secara sadar dalam masyarakat etnis Tionghoa di tanah air, Chichi tak bisa memberi jawaban pasti. Terutama karena sekian lama sejak Indonesia merdeka, segala macam bentuk budaya, simbol maupun ajaran leluhur Tionghoa diberangus. "Saya banyak menemukan generasi Tionghoa yang buta ajaran leluhur, termasuk bahasa, seni, budaya dan sejenisnya meski memang sangat mungkin jika ajaran leluhur tentang pendidikan diwariskan secara turun temurun pada anak sebagai generasi penerus." BERBISNIS SEJAK KECIL Ada lagi prinsip lain yang menjadi kunci sukses etnis Tionghoa. Salah satunya, "Sebelum perusahaan kuat, pantang makan laba." Prinsip ini agaknya dicamkan betul oleh mereka saat membuka usaha apa pun. Jika dari modal sebesar Rp1 juta mereka mendapat keuntungan Rp500 ribu, keuntungan tersebut mereka jadikan sebagai tambahan modal. Begitu seterusnya sampai usahanya betul-betul kuat. Konon sebelum bisnis keluarga berjalan lancar, warga keturunan tidak akan makan nasi, melainkan bubur. Mereka tak mau membiasakan diri hidup enak kalau belum berhasil. Niat mereka, tak hanya ingin mengecap manisnya laba dan kesuksesan, melainkan juga pahit getirnya berusaha. Intinya, dengan banyak mengecap pahit getirnya berusaha, wawasan dan pengalaman mereka dalam menjalankan roda bisnis akan semakin teruji. Filosofi lainnya, warga keturunan konon merasa lebih bangga menjadi kepala ayam ketimbang ekor macan. Artinya, mereka lebih senang membuka usaha sendiri ketimbang bekerja pada orang lain. Namun menurut Chichi, filosofi ini sudah sedikit berubah. Tengok saja, cukup banyak generasi muda warga keturunan yang disekolahkan di luar negeri demi meneruskan bisnis ayahnya. Baru setelah orangtuanya tiada, si anak naik menggantikannya. Meski kelak menggantikan sang ayah, generasi penerus yang secara khusus disiapkan dengan disekolahkan setinggi mungkin umumnya tidak serta merta memegang jabatan tinggi. Melainkan tetap harus merangkak dari bawah. Setelah mendapat gelar sarjana atau master dari luar negeri mereka ditempa dengan menjadi pegawai rendahan lebih dulu di perusahaan tersebut dengan harapan bisa belajar banyak mengenai seluk-beluk perusahaan. Tidak sedikit pula orangtua yang "menitipkan" anaknya ke kerabat atau kenalan agar bisa belajar menjalankan bisnis. Sejak kanak-kanak, warga keturunan memang akrab dengan dunia bisnis, misalnya ditugasi menjadi kasir di toko. Di Tionghoa, Singapura atau Taiwan, anak-anak biasanya dilibatkan dalam urusan bisnis lewat bazar. Anak-anaklah yang harus mengatur mau dagang apa dan bagaimana mengaturnya. Semuanya dipertanggungjawabkan, dari besarnya modal, keuntungan, kerugian, dan sebagainya. Tak heran naluri bisnis mereka sudah terlihat sejak kecil. "Saya sering ditawari mahasiswa jepitan lucu warna-warni hanya karena tahu saya punya anak kecil," tutur Chichi. Mereka juga tidak gengsi untuk menawarkan barang dan jasa kepada siapa saja yang ditemuinya. SURVIVAL TINGGI Mayoritas perantau dari etnis mana pun umumnya memiliki semangat bertahan yang tinggi. Mereka lebih ulet dan cenderung bekerja keras ketimbang penduduk asli. Nah, untuk bertahan hidup, keluarga keturunan Tionghoa umumnya menerapkan filosofi bambu. Bambu adalah pohon yang memiliki daya tahan luar biasa karena mampu bertahan hidup dalam 4 musim berbeda. Selain gampang tumbuh di mana saja, baik di daerah dingin, kering, panas, atau lembap. Dengan menerapkan filosofi ini, warga keturunan bisa bertahan hidup di mana saja, dalam situasi dan kondisi apa pun. Karakter tahan banting agar bisa bertahan hidup inilah yang "ditularkan" pada anak-anak mereka. "Saya saksikan banyak warga keturunan yang prestasi belajarnya sangat hebat meski kondisi ekonominya pas-pasan. Mereka tinggal di kamar yang sempit, lo. Makan pun seadanya, tapi terus terpacu untuk meningkatkan prestasi," ungkap Chichi. PATUT DICONTOH Siapa pun dari golongan dan ras apa pun mestinya bisa menerapkan pola asuh serupa. Jadi, tidak eksklusif "milik" keluarga keturunan Tionghoa. Namun tentu saja, orangtua mesti menyadari, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari prestasi di sekolah, di ajang lomba, maupun perolehan materi di masa dewasa. Anggaplah dua hal tadi sebagai buah dari upaya orangtua mengutamakan pendidikan anak, bukan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Buktinya, inti dari filosofi bambu adalah bagaimana mendidik anak menjadi manusia yang tangguh, yang tentunya menuntut kedisiplinan, kemampuan bersosialisi, serta kreativitas yang tinggi. Inilah yang sepatutnya kita tiru. Saeful Imam. Ilustrator Pugoeh __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ----------------------------------------------- IndoPB - Indonesia PB User Group To Post a message, send it to: [EMAIL PROTECTED] To Unsubscribe,send a blank message to: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indopb/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
