> Situasi politik yang ramai dibicarakan saat ini di masyarakat bawah
> adalah: apakah benar caleg PDI-P itu 60% non-Muslim? ini memang
> permasalahan yang mendadak sangat sensitif, begitu daftar caleg
> diresmikan. betapa tidak, banyak orang kaget, lho apa benar itu caleg
> PDI-P >60% non Muslim?, selagi mayoritas penduduk RI adalah Muslim, ini
> logikanya menyangkut ketahanan internal negara yang sering shaking. Kalau
> benar PDI-P menang, maka konspirasi internal justru lebih ruwet daripada
> konspirasi asing pasca pemilu nanti.

issue proporsi muslim vs. non-muslim semacam ini juga pernah dilontarkan 
amien rais sebelum dua tahun yang lalu dalam wawancara dengan majalah 
matra [feb. atau maret 1997]. ini dua tahun sebelum amien rais 
mengadvokasi meritokrasi dalam pluralitas bangsa indonesia lewat pan-nya. 
pada hemat saya, [antara lain] hal semacam ini lah yang disebut oleh arief 
budiman sebagai 'rapor amien rais yang kurang baik' itu. dengan semangat 
yang 'agak berbeda', ahmad sumargono dalam kompas [saya lupa tanggalnya, 
tapi sekitar waktu peristiwa bbq ambon] juga menulis tentang 'perubahan' 
yang terjadi dalam 'amien rais' ini. 
 
bagi saya, agama lebih merupakan perkara pribadi daripada perkara sosial. 
ketika agama menjadi atribut sosial politik, maka agama berhenti menjadi 
agama, berubah menjadi 'kurungan' [kata kang sobary]. beny murdani adalah 
beny murdani. bagi saya, adalah naif mengidentikkan beny murdani dengan 
katholik, misalnya. sama naifnya mengidentikkan soeharto yang haji itu 
dengan islam.

proposisi di atas ini akan memang sangat sensitif untuk dijadikan issue 
politik, terutama di kelompok masyarakat yang masih belum bisa, tidak bisa 
atau tidak mau memisahkan antara beny murdani dan katholik dan soeharto 
dan islam. pendeknya, saya tidak peduli apakah seseorang itu beragama 
katholik, islam, hindu, buddha, kebatinan atau bahkan tidak beragama 
sekali pun. itu urusan orang yang bersangkutan dengan khaliknya. dalam 
hidup bersama, yang penting adalah apakah seseorang melakukan advokasi 
kekerasan atau tidak, main paksa atau tidak, main insinuasi dan intrik 
atau tidak, licik atau jujur/transparan.  

kembali pada posting yang saya komentari. semangat posting dia atas 
mengingatkan saya pada semangat kecaman ketidaksetujuan terhadap duduknya 
gus dur dalam suatu badan perdamaian dunia, juga terhadap 
kunjungan/lawatan gus dur ke israel tempo hari. kalau kecaman itu ditarik 
dalam garis 'agama', maka kecaman itu adalah kecaman seseorang tertentu, 
dan apparently beragama islam, terhadap orang islam yang lain. jelaslah 
dalam konteks ini, kalau agama dijadikan sebagai variabel, islam 
berhadapan dengan islam. perkara semacam ini tidak hanya terjadi di dalam 
lingkaran islam saja. di lingkaran kristen/terjadi juga terjadi. berbagai 
macam reaksi orang kristen/katholik terhadap pdkb, ie.: setuju vs. tidak 
setuju; mengecam/mengutuk vs. advokasi; misalnya, bisa dijadikan contoh 
bagaimana [akidah] agama menjadi perkara. cuma, karena sekalanya kecil 
maka juga tidak muncul di media bergengsi dan menjadi issue 'top hit' 
publik. apalagi, memang kelasnya 'kelas gurem'.

memerkarakan muslim vs. non-muslim, dalam pdi-p dan menginsinuasikan bahwa 
muslim yang mayoritas mendapatkan proporsi yang lebih kecil, juga bisa 
menjadi tertawaan karena yang mustinya mayoritas itu sibuk membuat 
'kurungan' sendiri-sendiri baik dalam politik maupun dalam perkara sosial. 
dan 'kurungan' itu tidak sekedar 'kurungan'. bentrok orang islam yang di 
pkb dengan yang di ppp di jawa tengah, misalnya, menunjukkan bagaimana 
'kurungan' lebih menjadi variabel dominan daripada 'ukhuwah islamiyah'. 
sekali lagi, ini hanya sebagai contoh. kalau sesama muslim berantem karena 
beda 'kurungan', betulkah alasannya agama? saya melihat, berbagai macam 
bentrok itu bukan karena alasan agama. otherwise, sesama muslim, apakah 
yang di ppp, pbb, pkb, pk, tidak akan saling tolak, dan benar-benar 
mewujudkan ukuwah islamiyah. [catatan: penjelasan seperti ini akan 
'meaningless' untuk orang yang terlanjur percaya hakul yakin dengan teori 
'gothak-gathuk', teori jangan-jangan dan teori konsepiral eh konsepirasi].

belajar dari perkara bentokran orang muslim yang di ppp dan pkb yang 
terjadi di jawa tengah, insinuasi bahwa  'enam puluh persen caleg pdi-p 
bukan muslim, sedangkan kalau ditilik dari komposisi mayoritas negara 
muslim menjadi mayoritas' bukan perkara agama, ie. muslim vs. non muslim. 
membawa daftar caleg ke dalam variabel agama tidak akan membawa 
'pencerahan/keselamatan' sebagaimana yang sebenarnya dimaksudkan oleh 
agama.

any commment?  

Kirim email ke