At 09:50 31/05/99 +1000, Nasrullah Idris wrote:
>
> Saya amati bahwa sistim pendidikan ala Orde Baru/Orde Lama jauh lebih
>menekankan pada "kecerdasan" ketimbang "kejeniusan". Dengan kata lain, jauh
>lebih mencetak "kolektor ilmu" ketimbang "pionir ilmu".
===>Pudjo:
Orang cerdas dan pandai itu berbeda,
cerdas itu secara jenetik berbakat kemampuan otaknya,
pandai itu bisa karena dilatih,
cerdas tidak dilatih di dalam sistim lingkungan pendidikan tidak akan
menonjol.
> Maksud kecerdasan di sini adalah menggiring/memotivasi siswa pada
>predikat "juara pertama" menurut tingkat komunitasnya.
> Maksud kejeniusan di sini adalah menggiring/memotivasi siswa pada
>predikat "orang pertama" menurut tingkat komunitasnya.
==>Yang paling penting adalah sistim pendidikan yang sesuai denga
lingkungannya,
sehingga tidak mencetak OTAK-TUKANG (tukang bukan berarti dengan tukang
arti sehari-hari), melainkan sifat yang dibentuk oleh pemesannya), yang
lebih populer misal sarjana tukang, ilmuwan tukang,
disuruh apapun mau,
> Orang cerdas tidak sama dengan orang jenius.
> Orang cerdas dalam berprestasi cenderung menimba ilmu dengan jumlah
>yang tidak/belum diperoleh kebanyakan orang dalam waktu bersamaan menurut
>tingkat komunitasnya.
> Orang jenius dalam berprestasi cenderung menemukan ilmu yang
>tidak/belum dipikirkan kebanyakan orang dalam waktu bersamaan menurut
>tingkat komunitasnya.
==>Orang cerdas yang dibimbing dengan tepat, akan menjadi inovator (yang
sering diklasifikasikan sebagai jenius, padahal jenius itu ukuran
klasifikasi IQ di atas rata-rata). Einstain sendiri mengaku bahwa dia bukan
jenius, tetapi dia merasa berpikir lambat, hanya ritme kemajuannya mantap
maju ke depan.
> Jadi tidak heranlah bila "budaya menyontek ilmu seputar Sains
>Matematika Teknologi" jauh lebih mendominasi ketimbang "budaya menciptakan
>ilmu seputar Sains Matematika Teknologi".
==>menyontek Teknologi tidak selalu jelek,
Jepang memulai industrinya dengan menyontek teknologi maju,
Hitachi dengan mafianya mampu membongkas rahasia IBM,
Mutsubishi dengan sindikatnya menyontek teknologi pesawat angkut Hercules,
yang pada akhirnya, akan leading dalam pemasaran industri berbasis teknologi.
> Dampaknya terhadap situasi ekonomi tanah air dewasa ini ? Silahkan
>memberikan komentarnya.
Ekonomi hancur saya kira karena watak birokrat, sifat monopoli,
Ilmuwan kita siap berkembang, hanya birokratnya yang tidak maju
Lihat berapa banyak doktor yang akhirnya menjadi pejabat administrasi
Ironis makanan tradisional kita tempe, ternyata adalah makanan import,
karena kedelenya import, kalau misalnya birokrat tidak buta akan monopoli
atau uang komisi, maka pemerintah tidak menutup proyek lahan kering di
1983, yang menggarap potensial produksi lahan kering di luar Jawa.
Secara ilmiah, IPTN berhasil, secara politik IPTN tersandung. akhirnya
terpuruk oleh nilai dollar.
Perkebunan dengan muatan lokal makin jaya dialam resesi ini, tetapi
industri berbasis bahan kimia hancur karena ternyata kita buta keputusan
dengan membuat isdustru dasar.
Dan akhirnya kita terpuruk lebih miskin dari Banglasdesh, kita iri dengan
Burma yang tidak tergoyahkan dengan resesi, karena tidak tergantung barang
import (sebab embargo).
So, sampai dimana Sistim pendidikan kita menompang kehidupan kita.
kalau pendidikan berhasil, apakah sistim politik kita mendukung ?
Ini tugas kita, pasca pemilu.
Cheers
Pudjo Rahardjo
>
>Salam,
>
>Nasrullah Idris
>
>
>
>
>
>
-------------------------------
Department of Civil Engineering
The University of Queensland
St. Lucia, Brisbane, QLD 4072
Australia
-------------------------------