Teman-teman Indonesia yang budiman,


Semoga cita-cita Soeharto tidak "Mandeg Pandito", tetapi
betul-betul   "Madheg Pandito"   sehingga  dia betul-betul  
"....mendekatkan diri pada  Tuhan,   mengasuh anak-cucu, 
dan menjadi tempat bagi  warga   untuk   mencari nasihat. 
"Sedangkan   terhadap negara, dengan sendirinya tut wuri 
handayani," ujarnya dalam  pidato tanpa teks" (FORUM 
Keadilan, Nomor  5, Tahun VII, 15 Juni  1998: 10).
 
Selanjutnya,   silahkan   baca  'sekilas info'  dari TIME via
WASPADA dibawah ini (YLH):
---------------------------------------
               BERITA UTAMA WASPADA

                     KAMIS, 20 MEI 1999

                      Time Ceritakan Bagian
                      Yang Jarang Terungkap

     MEDAN (Waspada): Data tentang harta Soeharto yang diungkap Time
     tidak lagi mengejutkan. George Junus Aditjondro, Christianto
     Wibisono, atau tokoh-tokoh lain sudah mengungkap hal yang sama.
     Namun laporan Time itu tetap menarik karena ada beberapa bagian
     yang selama ini jarang terungkap di media. Inilah sebagian dari
     tulisan itu. 

     Bahwa almarhum Ibu Tien Soeharto berperan besar dalam membentuk
     karakter keluarga Cendana yang korup, itu sudah menjadi
     pengetahuan umum. Bahkan di masa Soeharto pun cerita-cerita
     tentang peran Ny Tien berkembang dari mulut ke mulut. Tak heran
     jika muncul plesetan nama Ny Tien sebagai Mrs Tien Percent, alias
     Nyonya Sepuluh Persen. Inilah plesetan yang mencela kelakuan Ny
     Tien yang konon selalu meminta imbalan komisi minimal 10 persen
     bagi proyek-proyek atau dana-dana asing yang masuk ke Indonesia. 

     Dalam laporannya, Time tidak banyak membahas tentang peran Ny
     Soeharto ini. Namun ada salah satu ilustrasi yang mereka tulis
     dan menggambarkan bagaimana sikap wanita priyayi ini tentang
     pendidikan anak-anaknya dan betapa dia dengan keras mendorong
     keturunannya untuk berbisnis mengejar harta. 

     Alkisah, tahun 1980-an pemerintah sedang membangun Bandara
     Internasional Soekarno Hatta. Seorang teman Nyonya Tien (Time
     menyembunyikan identitas sumber ini) mengenang, saat itu ia
     bercakap-cakap dengan sang Ibu Negara mengenai proyek Bandara
     tersebut. ''Saya ingin Sigit mulai mempelajari bisnis,'' kata Ny
     Tien. Maksudnya tentu agar Sigit -- anak pertama Soeharto -- bisa
     terlibat proyek ratusan juta dolar itu. 

     Mendengar niat Ny Tien ini, sang teman mencoba mengingatkan agar
     Sigit dibiarkan dulu menyelesaikan sekolahnya. Tapi apa kata Ny
     Tien? ''Ah tidak. Sigit tak mampu berpikir lurus.'' Jelas, Ny
     Tien yang menyadari akan kemampuan belajar anaknya, lebih ingin
     Sigit 'bersekolah' di dunia nyata: Mencari uang. 

     Mengutip sumber lain, Time kemudian menyebut bahwa saat kedua
     terminal Bandara selesai tahun 1984, Sigit telah mengantungi
     sedikitnya 78,2 juta dolar AS dari proyek itu. Tentu saja bukan
     uang hasil jerih payah murni, karena kedua sumber tadi menyebut
     proyek Bandara kebanggaan Indonesia itu mengalami mark-up
     habis-habisan. 

     Ada cerita lain tentang perkenalan anak-anak Soeharto dengan
     uang. Seorang kawan main Bambang Trihatmodjo bercerita, saat
     masih bocah, mereka kerap main ke rumah Oom Liem -- siapa lagi
     kalau bukan taipan Liem Sioe Liong. ''Saya ingat saat masih kecil
     saya, Bambang, dan rekan lainnya pergi ke rumah Oom Liem.'' Di
     rumah ini, mereka diterima dengan ramah. Dan setiap pamitan, tak
     lupa Oom Liem memberi hadiah. ''Oom Liem selalu memberi kami
     segepok uang yang dibungkus kertas koran.'' 

     Tentu saja hadiah ini bukan uang recehan sebagaimana biasa
     diterima anak kecil. Seingat teman Bambang itu, hadiah yang
     mereka terima sedikitnya senilai 1.000 dolar AS. Tentang ini,
     Wati Abdulgani, seorang pengusaha wanita yang menjalin bisnis
     dengan keluarga Cendana menduga dari situlah 'anak-anak kecil
     itu' makin merasakan nikmatnya bergelimang harta. ''Anak-anak
     melihat apa yang telah diberikan oleh Oom Liem dan mereka
     berpikir, 'Bagaimana dengan pemberian kami nanti, saat kami
     dewasa?'' kata Wati. 

     Sejak kecil terbiasa meraup uang dengan mudah, tak heran jika
     setelah besar pun mereka ketagihan. Tak perlu diceritakan lagi
     bagaimana bisnis anak-anak keluarga Cendana menggurita ke
     mana-mana, dan sebagian besar diperoleh dengan modal kekuasaan
     bapaknya. 

     Bahkan keluarga Soeharto sendiri mencemaskan kelakuan anak-anak
     itu. ''Anak-anak itu sangat liar,'' kata Ibnu Hartomo, adik Ibu
     Tien kepada Time. ''Tampaknya mereka lupa tentang etika,''
     sambung Hartomo lagi. Ironisnya, ayah mereka selalu mengutip
     ajaran-ajaran Jawa tentang pentingnya manusia hidup beretika.
     Atau jangan-jangan ini wujud ketidakberdayaan seorang ayah
     melihat perilaku anak dan istrinya? 

     Tapi jangan mengira keluarga ini hanya mengandalkan pengerukan
     harta negara pada peranan Ny Tien. Soeharto pun terlibat
     langsung. Tentang ini, Time mengutip cerita Ibnu Soetowo, Dirut
     Pertamina yang dipecat setelah perusahaan itu bangkrut tahun
     1970-an. 

     Benarkah Ibnu Soetowo dipecat karena kebangkrutan Pertamina? Atau
     karena abdi setia ini dipandang sudah berbahaya dan harus
     disingkirkan? ''Tidak karena kedua-duanya,'' kata Ibnu Soetowo
     dalam wawancara dengan Time tahun 1984. 

     Soetowo bercerita, tahun 1976 Soeharto memintanya untuk membangun
     satu perusahaan dagang (trading company) kedua yang bertugas
     mengapalkan minyak mentah ke Jepang. Soeharto ingin, perusahaan
     ini mengutip komisi 10 sen dolar dari tiap barel minyak yang
     dijual. Dengan berani Soetowo menyatakan tidak. 

     Tapi, ''saat saya mengatakan tidak, saya pikir ia terkejut,''
     kata Soetowo mengenang. 

     Akhirnya tanpa Soetowo perusahaan itu tetap berdiri. Ada dua
     perusahaan yang dibentuk, yaitu Perta Oil Marketing dan Permindo
     Oil Trading. Di perusahaan inilah Tommy dan Bambang memiliki
     saham besar. Seorang pejabat senior Kabinet Reformasi menyebut
     kedua perusahaan ini mendapat komisi antara 30 hingga 35 sen per
     barel. Kecil? Wow...jangan anggap enteng. Dalam tahun fiskal 1997
     - 1998, kedua perusahaan modal dengkul itu menguras rata-rata
     sekitar 500 ribu barel perhari. Kalikan saja jumlah ini dengan 30
     hari seminggu, 365 hari setahun! Padahal menurut mantan Mentamben
     Soebroto, Pertamina dapat mengekspor langsung minyaknya tanpa
     melalui perusahaan itu. 

     Kisah-kisah di atas hanya sebagian dari apa yang selama ini
     jarang terungkap. Tapi apa pun variasi ceritanya, satu hal yang
     jelas Time menggambarkan betapa keluarga ini melakukan pengerukan
     harta besar-besaran sehingga total nilai kekayaan mereka --
     setelah tergerus dampak krisis rupiah -- kini sekitar 15 miliar
     dolar AS, atau Rp 120 triliun. 

     Karenanya, dunia tak heran jika Indonesia selalu mendapat rating
     tinggi dalam hal korupsi. Seorang pengacara AS yang lama bermukim
     di Indonesia dengan sengit mengeluarkan komentar satire tentang
     budaya korupsi ini. ''Satu-satunya hal yang transparan di
     Indonesia adalah soal korupsi,'' katanya. 

     Kini semua media sudah mengungkap bagaimana tindak tanduk
     keluarga itu. Jaksa Agung, seperti biasa, mengatakan akan
     menyelidiki dulu. Pertanyaannya, apa lagi yang perlu diselidiki?
     (IMN/Rep) 

                      ----------end----------

Kirim email ke