ini cerita dari teman yang kemudian saya permak di sana-sini. saya 
ceritakan kembali untuk teman-teman. 

sudar mendapatkan hadiah mobil suzuki carry dari kakaknya. 
dia tidak menduganya sama sekali. bagaimana kakaknya yang 
selalu mengkritiknya karena kegemarannya nongkrong di 
'protelon' [pertigaan] mbranang itu begitu saja memberinya 
mobil. meskipun mobil itu tidak baru, dia sungguh menyukainya. inilah 
tanda bahwa kakaknya, yang selalu dia anggap cerewet dan mau 
menangnya sendiri, ternyata sungguh mencintainya. kalau tidak, mana 
mungkin dia memberinya mobil.

sudar mau berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang sering ngamen, 
main ecek-ecek cuwilan batu baterai itu. diajaknya seorang anak yang 
tengah ngamen naik mobilnya. 

'tumben mas sudar. mobil baru ya?'
'he eh. mas gito yang kasih'.
'gratis? wah... baek hati benar mas gitonya mas sudar itu.'
'ya... gratis dong. kalau nggak gratis ya namanya bukan pemberian, 
tapi beli. nah karena itu untuk berbagi rasa senang, aku mau ajak 
kamu keliling kota lalu nanti kita brenti di lesehannya yu senik. aku 
yang bayari. sekarang kamu mau ke mana?'
'terserah mas sudar saja.' 
mereka lalu putar-putar kota. ketika lewat pasar yang agak gelap dan 
bau itu....
'setop-setop mas. brenti dulu.'
'kamu mau merampok saya ya?'
'mas.... saya mau turun di sini saja. terima kasih, mas sudar sudah 
ngubeng-ngubengke saya keliling kota.'  
'tapi kita kan sudah setuju untuk ngleseh di warungnya yu senik...'
'bagaimana mas sudar bisa ngleseh di warung yu senik, kalau saya 
ngerampok mas sudar?'
'maaf, aku percaya kamu tidak akan ngerampok saya. tapi aku takut 
brenti di tempat gelap seperti ini. kalau aku dirampok gimana, hayo?'
'lha kalau sampeyan takut, ya sudah.... saya turun di sini saja. 
tinggalkan saya di sini. di sinilah rumah saya. saya cuma mau memberi 
tahu adik saya.' 
dengan sedikit was-was dan takut, sudar pun berenti di keremangan 
pasar. 
'baek. aku tunggu. ajak sekalian adikmu itu. kita ngleseh bertiga di 
warung yu senik.'
'sebentar ya mas ....' anak itu turun, jalan di 
keremangan pasar, merunduk-runduk di tumpukan kardus. keluar dari 
tumpukan kardus, dia memapah seorang anak kecil, lumpuh, pakaiannya 
dekil, hidungnya ingusan. mereka mendekati suzuki carrynya mas sudar. 
'dik,' begitu kata anak itu kepada yang lebih kecil yang ternyata 
adiknya, 'dik aku akan bekerja lebih keras. dan besuk... kalau aku 
kaya, kamu akan kuberi mobil. gratis. seperti ini. seperti mas gito 
memberi mas sudar ini.'

bedhokol....brol. air mata sudar ambrol di pelupuk matanya.

sayup-sayup lonceng gereja baleharja berdentang berulang-ulang 
meningkahi paduan suara:

gusti, gusti, gusti ampun muwun.
gusti, gusti, kula tresna.


selamat natal dan tahun baru,
amat

Kirim email ke