yu senik, yang waktu pertama kali kukenal dulu masih tapihan, kemarin 
sore rok-rokan sambil nyangking gathul lewat 'kulon ngomah'. oleh 
saya ngisik-isik vespa berhenti. yu senik saya ampirkan.

'wah yu mbok mampir dulu. idhep-idhep nyaur utang kemarin sore. saya 
kesana tapi peteng je. apa agak mriang toh? mari toh. mampir dulu. 
nggo tamba gela.' begitu kataku ngampirke yu senik.

'nggak. memang prei kok', begitu kata yu senik sembari menggok ke 
pekarangan saya, njujuk ke drum bekas aspal yang saya jadikan tandon 
air hujan, untuk keperluan nyirami pot. cuci kaki, cuci tangan, lalu 
membuka kran, tangannya dibasahi untuk 'raup'. lalu gathulnya ikut 
dicuci pakai air hujan di drum aspal, dan kemudian diselehkan eh 
diletakkan di samping pintu. 'wah praktis ini. nggak perlu ke kolah 
[red.: kamar mandi]', katanya mengomentari drum aspal tandon air 
hujan. 'kok.... nggak ada uget-ugetnya? sampeyan kasih abate toh 
mas?' 

'nggak... saya ingoni cethul [red.: saya pake untuk pelihara 
ikan kecil]'.

melihat 'ritual', yang dilakukan oleh yu senik, aku mafhum: yu senik 
habis ngirim donga ke kuburan njeruk sari, begitu orang kampung saya 
menyebut makan jeruk sari.

'kok.... dingaren yu.... ngimpi ditemoni mbah karta apa?'

'lho mas.... sampeyan itu gimana toh? wong rembulannya sudah njlarit 
sejak kemarin je. lha ini kan sudah ruwah toh? wancine ngirim donga'. 

'sambil minta berkahnya mbah karta biar kelarisan ..... gitu 
kan?  mari... mari.... mari.... masuk yu. ya maklum ya yu... agak 
berantakan. sebentar. saya mau cuci tangan dulu.' yu senik 
kupersilakan masuk.

'wah... tapi saya nggak bisa lama-lama lho ini mas'. 

'walah .... menik kan ya bisa buka dasar toh yu?'

'wo... menik kok mau bukak dasar.... neh guyih kaya miyi gaying 
[gurih kayak kemiri kering]. menik itu maunya tunggu kan cuma kalau 
ada maunya. kalau nggak, wah..... ora isa dicekel buntute. tapi ya... 
malam ini jangan njeroom lho mas. kecele sampeyan. saya nggak buka'.

'lho kenapa?'

'lho sampeyan ini lali toh? kan ada sembahyangan arwah di rumahnya 
den darsa? katanya ngundang pastur segala. missa arwah, gitu 
katanya'.

blaik. mati aku. hampir saja lupa. 

'o... malah saya hampir lupa. kalo nggak sampeyan elingkan, sida 
kebadaran saya.'

aku selalu nggak habis pikir dengan yu senik ini. kendurian ya ok. 
slametan nggak nolak. den darsa ngundhuh missa arwah, ya... nggak 
keberatan tutup lesehannya.

'maaf ya yu. mbok kalau boleh dan nggak nyinggung perasaan yu senik, 
mbok saya itu taktanya....'

'wo lha mangga. silakan. ada apa toh?'

'gini lho yu. sejatinya sampeyan itu agamane itu apa seh? sasi ruwah 
ya nyadranan. den darsa sembahyangan arwah juga datang. yu kaminem 
slametan, ya ngombyongi. nggone mbah panut kataman juga datang....'

'mas .... apa pertanyaan sampeyan itu kira-kira perlu saya jawab? 
kalau semua peristiwa yang sampeyan sebut tadi bisa sampeyan kataken 
sebagai peristiwa sosial, ya.... anggap saja keberadaan saya di 
sana sebagai sosialisasi. kalau peristiwa itu sampeyan anggap sebagai 
peristiwa agama, dan agama adalah hubungan pribadi antara saya, kita, 
manusia dan tuhannya, mbok biar itu jadi urusan saya dan tuhan saya. 
saya tahu maksud sampeyan itu baek: biar saya itu tidak kesasar 
susur, keliru olehe ngamalken agama. tetapi ya mas ..... kalau maksud 
sampeyan yang baek itu ternyata malah jadi sandungan saya olehe 
manembah sing gawe urip, kan malah kabeh ora pekoleh [red: kita semua 
tidak mendapatken manfaat]. sampeyan rumangsa saya sepelekke [red.: 
tidak saya hormati], dan saya kebrebegen [red.: merasa bising] dengan 
kojah eh kotbah sampeyan. maaf, ya mas. bagi saya, tuhan itu matahari 
saumpamanya. ada orang yang selalu sadar akan kehadiran matahari; ada 
yang sekedar tahu; ada yang nggak pernah memperhatikan karena sudah 
'taken for granted'; dan segala macem lainnya. apa lalu terus 
matahari itu hanya bersinar untuk orang yang sadar saja? kan tidak. 
tapi tanggapan orang terhadap matahari ini, jelas akan memengaruhi 
gerak hidupnya pada saat itu. yang sadar, misalnya, bangun pagi, buka 
jendela, menyenyumi matahari, ngelingi-elingi isteri, anak, sambil 
senyum-senyum karena mereka masih disinari matahari hari di wajahnya. 
yang [cuma] tahu matahari, bangun pagi, membetulkan selimut, 
meneruskan tidurnya.... oh.... mataharinya belum tinggi. dst. dsb. 

begitulah hidup dan agama bagi saya mas. sekali lagi, saya tahu 
maksud sampeyan itu baek: agar saya tidak menyekutukan tuhan. tapi 
mas, maksud baek itu kadang kala juga menjerat diri kita sendiri. 
ibarat matahari yang saya katakan di atas: dia tidak berseru-seru 
agar disadari. tapi orang yang menyadari keberadaannya akan 
mendapatkan rahmat berlimpah.  

kalau pertanyaan sampeyan tadi saya tangkap sebagai wasiat, tanggapan 
saya atas wasiat itu seperti yang saya katakan di atas. tapi kalau 
pertanyaan sampeyan tadi menjerat sampeyan ke dalam keinginan untuk 
'mengkotakkan', 'menggolongkan', mengurungi, membatasi saya, 
mudah-mudahan jawaban saya di atas tidak hanya membebaskan saya 
tetapi sekaligus membebaskan sampeyan'.

aku malu. blangkemen. nggak bisa omong.

'eh... mas. kok malah ngalamun. sampeyan nanti datang ke missa di 
rumahnya den darsa, nggak? kalau nggak datang sida ada orang 
clingukan lho....  e... mas masih sering ketemu ..... yang di gading 
itu nggak?'

'walah..... sampeyan itu malah nguthik-uthik kremi mati [mengutak 
utik cacing yang sudah mampus].....' 

sialan. yu senik ini ternyata mengamati jaman narayana saya juga; 
jaman anyar-anyaran bisa naik honda 90 merah, sepeda motor 'dinas' 
capas asal gunung ketur yang sedang menjalani masa top di gunung 
kidul. seperti baru kemarin saja. 

'permisi dulu ya mas. sampai nanti'.

'o ya ya. mari yu. sampe nanti.'



nop. 1998

Kirim email ke