Kawan yang budiman, Saya mendarat di Brisbane tgl 17 Mei 99, Brisbane yang kutinggal 29 Desember 1997, rupanya kian hingar bingar dengan persiapan Olimpiade, karena beberapa pertandingan final, seperti soccer, atletic akan ada di station baru di kampus University of Queensland. Sayang saya hanya akan 4 bulan di sini, entah nanti bisa lihat Olimpiade 2000 apa tidak. Belum habis pedih mata dan hidung, karena rendahnya humidity menjelang Winter, Natural Resource-UQ sudah mengajak untuk segera memberikan seminar dan sudah diplotkan tanggal 25 Mei 99, dengan topik apa saja tentang Indonesia. Akhirnya saya beri judul: Organic Fertilizer Strategy in Indonesia, yang sudah lama saya impikan sebagai dasar reformasi pemupukan di tanah air. Nukilannya, salah satunya tertulis sbb. Krisis telah membuat golongan bawah terpuruk, walaupun mungkin masih banyak pula manusia Indonesia yang memenuhi McDonald, Kentucky FC, Hoka-Hoka, mereka adalah golongan menengah ke atas. Ketika saya pergi mengurus visa di kedutaan Australia, ampuuun, perlu 3 jam antri hanya untuk ambil formulir, dan hari berikutnya perlu 4 jam hanya untuk menyerahkan formulir, seterusnya menunggu seminggu untuk keputusan. Wajah orang yang dipanggil di loket 6 atau 7, hanya dua mimik: cemberut karena paspornya diselipin surat penolakan, gembira karena yang keluar hanya paspor tanpa selipan surat penolakan. Itulah orang menengah keatas, yang bawa keluarganya ke Australia, entah hanya liburan atau eksodus, saya nggak mau judge. Yang jelas saya dengar orang didepan saya pas antri, bilang kalau uang jaminannya *hanya* $500 000,-. Sedang pikiranku masih terpaku di kandang-kandang ayam yang kosong, kolam ikan yang kering di kampung2 di Bandung Selatan, karena memang orang-orang kampung sudah bangkrut beternak ayam, ikan,dan sapi-sapi perah sudah makin dijual karena makanan yang bergizi untuk ternak makin menjerat leher, sedang dirinya sendiri perlu gizi juga. Pakan ikan dan ayam yang berupa pelet itu sudah melambung 2-3 kali, harga telor dalam negeripun naik (herannya telor import bisa lebih murah&^%$#???) dan peternak kecil hanya tergantung pada peternak besar yang ***memonopoli*** industri hulu dan hilir-nya. (Power tends to be corrupt, betul!). Campuran pakan a.l. Ampas tahu itu barang import lho, karena kedelainya import. Tepung ikan itu import, masih banyak komponen import dalam pakan ternak yang harus dibayar dengan dollar. Jalan keluar ? ini yang harus kita bahas bersama, kemiskinan kebodohan inilah ***musuh kita*** saat ini, Anda tahu bukan, kalau kita nangkring di atas kolam yang banyak ikannya, dan kita (maaf) doing business, ahh terus terang berak dari wc di atas kolam, belum sampai itu *organik itu* sampai ke air, sudah di sambar oleh ikan. Kenapa kita TIDAK buat itu 'organik' dari bahan lain. Manusia bisa bermenu vegetarian, kenapa ikan dan ayam tidak ? Marilah kita melirik ke sampah-sampah pasar, sampah kota: komposisi nya yang padat itu rejeki pemulung, yang organik bagian sayalah. Nah, BERAPA TON TEPUNG DAUN YANG BISA KITA SERAP DAN PRODUKSI SEBAGAI PELET PAKAN TERNAK DARI SAMPAH ITU ???. Kitapun sudah menggalang kerja sama dengan ahli peternakan, perikanan, manufacturem, manajer pasar induk untuk menggodog proposal produksi PELET PAKAN TERNAK ASAL SAMPAH. Kalau ada calon mahasiswa S1, S2, S3, maka ayo kita teliti produksi inovasi yang membantu rakyat bawah, insya allah kita dan kawan-kawan grass-rrot siap sebagai pembimbing. Kalau anda akan menjadi calon mahasiswa ke luar negeri, kita sudah ada professor yang akan menjadi promotor anda, Kalau anda kalangan berduit dan mau melakukan investasi untuk berjabat tangan dengan sampah dan menolong kaum peternak kelas teri yang bangkrut, insya allah do'a mereka akan mujarab entah anda pri atau non-pri, kita nggak ada kriteria itu. Mari kita jadikan proyek Pelet Pakan Ternak Asal Sampah Organik menjadi proyek nasional, coba JPS dijadikan dana riset fundamental melawan kemiskinan, tidak akan dicap sebagai 'monipulitik' bukan, tapi ya politik itu politik, riset ya riset, beramal ya beramal :-) Wassalam, Pudjo Rahardjo salah satu pendiri Koperasi Salman Mulia, Bandung -- ------------------------------- Department of Civil Engineering The University of Queensland St. Lucia, Brisbane, QLD 4072 Australia -------------------------------
