17 RAMADHAN, TANGGAL TURUNNYA WAHYU TENTANG KEDOKTERAN
Selama dekade ini semakin banyak mahasiswa kedokteran di
mancanegara menyelipkan ayat Al-Qur'an pada sikripsi, peper, atau
makalahnya. Ini dengan kesadaran bahwa kitab suci itu pun merupakan
sumber ilmu kedokteran.
Seperti kita ketahui, wahyu pertama yang diturunkan Allah
SWT pada tanggal 17 Ramadhan, yang bertanda resminya Nabi
Muhammad SAW sebagai Rasul, adalah tentang pendidikan, khususnya
masalah kedokteran.
IQRA BISMIRABBIKALLADZI KHOLAQ
(Bacalah dengan nama Tuhanmu)
KHOLAQOL INSANA MIN ALAQ
(Yang menjadikan kamu dari segumpal darah)
Jadi kedua ayat yang masuk dalam surat Al-Alaq (Segumpal
Darah) itu merupakan dua ayat pertama dari seluruh isi Al-Qur'an
yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Juga dua dari
sekian ayat yang bertema kedokteran.
Meskipun sangat singkat, hanya terdiri dari beberapa kata
saja, namun telah menjadi inspiratur/motivator bagi para ilmuwan
muslim pada abad pertengahan untuk menganalisa, meneliti, dan mencoba
berbagai fenomena tubuh manusia.
Kemudian mereka hasilkan beragam teori/tehnik "terapi
rehabilitasi" sampai "penyembuhan pasien". Entah berapa kitab
hasilnya, yang kemudian diajarkan, diapresiasikan, serta
dikembangkan.
Mereka membuka pintu terbuka bagi siapa pun yang berminat
menimbanya. Ini terdorong oleh ajaran Islam tentang "menyebarkan
ilmu bermanfaat kepada siapa pun" di samping "keharusan menuntut ilmu
sepanjang hayat di kandung badan".
Bila peradaban diartikan sebagai hasil pemikiran yang
mengkristal, yang membentuk suatu masyarakat, baik di seberang
maupun sekitarnya, kemudian berkembang dari generasi ke generasi
secara berkesinambungan, maka sulitlah dihitung, berapa banyak
sumbangan dunia Islam terhadap peradaban dunia, khususnya masalah
kedokteran.
Para pemikir Islam ketika itu telah menarik bangsa Eropa
dari panggung kegelapannya, yaitu dengan membangun pemikiran
baru, sehingga muncul titik terang sebagai pembuka cakrawala
baru. Melalui penelitian, pembaruan, dan pengembangan dengan
bereferensikan dari sana, bangsa Eropa berhasil menemukan
konsep-konsep monumental, khususnya penunjang kesejahteraan manusia
yang bernilai apresiatif dan global.
Bagi bangsa Eropa, semua itu ibarat bajak yang menguakkan
jalan bagi mereka yang sedang tidur, dengan membangkitkan
potensinya yang selama ratusan tahun mati tidak keruan. Antara lain
dengan menyadarkan mereka untuk melihat kenyataan yang ada dan
menyebarkan benih-benih pengetahuan yang sangat sederhana, yang
melalui kurun waktu tertentu menampakkan hasilnya yang
mengagumkan, sehingga terbentuklah peradaban yang disegani,
sebagaimana nyatanya sekarang.
Masuknya pemikiran ilmuwan Islam telah memberikan pengaruhnya
pada segi-segi tertentu dalam kerja dan manajemen pemikiran bangsa
Eropa, yang gilirannya mempengaruhi kehidupan masyarakatnya
sehari-hari secara estafet. Karenanya, suka tidak suka, ilmuwan Eropa
mana pun dalam karirnya umumnya mengkaji teori-teori yang dalam
sejarah perjalanan perkembangannya bertitik-tolak dari pemikir
Islam yang banyak diilhami oleh kandungan Al-Qur'an. Hanya
bereferensikan surat "Al-Alaq" (Segumpal Darah) ayat pertama,
misalkan, berapa banyak temuan ibnu Sina tentang kedokteran, yang
kemudian dijadikan pedoman oleh para tabib di Eropa, terutama
dalam menangani penyakit yang mewabah serta menular.
Sayangnya kenyataan itu ditenggelamkan, terutama ketika
bangsa Eropa memegang supremasi selama dua ratusan melalui alam
kolonialisme. Dengan keangkuhannya, bangsa Eropa melalui
apresiasinya, khususnya pada masa kolonialisme menciptakan opini
keliru tentang "siapa yang berjasa atau menemukannya". Beragam
literatur jasa ummat Islam disingkirkan sampai dibakarnya, termasuk
yang tidak mungkin lagi dicetak ulang (beberapa lembarannya kini
tersimpan dengan apik di museum sejumlah negara ; termasuk negara
yang mayoritasnya non Islam).
Semua ini semata-mata untuk mengerem motivasi ummat Islam
yang terjajah, agar jangan sampai terjadi gejolak untuk
mengulanginya. Diperkuat lagi dengan kemampuannya memanipulasi
kalimat, mereka rendahkan ummat Islam sebagai masyarakat yang
mustahil bisa menumbangkannya sampai kapan pun.
Belum adanya adanya ilmuwan muslim meraih hadiah Nobel bidang
kedokteran pun dijadikan alat untuk menganggap dirinya sebagai
bangsa "kelas satu".
Padahal peradaban bangsa Eropa itu tidak berdiri sendiri.
Bukti sejarah pun ada. Peradabannya jauh lebih kemudian
dibandingkan bangsa timur. Hanya saja ketika mereka memegang
supremasi internasional, semua akar dari timur, khususnya dunia
Islam, dicoba ditiadakan melalui sarana media massa dan pendidikan.
HIKMAH SURAT AL-ALAQ : 2
Banyak hikmah yang bisa diperoleh dengan adanya masalah
kedokteran pada wahyu tersebut. Antara lain :
1. Mendorong kita untuk melihat, merenungkan, dan
meneliti, pokoknya berkiprah dengan usaha mempertahakan tubuh dari
segala bentuk gangguan, yang kemudian dipersembahkan untuk
kepentingan manusia.
2. Membuktikan bahwa kedokteran itu integral dengan Islam.
Bila selama ini timbul kesan adanya gap antara keduanya, malah yang
ekstrimnya, ada yang menganggapnya masing-masing sebagai urusan
duniawi dan ukhrowi, itu sebagai warisan Belanda selaku penjajah
yang melalui taktiknya, telah memberikan beragam opini keliru kepada
ummat Islam selaku pihak terjajah.
Dengan adanya pengkajian terhadap sejarah kejayaan Islam
di bidang sains dan teknologi, kesan menyesatkan itu mulai
bergeser secara bertahap.
3. Menunjukkan darah itu sebagai inspirator dan indikator
yang berkaitan dengan berbagai masalah kedolkteran.
DAKWAH MEMBERANTAS MITOS
Pada menjelang Ramadhan 1416 H saya pernah menanyakan seputar
tinjauan kedokteran terhadap kegiatan berpuasa kepada salah seorang
dokter.
Namun jawabannya mengejutkan : "Maaf ... anda salah alamat.
Seharusnya ditanyakan kepada ulama. Sedangkan saya bukan ulama
tetapi dokter. Jadi maaf saja !"
Tetapi syukurlah. Dari sekian dokter dengan pertanyaan
serupa hampir semuanya memberi jawaban. Karena memang aneh kalau
menolak hanya karena tidak berpredikat ulama. Malah di antaranya yang
pada kesempatan lain mengaku bahwa mereka termotivasi menjadi dokter
karena dorongan Al-Qur'an.
Sudah saatnya sekarang para dokter muslim di Indonesia
untuk mengdakwahkan seputar masuknya masalah kedokteran dalam
kandungan Al-Qur'an. Ya ... tiada lain untuk memberantas segala
bentuk opini yang memisahkan keduanya, sebagaimana yang
ditunjukkan dokter itu. Sehingga pemikiran yang mengaitkan
"Al-Qur'an" dengan "kedokteran" tidak lagi dipandang aneh oleh
siapa pun.
Apakah itu ketika memberi ceramah di mesjid atau menasihati
pasien di klinik, pokoknya kapan dan di mana saja. Dengan
demikian, karirnya di bidang kedokteran bersifat ganda : "mencari
nafkah" dan "berjuang fisabilillah".
Bulan Ramadhan kiranya bisa dijadikan momentum. Selain
sebagai bulan turunnya wahyu pertama, yaitu tentang kedokteran,
juga karena biasanya frekwensi ceramah jauh lebih banyak ketimbang
pada bulan lainnya. Terlebih dengan keterlibatan enam stasiun
televisi selama dekade ini. Mereka berlomba menyajikan syiar Islam
dengan bentuk "talk show" yang terbaik, yang dari tahun ke tahun
resonansi dan mutu penyajiannya terus meningkat. (Nasrullah
Idris/bidang studi : Reformasi Sains/Matematika/Teknologi)