http://www.waspada.com/030599/headline/headlin2.htm

    ----------------------------------------------------------------

                         BERITA UTAMA WASPADA

                          JUMAT, 5 MARET 1999
 -----------------------------------------------------------------------

                      Muslim Maluku Menentang Portugis

      JAKARTA (Waspada): Kerusuhan antara pihak Muslim dan Kristen
      menjadi-jadi di Ambon (Pulau). Para pendatang dari Bugis, Buton,
      Makasar dan Pendatang lain kurang disenangi oleh etnis lain - Ya,
      Kristen (?). Uniknya, gejala seperti ini baru timbul hebat di
      awal tahun 1999. Kenapa demikian?

      Siapakah yang menyulut kerusuhan-kerusuhan hebat ini di Pulau
      Ambon? Ambon manise tak terdengar lagi. Malah Ambon Pahite.

      Siapakah dalang-dalang kerusuhan itu? Apa ada orang dalam atau
      ada dana-dana diberikan negara besar sekarang ini pada pihak
      perusuh di Ambon dan Pulau Maluku lainnya? Apa ada pihak RMS
      berada di sana, atau ditiup-tiup oleh pihak dalang "RMS" agar
      Ambon jadi rusuh?

      Apakah hanya sekarang baru terjadi kerusuhan antara pihak Muslim
      dan non-Muslim di Ambon dan Pulau-pulau Maluku lain?

      Sejarah kuno belum kuno sekarang ini. Sejarah "tempo doeloe"
      berkibar kembali tahun 1999 di Ambon dan beberapa Pulau lain di
      Ambon dan Maluku. Kaum-kaum pendatang tanpa disadari mati
      ketakutan sekarang di Ambon atau di Maluku. Bukan karena ditakuti
      kaum penjajahan (Belanda atau Portugis)!.

      Seorang penulis buku bernama I.O.Manulaitta, menulis buku dengan
      judul "Timbulnya Militerisme Ambon" sebagai suatu persoalan
      Politik, Sosial dan Ekonomis. Tulisannya di dalam buku itu cukup
      berkualitas. I.O.Manulaitta asal Ambon adalah Lektor Kepala Luar
      Biasa pada IKIP Jakarta.

      Tulisannya dalam buku itu kelihatan masih relevan diungkap
      sekarang sebagai latarbelakang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi
      di Ambon, Maluku itu. Untuk penulisannya itu dia telah
      menghubungi Mr J Latuharhary, alm Prof Mr Dr Sukanto, kemudian
      Drs M Ali Kepala Arsip Nasional masa itu.

      Manuskrip buku ini sebenarnya adalah skripsi yang diajukannya
      kepada Panitia Ujian Akhir memperoleh ijazah BII Sejarah di
      Jakarta tahun 1959. Oleh Penerbit Bhatra Jakarta di terbitkanlah
      buku ini tahun 1966.

      Nama Ambon diberikan oleh Portugis, padahal nama asilinya adalah
      Nusa Japoono yang berarti Pulau Ambon. Menurut arti yang
      sebenarnya hanya penduduk pulau Ambon itu saja yang berhak
      disebut orang Ambon. Tulis Manulaitta.

      Islam menantang Portugis

      Orang Belanda tiba di Ambon pada saat sedang terjadi permusuhan
      hebat antara rakyat Maluku dengan orang-orang Portugis, antara
      rakyat Maluku beragama Islam dan Kristen. Permusuhan dengan
      Portugis yang menguasai gedung rempah-rempah tidak berhasil,
      tindakan Gubernur dan serdadu Portugis tidak bijaksana,
      menimbulkan kebencian rakyat. Tugas Portugis ialah memerangi
      orang-orang Islam, rakyat yagn beragama Islam. Politik menjadi
      untung. Portugis dibaurkan dengan politik penyebaran agama.

      Dualisme ini melemahkan Portugis. Portugis sudah ada di Maluku
      tahun 1582. Di bawah pimpinan Antonio de Eritto. Karena dagang
      Portugis menangkap Sultan Tabariji (1533-1535) di buang ke Goa.

      Di Jawa - Portugis dihalau dan ditentang oleh pihak Banten, Demak
      dan pedagang-pedagang Islam di Pesisir Jawa Timur. Kemudian
      orang-orang Jawa dibantu Hitu menyerang Portugis dan berhasil
      mengusir Portugis.

      Sedari dulu Leitumor Uli Siwa bermusuhan di Hitu - Uli Lima.
      Pertumpahan darah berlarut-larut karena perang agama, Islam
      melawan Kristen. Seorang Islam begitu hebat sehingga orang-orang
      Portugis semuanya meninggalkan Maluku (tahun 1551).

      Permusuhan yang hebat antara rakyat dengan rakyat dan rakyat
      Islam dengan Portugis, membuka jalan suatu kekuasaan baru, untuk
      menguasai seluruh Maluku. Lembaran sejarah yang digambarkan di
      atas termasuk lembaran sejarah terhitam, dalam sejarah
      perkembangan agama Islam dan agama Kristen di Maluku.

      Kemungkinan besar persekutuan Pela (saudara) yang dikenal sampai
      sekarang timbul dikemudian hari sebagai hasil kesadaran akan masa
      gelap itu. Persekutuan Pela ini adalah suatu jalan mengakhiri
      permusuhan antara Islam dan Kristen. Satu jalan yang sangat
      efektif.

      Buktinya sampai sekarang kita lihat negeri-negeri Kristen Pela
      dengan negeri-negeri Islam misalnya Boi (Saparua) - Aboru - Kariu
      (Haruku) ketiganya Kristen-Haolai (Seram-Islam)-Haria
      (Saparua-Kristen)-Sirisori-Islam.

      Persekutuan terjadi berdasar adat, agama Islam, agama Kristen,
      bantu-membantu dalam segala hal. Bila suatu negeri Kristen
      mendirikan gereja. Pelanya negeri Islam membantu ramuan, uang dan
      tenaga. Sebaliknya pembangunan Masjid mendapat bantuan Pelanya
      Kristen.

      Tanggal 13 Mei 1605 semua orang Portugis dan Mestis (turunan
      Portugis dengan wanita Asia) sebanyak 150 orang dikeluarkan dari
      Ambon.

      Portugis pergi datanglah VOC Belanda di Maluku. Apa yang dibuat
      16 Agustus 1609, antara lain orang kaya dari Rumakay (Seram
      Selatan) buat perjanjian dengan Belanda. Perdamaian antara
      Kristen dan Islam. Belanda tidak diizinkan mendirikan benteng
     selama ada perdamaian.

      Belanda dengan VOC melakukan dagang monopoli, perdagangan
      monopoli hasil rempah-rempah Maluku. Semua hasil cengkeh, pala
      dari Maluku harus dijual pada VOC. Rakyat boleh membeli
      barang-barang yang dimasukkan Kompeni (VOC-Belanda). Beras
      Belanda yang membagikan pada rakyat. Padahal apa yang terjadi
      pada pedagang-pedagang Jawa membawa beras? Di mana-mana pedagang
      Jawa itu dihalau Belanda. Monopoli angkutan juga dipegang VOC.
      Semua rempah-rempah hasil Maluku harus diangkut dengan
      kapal-kapal VOC. Pedagang Jawa dan Makasar tidak mati akal.
      Mereka tetap berdagang ke Maluku, biar ada blokade kapal-kapal
      VOC.

      Tanggal 22 Oktober 1928 ada perjanjian dari Belanda.
      Pedagang-pedagang Makasar dianggap musuh bersama. Orang pelarian
      tidak boleh di Islamkan, tidak boleh di Kristenkan. Ekspansi
      Makasar di Maluku membahayakan Kompeni Belanda. Apa yang terjadi
      Agustus 1632? Karena kegiatan pedagang-pedagang Makasar, Jawa dan
      Melayu Kompeni menyerang Kelang. Apa sebabnya terjadi kekacauan
      itu? Karena cengkeh dan pala! tulis Manilaitta.

      Pemerintah VOC dan Hindia Belanda menjalankan politik adu domba
      daerah dengan daerah, kerajaan terhadap kerajaan, suku terhadap
      suku. Di Maluku, Belanda menjalankan politik penghancuran susunan
      masyarakat dan adat. Tulis Manilaitta.

      Siapakan sekarang ini yang menjadi perusuh di Ambon, Maluku di
      tahun 1999 ini?(Syaiful Nawas)

                        ----------end----------




Kirim email ke