Teman-teman Indonesia yang budiman,

Perkenankanlah saya mem'forwarded'-kan ulasan  salah
seorang  pakar   komunikasi  yang tulisannya dimuat di
POS   KUPANG,  Rabu, 5 Mei 1999. Semoga  berman-
faat (YLH).
========

      Diam, sebagai pesan politikMegawati
             Oleh  Dr. Alo Liliweri, M.S *

 DALAM beberapa bulan terakhir ini, beberapa media massa
 menulis "protes" publik terhadap sikap diam dari Megawati
 Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan. Publik agaknya
 menuntut agar setiap calon presiden (termasuk Megawati) harus
 berani dan berterus terang mengemumakan visi dan misi partai-partai
 politik tentang masa depan bangsa dan negara Indonesia.  

 Berhubung diamnya Mega ternyata cukup lama sehingga banyak
 orang yang kurang puas sampai penasaran dan mempertanyakan di
 mana Ibu Mega berdiri (misalnya di saat-saat menjelang reformasi,
 puncak reformasi, pasca reformasi dan peristiwa Semanggi). Yang lebih
 sadis lagi ada yang meragukan intelektualitas Megawati, hanya karena
 melihat ibu Mega tampil dalam seminar, pertemuan atau dialog ilmiah,
 dia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan senyum-senyum saja
 dan lain-lain. Mungkin kekecewaan terakhir publik bisa terlihat
 karena Mbak Mega tidak hadir dalam debat Capres yang diselenggarakan
 di Fakultas Kedokteran UI Salemba tanggal 27 April 1999. Di tengah
 kekecewaan itulah mungkin sebagian publik menganggap Megawati
 seolah-olah tidak mempunyai konsep tentang masa depan bangsa, atau
 menurut istilah anak muda sekarang Mbak mega seolah-olah "malas
 tahu".  

 Dalam retorika-komunikasi, Megawati sebetulnya sedang
 berhadapan dengan pilihan etika dasar komunikasi, yakni dirinya
 sendiri yang melindungi hak-hak pribadinya sebagai seorang
 komunikator politik dan pihak lain berhadapan dengan
 publik/masayarakat yang merasa mempunyai hak untuk mengetahui
 (informative society). Tetapi itulah seorang sosok Megawati,
 sebagaimana diungkapkan oleh beberapa pengurus teras PDI
 Perjuangan, bahwa Mbak Mega kaget ada debat Capres, dia
 memilih mengutamakan konsolidasi internal partai hingga kepada
 alasan konstitusi bahwa debat Capres itu bukan budaya politik di
 Indonesia karena seorang presiden kan dipilih oleh MPR.  

 Sikap diam ibu Megawati (yang tidak mau beretorika) itu rupanya
 cukup beralasan atas dasar etis retorika. Tentang hal ini kata Henry
 W. Jhonstone, seorang filosof kontemporer, bahwa retorika yang etis
 dan paling bertanggungjawab adalah retorika yang diberikan kepada
 orang lain dengan cinta. Semangat cinta dalam presuasi, berarti kita
 tidak termotivasi terutama oleh kepentingan pribadi. Ketika kita
 mempersuasi dengan cinta, kita menghormati kebenaran, menghormati
 paritipasi orang lain dan menghormati kebutuhan si partisipan itu
 untuk mengetahui kebenaran.  

 Lanjut Jhonstone, oleh karena itu hubungan antara seorang orator
 dengan khalayaknya menunjukkan sebuah kewajiban, kewajiban ini adalah
 standar etika untuk menilai contoh persuasi. Terhadap diri sendiri,
 kita mempunyai kewajiban keteguhan dan keterbukaan. Keteguhan,
 berarti bahwa saya tidak boleh mengalah pada argumen-argumen atau
 imbauan orang lain dengan basa basi spontan, membabi buta dan tidak
 kritis. Saya mesti menganjurkan pendapat saya sendiri yang
 menggunakan kemampuan persuasi saya sendiri untuk menilai saran yang
 diajukan orang lain. Keterbukaan berarti saya harus mendengarkan
 dengan hati-hati ide-ide yang diutarakan oleh orang lain dan dengan
 berperasaan, tanpa mementingkan diri sendiri atau mengacuhkannya.
 Terhadap orang lain, kita mempunyai kewajiban untuk lemah lembut dan
 kasihan. Lemah lembut berarti saya harus menyapa orang lain dengan
 membujuk bukan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan
 paksaan simbolik.Kasihan berarti saya harus mendengarkan orang lain
 demi kepentingan dan keselamatan mereka di atas kepentingan diri
 sendiri.  

 Dan publik maklum, Mega sebagai seorang pemimpin partai politik
 apalagi dengan naluri keibuannya dia memiliki kewajiban-kewajiban
 standar itu, yakni keteguhan, keterbukaan, lemah lembut dan kasihan.
 Oleh karena itu fenomena diamnya Megawati tersebut merupakan satu
 pesan politik seorang politisi. Karena dia diam bukan sekadar diam,
 bahkan Megawati pernah bilang: di zaman Orde Baru ketika orang takut
 bicara hanya saya sendiri yang ngomong dan saya yang ditertawakan,
 dan era reformasi ini semua orang berani bicara dan saya memilih diam
 kok orang ribut? Kedengarannya memang sinis. Di sini bisa benar kata
 pepatah kuno bahwa diam itu emas (silent is gold), sehingga pilihan
 Megawati atau mungkin seluruh jajaran PDI Perjuangan (terutama para
 analist orasi maupun speech writer Megawati) yang memilih tutup mulut
 bukan sekadar suatu basa basi politis, apalagi malas tahu, tetapi
 bahkan sebuah strategi komunikasi. Bahwa diam itu merupakan pesan
 politik yang harga sangat mahal.  
                         ***

 KALAU kita meletakkan kehadiran ibu Megawati dalam sebuah
 retorika aktual politik bangsa kini maka dia sebetulnya sedang tampil
 dalam keseluruhan proses komunikasi politik itu. Sebagai ketua partai
 maka Megawati merupakan seorang komunikator politik yang diharapkan
 menyampaikan pesan-pesan politik melalui media kepada publik. Tujuan
 komunikasi politik jelas, ingin mengubah sikap dan pendapat publik
 terhadap partai yang dia pimpin. Oleh karena itu, dengan cara dan
 metode apapun (termasuk yang paling licik sekalipun) idealnya setiap
 komunikator politik selalu berusaha membius orang untuk mengubah
 sikap agar semakin dekat dengan partai politik yang dipimpinnya itu.
 Dan genderang perang antara strategi penyampaian pesan komunikasi
 politik secara licik dari pihak lain kepada Megawati pun sudah
 dimulai sejak pemerintahan Orde Baru yang dengan cara-cara `sadis'
 terus-menerus mendiskreditkan dan bahkan menekan kehadiran Megawati
 di panggung politik bangsa ini.  

 Rupanya kelompok Megawati sangat maklum bahwa pesan-pesan
 politik yang palsu tidak lagi merupakan konsumsi publik sekarang.
 Mereka seolah berkata sama seperti apa yang dikatakan oleh Richard L.
 Johanessen yang mengutip George Orwell -seorang analist orasi dan
 pernyataan-pernyataan Aleksander Haig, mantan Menlu AS� yang
 menerangkan konsep newspeak. Konsep newspeak dari George Orwel 1984,
 menerangkan sikap para pejabat pemerintahan yang dengan sengaja
 menggunakan pembicaraan yang bermakna ganda dan menipu dalam usaha
 untuk mempengaruhi atau mengendalikan opini masyarakat. Kata Orwell:
 dalam masa kita, pidato dan tulisan politik sebagian besar
 mempertahankan apa yang tidak dapat dipertahankan... Semua isu adalah
 isu politik, dan politik itu sendiri adalah sebuah massa kebohongan,
 penyingkiran, kebodohan, kebencian dan skizoprenia (baca: orang-orang
 yang menarik diri dari keterlibatannya dengan khalayak umum).  

 Yosep A. DeVito, seorang ahli komunikasi yang secara serius
 mempelajari keetisan perilaku-perilaku komunikasi seperti bedusta,
 menggunakan persuasi secara halus dan imbauan emosional mengemukakan
 bahwa standar penilaian etika komunikasi (antarpribadi) terletak pada
 konsep pilihan individu, yakni mempunyai hak membuat pilihan mereka
 sendiri. Komunikasi adalah etis selama dia mendukung kebebasan
 individu untuk memilih dengan memberi dasar-dasar pilihan yang akurat
 kepada orang lain. Komunikasi tidak etis selama dia mencampuri
 kebebasan individu untuk memilih dengan mencegah orang lain dari
 jaminan informasi yang relevan untuk pilihan yang akan dia buat.  

 Para analist orasi Megawati (saya curiga!) memahami naluri khalayak
 bahwa seorang komunikator politik dari sebuah partai dengan basis
 yang sangat kuat di bawahnya menghendaki agar dia cukup berkata-kata
 dengan hati nurani bahwa pesan tentang penderitaannya selama Orde
 Baru merupakan pesan yang sangat kuat bagi berjuta-juta orang yang
 mengalami nasib yang sama namun di saat itu mereka tak bisa membuka
 mulut apalagi suaranya di depan kekuasaan.  

 Salahkah Megawati? Saya berpendapat tidak. Dengan naluri
 seorang ibu maka dia tahu satu segi yang sering dilupakan orang
 dalam berkomunikasi yaitu konteks. Konteks adalah situasi baik
 fisik, sosiologis/antropologis, politik yang sedang dialami oleh
 masyarakat sekarang ini. Seorang komunikator (apa saja termasuk
 komunikator politik) akan gagal kalau dia tidak memperhatikan
 kanteks. Sekali lagi, kelompok Megawati tahu bahwa situasi sosial dan
 politik sekarang ini sudah mengarahkan masyarakat pada sikap yang
 kritis, masyarakat yang tertekan selama masa Orde Baru tidak mau lagi
 ditipu oleh para komunikator politik. Bahwa di saat krisis moneter
 sini semua harga sedang naik, sebaliknya yang harganya sedang turun
 adalah kata-kata sesumbar yang terucap dalam janji-janji politik,
 kampanye, temu kader, bakti sosial, bantuan kemanusiaan atau apa pun
 namanya.  

 Dan semakin Megawati bersikap diam maka harga pesannya makin
 mahal, jangan lupa dalam komunikasi berlaku semacam naluri
 tertentu terhadap pesan. Semakin tidak jelas pesan-pesan dan
 sumber komunikasi sehingga dia berarak seperti isu (termasuk
 kebimbangan orang atas sikap Megawati) maka orang makin
 penasaran apa maunya Megawati. Di sini justru Megawati sedang
 menarik publik untuk berkumpul bersama gagasan-gagasannya. Ibu
 Mega rupanya sangat memperhatikan ettika retorika dan komunikasi
 yaitu membangun kembali harga diri dan kepercayaan masyarakat.
 Seperti kata Kim Giffin dan Richard Barnes, dua sejoli ahli
 komunikasi retorika dari Amerika Serikat, bahwa setiap retorika
 hendaknya mengandung etika yang meningkatkan kepercayaan satu sama
 lain agar menyenangkan. Kepercayaan kita terhadap orang lain
 cenderung merangsang kepercayaan mereka pada kita, karena citra
 pribadi kita diperbaiki dan kesehatan psikologis kita terpelihara.  

 Paling tidak ada tiga pedoman etika untuk memupuk kepercayaan
 dalam retorika komunikasi; (1) kita harus berusaha aktif memperluas
 kepercayaan terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita (yang sudah
 tentu memakan waktu); (2) kepercayaan kita terhadap orang lain
 haruslah dilakukan sedikit demi sedikit karena kita harus menjelaskan
 pada mereka apa yang kita khawatirkan, apa yang kita harap mereka
 lakukan, dan apa yang kita ingin kita capai; dan (3) kepercayaan
 tidak hanya diberikan tetapi juga harus diperoleh, karena suatu
 tindakan kepercayaan adalah tidak etis, kecuali yang dipercayai
 memang dapat dipercayai.  

 Hubungan untuk menciptakan saling percaya inilah yang sedang
 dibangun Megawati dengan rakyat, khusus para pendukungnya. Dan
 dengan  

 diam, Megawati tahu bahwa pengikutnya percaya kepada dia, dan
 dengan diam pun para pengikutnya percaya bahwa Megawati
 sedang memikirkan masa depan mereka. Dari sini ini kita harus
 memandang bahwa bola sedang berada di tangan Megawati. Sang
 ibu seolah-olah sedang menyutradarai sebuah sinetron politik di atas
 sebuah panggung sandiwara bangsa Indonesia, bangsa yang sedang
 hiruk-pikuk mendengarkan janji-janji dari setiap pimpinan partai
 politik, sedangkan kita adalah para penonton dan pembaca yang sedang
 menikmati lakon-lakon itu.  

 Megawati seolah membawa kita pada alur cerita ibarat sinetron
 bersambung Tersanjung, Cinta, Airmata Ibu, Istri-istri, Jangan
 Rebut Suami-suamiku dan lain-lain. Dan ketika kita semakin
 bernafsu untuk tahu tentang kelanjutan ceritera, maka Megawati sang
 sutradara bilang: bersambung. Akibatnya, Anda mau tidak mau `dipaksa'
 oleh Megawati untuk mengikuti ceritera di hari berikutnya, minggu,
 bulan dan bahkan tahun berikutnya. Kita tidak sadar bahwa Megawati
 sedang menjadwalkan aspirasi orang Indonesia sebagaimana sinetron
 menjadwalkan kehidupan kita!  
                           *) Dosen Fisip Undana, Kupang)

Kirim email ke