menurut n. driyarkara, pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia 
muda. maksudnya, mungkin kira-kira manusia yang masih muda itu perlu 
dididik, dibimbing untuk memasuki dunia manusia yang tidak muda lagi. 
menurut gramsci, pendidikan adalah suatu proses 'domination by consent' 
[maaf, the other day, saya menyebut 'domination by consent' ini merupakan 
gagasan chomsky]. 

melihat dua pendapat tentang pendidikan ini, saya kok cenderung setuju 
dengan gagasan gramsci, bukan karena dia dianggap sebagai warga dunia 
pertama atau setidak-tidaknya punya kelas dunia, atau biar saya 
diasosiasikan dengan posmo [ctt.: ketika orang berbicara tentang posmo, 
mereka sering menyebut gramsci],  sementara driyarkara hanya dikenal cuma 
kelas 'kampung'. konsep memanusiakan manusia muda dalam driyarkara, 
meskipun tidak sama persis, bisa disejajarkan dengan tentang wanita yang 
peranannya kudu diurus oleh departemen. artinya, peserta didik, begitu 
istilah yang sering dipakai oleh para calon guru, otoritasnya tidak diakui 
secara penuh, dan karena itu perlu 'dibimbing' untuk di-'manusia'-kan. 
'bimbingan' dan 'pemanusiaan' ini jelas harus mendapatkan 'consent' dari 
yang hendak 'dibimbing' dan 'dimanusiakan'. otherwise, proses pendidikan 
tidak akan terjadi. dan dalam proses bimbingan dan pemanusiaan ini, karena 
'consent' itu, maka si terbimbing musti rela menerima 'agenda pendidikan' 
[baca: kurikulum], baik yang 'overt' maupun 'covert' yang jelas 'berpihak' 
[baca: berorientasi] pada apa-apa yang 'baik' menurut si pembuat agenda. 
nah, bukankah lalu memanusiakan manusia muda merupakan proses 'domination 
by consent'?

pemasaran gagasan tentang pendidikan ini dilakukan lewat bahasa; tanpa 
bahasa, gagasan ini tidak akan pernah mewujud; gagasan dan bahasa 
karenanya merupakan 'part and parcel'. untuk melihat bagaimana 'domination 
by consent' ini merambah ke ranah lain, maka saya akan menjadikan bahasa 
sebagai 'point of departure', penjelajahan gagasan 'domination by consent' 
ini.

bagaimana 'domination by consent' ini bekerja?

saya ingat pada suatu waktu, bahasa pengantar pengajaran di sekolah dasar 
di desa saya adalah bahasa jawa, karena saya berasal dari jawa. bahasa 
indonesia, pada waktu itu, hanya merupakan mata pelajaran. pada tataran 
ini, wacana bahasa jawa merupakan wacana utama dan pertama para murid di 
sekolah itu [terjemahan dari 'discourse'nya james gee, 1990]. 

bahasa, sebagai wacana, mengandung di dalamnya nilai-nilai yang menghidupi 
dan dihidupi oleh masyarakatnya. kalau seorang murid hidup di dalam wacana 
bahasa jawa dan berada dalam proses pendidikan dalam wacana jawa, maka si 
murid secara aktif dihidupi dan menghidupi budayanya. dalam istilah 
antropologis, mungkin proses 'mengada' dan 'menjadi' di dalam wacana 
pertama dan utama ini disebut sebagai proses 'mengakar'.  

pada suatu waktu, bahasa daerah yang menjadi bahasa pengantar pengajaran 
ini digantikan dengan 'bahasa indonesia', sejalan dengan slogan politik 
pemberantasan tiga buta dan pembangunan. bagi anak kampung seperti saya, 
jelas bahasa indonesia merupakan wacana yang tidak sepenuhnya kompatibel 
dengan wacana pertama dan utamanya, tetapi sekaligus bahasa indonesia 
memberikan nilai tambah sosiologis terhadap pemakainya. kalau seorang 
murid dari kampung jawa 'koek' bisa berbahasa indonesia seperti bahasa 
indonesia anak jakarte, maka secara sosiologis mereka akan merasa 
'terangkat', merasa mengalami mobilitas 'vertikal', karena bahasa 
indonesia dipersepsi sebagai lebih unggul, lebih modern [dan yang modern 
dan unggul ini sedang menjadi 'fashion' di jaman ordo barusan, mungkin 
juga sekarang] daripada wacana bahasa jawa.

begitu memasuki wacana bahasa indonesia, murid-murid menjadi fasih 
menghujat wacana bahasa jawa, yang sebenarnya menjadi 'mainstream' wacana 
lingkungan hidupnya, sebagai 'kampungan', 'feodalistik', 'opresif', 'tidak 
modern' dan sebutan-sebutan derogatory lainnya.

ketika murid ini berhadapan dengan wacana bahasa inggris, mereka lebih 
suka menulisi kaos seragam olah raganya dengan sma atau smu anu, mereka 
merasa lebih hesbat menulisi kaosnya dengan 'anu high school'.

orang yang belajar sepikologi, mungkin akan menjelaskan fenomena ini 
sebagai fenomena pencarian jati-diri orang muda. dalam mencari jati 
dirinya, orang muda memang sering mengadopsi hal-hal yang mereka anggap 
hesbat, seperti lebih suka menggunakan bahasa inggris daripada bahasa 
indonesia atau jawa untuk kaos olahraganya. mungkin penjelasan sepikologi 
ini betul juga, tapi kalau wacana bahasa merupakan agenda 'pendidikan' 
apakah ini sekedar kegenitan anak muda mencari jati diri?    

sebagaimana saya singgung di atas, wacana bahasa bukan hanya sekedar alat 
komunikasi. di dalamnya terkandung nilai-nilai dan orientasi. 'engagement' 
terhadap wacana bahasa tertentu bisa berarti 'submission', atau paling 
tidak memberikan 'consent' terhadap wacana itu untuk mendominasi dirinya, 
sebagaimana yang terjadi dengan kasus kaos olah raga dengan tulisan 'anu 
haik sekul' [begitu, ucapan siswa-siswa itu]. 

proses 'taking up' english discourse yang disertai oleh 'pencampakan' 
wacana pertama [bahasa daerah, karena itulah wacana pertama yang dihadapi 
oleh sebagian besar murid indonesia] dan kedua [bahasa indonesia] ini 
nampaknya oleh para pembuat keputusan tentang pendidikan tidak pertama-
tama dilihat sebagai suatu pemberian 'consent' terhadap proses dominasi, 
melainkan sebagai peluang, sebagi pintu untuk memasuki masyarakat dunia, 
masyarakat global. kepentingan siapakah yang dilayani oleh wacana 
masyarakat global ini nampaknya tidak masuk ke dalam sekrutini kritis para 
pengmabil keputusan tentang pendidikan. oleh karena itu, sementara di 
tataran politik etalase nasionalisme semua kata yang berbau asing musti di 
indonesiakan, pemasyarakatan wacana bahasa inggris di sekolah-sekolah juga 
digalakkan. dalam beberapa kesempatan pemasaran wacana bahasa inggris 
malah mendapatkan dukungan, sebagai penyiapan sumber daya manusia.

politik etis awal kebangkitan nasional.

politik kultur stelsel kolonial belanda yang telah menyumbang devisa 
negeri kecil itu sehingga tidak tenggelam juga membawa kesadaran pada 
kalangan masyarakat tertentu negeri itu untuk memberikan balas jawa kepada 
negeri jajahannya. dengan kesadaran itu, maka politik etis/politik balas 
jasa didengungkan dan diadopsi tapi sekaligus juga dimodifikasi, kalau 
tidak dirongrong, oleh pemerintahan kolonial belanda. gagasan politik etis 
yang tadinya untuk membalas jasa negeri jajahan dengan pendidikan yang 
lebih baik, dimodifikasi menjadi pendidikan untuk melayani kepentingan 
pemerintahan kolonial. pendidikan yang dilakukan di tanah jajahan itu 
dilakukan untuk pertama-tama menyiapkan tenaga lokal yang bisa baca tulis 
untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara penjajah dan yang 
dijajah.

agenda pendidikan yang menjiwai seluruh proses pendidikan di tanah jajahan 
ini tentu saja beriorientasi ke negeri keju itu. bukan sebuah kebetulan 
kalau kemudian mantan murid yang mengalami pendidikan semacam ini lalu 
lebih suka berpakaian seperti para penjajahnya, lebih suka berbahasa 
seperti bahasa penjajahnya, bergaya hidup seperti gaya hidup penjajahnya.

pada saat yang sama, [mantan] murid sekolah kolonial ini mengalami 
keterasingan dari wacana pertamanya. perasaan bersalah minke karena tidak 
mampu menulis dalam bahasa ibunya bisa jadi mewakili kelompok terpelajar 
pada waktu itu. ben anderson, dalam 'language and power'nya malah 
menyatakan bahwa kaum terpelajar ini tidak saja terasing dari wacana 
pertamanya, tetapi juga tidak diterima dalam wacana kolonial yang menjadi 
orientasi para terpelajar ini.

keterasingan dari wacana pertama, dan 'penolakan' oleh wacana yang menjadi 
orientasi kaum terpelajar ini, membuka kemungkinan penemuan wacana bahasa 
yang kemudian disebut dengan wacana bahasa indonesia. penolakan dan 
keterasingan ini, pada tataran politik menuntun para terpelajar ini ke 
arah kemerdekaan politik hindia belanda. namun begitu, kaum terpelajar ini 
tidak sepenuhnya merdeka. paling tidak, orientasi gagasan mereka masih 
'berbau' belanda sesudah kemerdekaan politik. orang yang bisa berbahasa 
belanda, dan karenanya bisa engage dengan wacana belanda, dianggap orang 
yang punya kelebihan di dalam masyarakat. anggapan ini jelas merupakan 
cermin orientasi gagasan pada waktu itu.  

politik etis, yang jelas beragendakan kolonial, secara politik membawa 
kemerdekaan tanah jajahan dan meskipun menjadikan wacana negara penjajah 
sebagai orientasi, juga berhasil 'mencerahi' kaum terpelajar tentang arti 
kemerdekaan. dengan kata lain, pendidikan politik etis, selain membangun 
dominasi/hegemoni gagasan juga membawa serta 'daya destruktif' terhadap 
hegemoni/dominasi itu sendiri. dalam kasus politik etis itu, bekerjanya 
'daya destruktif' dipicu oleh keterasingan kaum terpelajar dari wacana 
pertamanya dan penolakan oleh 'wacana yang dipelajarinya'.

dari kasus politik etis ini, kita bisa melihat bahwa 'domination by 
consent' itu membawa serta di dalamnya 'daya pelucutan' [dismantling 
power] terhadap dominasi itu.   

apakah kita memberikan 'consent' untuk didominasi?

pemberian consent untuk didominasi ini tidak hanya terjadi di sekolah, di 
lingkup pengajaran. kita bisa merentang pengajaran menjadi pendidikan, 
seperti bagaimana pengajaran direntang menjadi pendidikan di dalam undang-
undang pendidikan. dalam istilah pendidikan seumur hidup, misalnya, kita 
melihat makna bahwa hidup itu sendiri merupakan proses pendidikan terhadap 
diri sendiri yang tidak ada habisnya. dengan demikian setiap perjumpaan 
dengan wacana baru, kita ditantang untung 'memanusiakan' diri kita 
sendiri. dalam perjumpaan semacam ini pertanyaan: apakah saya memberikan 
'consent' untuk didominasi oleh wacana tertentu akan membantu manusia 
dalam memanusiakan dirinya. barangkali proses pemberian 'consent' semacam 
ini sejajar dengan proses 'adaptasi' [vs. integrasi] dalam pengertian 
paulo freire. kita bisa melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kita  
take up a certain discourse 'critically', yang berarti mampu 
mengintegrasikan wacana ke dalam wacana yang kita miliki, atau 'taken for 
granted', mengambil wacana yang kita temui itu begitu saja.

pada tataran gagasan semacam itu, maka dengan lantang kita akan menjawab 
bahwa 'kita selalu bersikap kritis dalam perjumpaan kita dengan wacana-
wacana tertentu'. ini sudah merupakan watak kaum berbedidigan'. 
namun ketika sampai pada praksis, kita tidak jauh berbeda dari abg yang 
lebih bangga menulisi kaos olahraganya dengan 'anu haik sekul' daripada 
smu anu. tidak jarang praksis seperti abg itu, kita beri label: 
'peningkatan sumber daya manusia', 'nilai tambah', 'keunggulan komparatif' 
dan 'competitiveness'.  selamat merenung.

Kirim email ke