ada satu hal nich yg pak/mas muhajir ketinggalan bandinginnya...
dulu BK ninggalin utang negara berapa ya?
trus PH ninggalin utang negara berapa ya?
kalo daku yg nulis,
kesimpulannya adalah:
terlepas dari baik buruknya keduanya..
dua2nya adalah contok yg jelek!!
*smile*
icha
At 5:46 PM +1000 23/8/99, Sani Susanto wrote:
>Jadi Soehartois, Siapa Takut?
>Oleh Muhadjir Effendy *
>
>Pada 21 Mei yang lalu, tatkala Pak Harto menyatakan berhenti dari jabatan
>presiden, kejadiannya disiarkan langsung oleh semua pemancar televisi. Tak
>lama setelah itu, televisi juga meliput suasana sorak sorai para mahasiswa,
>terutama yang lagi menduduki gedung DPR/MPR, menyambut penuh antusias atas
>lengser keprabon-nya Pak Harto. Seramnya, close up kamera TV juga dibidikkan
>kepada patung Pak Harto komplit dengan peci hitam dan baju batik yang
>diseret-seret di jalan menuju pintu gedung DPR. Ini sangat paradoks dengan
>kejadian sebelumnya, di mana kehadiran Pak Harto ke gedung itu selalu dengan
>iring-iringan mobil mewah, kawalan ketat, dan disambut penuh takzim.
>
>Kejadian sebaliknya, yang sama sekali tidak diliput media massa, adalah
>tangis beberapa ibu yang trenyuh menyaksikan kejadian itu. Mereka tak kuasa
>membendung rasa iba, menyayangkan mengapa seorang presiden yang sudah begitu
>banyak jasanya pada akhirnya harus turun tahta dengan cara di-ruda peksa.
>
>Kalau para ibu punya reaksi yang berlawanan dengan mahasiswa atas
>lengser-nya Pak Harto, itu pasti ada alasannya. Di samping mungkin lantaran
>nurani keibuannya tergugah, mereka adalah orang yang sudah beranjak dewasa
>tatkala terjadi peralihan kekuasaan dari masa pemerintahan Presiden Soekarno
>ke tangan Presiden Soeharto (1965). Ketika kesengsaraan nasional, rasanya,
>sudah sampai di ubun-ubun. Pengalaman itu jelas tidak dimiliki para
>mahasiswa yang rata-rata lahir tahun tujuh puluhan, yang mereka itu adalah
>generasi baby boomer yang tumbuh di saat proses pembangunan sudah membuahkan
>kemakmuran dengan aneka kemudahan, namun sekaligus juga ketimpangan dan
>kebobrokan.
>
>Ada baiknya kita buat perbandingan sederhana antara keadaan pada 1965 saat
>Presiden Soekarno di-��Supersemarkan�� dan keadaan waktu Presiden Soeharto
>di-lengser-kan. Sebagaimana John Bresnan dalam buku Managing Indonesia
>mencatat, tahun 1964 inflasi mencapai 500 persen lebih, bandingkan saat
>puncak krisis moneter 1997, inflasi masih di bawah 50 persen.
>
>Tingkat pendapatan rata-rata perorangan pada 1964 hanya USD 30 setahun,
>sedangkan pada 1997 USD 998 (Asiaweek, 29 Mei 1998). Waktu itu rata-rata
>setiap orang hanya makan 1.800 kalori per hari, sedangkan saat menjelang Mei
>1998 makan 2.700 kalori per orang per hari.
>
>Sewaktu Presiden Soekarno turun tahta, sebagian besar penduduk tidak makan
>nasi beras. Sebagai gantinya, mereka makan thiwul, bulgur, bahkan ��nasi��
>yang dibuat dari tangkai pohon keladi (dodor), atau pangkal pohon pisang
>(ares). Keadaan diperparah oleh krisis politik yang diwarnai dengan
>pembantaian PKI.
>
>Dalam keadaan seperti itu, kehadiran Pak Harto di panggung kekuasaan
>bagaikan sinterklas atau imam mahdi. Jika ditilik dari tingkat krisis saat
>itu yang sudah sangat parah, dapat dikatakan bahwa Pak Harto mampu
>menunjukkan kemampuan linuwih-nya untuk menormalkan keadaan. Sampai-sampai
>di kalangan penduduk pedalaman Jawa, Pak Harto diyakini sebagai ratu adil
>yang me-ngejawantah, yang kedatangannya memang sudah ditunggu-tunggu.
>
>Sebagai koreksi, Pak Harto telah berusaha tampil beda dengan pendahulunya.
>Antara lain, ia tak mau menyandang gelar Paduka Yang Mulia/Pemimpin Besar
>Revolusi meski juga mau disebut Bapak Pembangunan. Pak Harto menghindari
>penggunaan kata-kata sloganis dan menggebu-gebu dalam setiap pidato.
>Demokrasi terpimpin diganti dengan demokrasi Pancasila. Dia juga tidak mau
>banyak kawin.
>
>Meski begitu, akhirnya ada beberapa kesamaan juga, yaitu: 1 sangat lama
>memegang kekuasaan; 2. kepemimpinannya menyimpan misteri karena dibungkus
>aura mitologis; 3. bertindak sebagai ��penafsir� ideologi negara meski
>dengan versi yang berlainan; 4. sama-sama turun tahta karena krisis ekonomi;
>dan 5. turun dengan cara di-ruda peksa.
>
>Yang belum bisa dibuktikan adalah, bisakah Pak Harto suatu saat nanti
>bangkit menjadi mitos sebagaimana Bung Karno. Kalau bisa, berapa lama
>dibutuhkan. Sebab, nama Bung Karno butuh waktu 30 tahun dari masa
>lengser-nya untuk benar-benar bangkit kembali. Hasilnya, harus diakui bahwa
>bagaimanapun, kemenangan PDI Perjuangan tak lepas dari kebangkitan karisma
>Bung Karno yang menitis ke dalam diri putrinya, Megawati.
>
>Kalau dilihat sangat banyaknya lapisan masyarakat yang secara emosional
>masih berpihak kepada Pak Harto, baik yang menaruh empati maupun sekadar
>simpati, serta tidak terlalu parahnya kesengsaraan umum pada saat Pak Harto
>di-lengser-kan dibandingkan dengan waktu Bung Karno di-Supersemar-kan; kelak
>di kemudian hari, tampaknya, bakal bangkit mitos Soehartoisme. Bahkan,
>mungkin, tidak perlu menunggu 30 tahun, rakyat akan melupakan kesalahan Pak
>Harto, keluarga, dan kroninya.
>
>Keluarga Pak Harto dan pembantu setianya di masa datang sangat berpeluang
>membangun sistem dinasti politik di Indonesia sebagaimana keluarga Kennedy
>di Amerika Serikat, Gandhi di India, atau Marcos di Filipina.
>
>Kalau pada zaman Orde Baru tindakan represif melahirkan ketakutan umum,
>termasuk takut mengaku menjadi pengikut Soekarno, kini sebagai buah
>reformasi, tindakan represif kian tak populer sehingga tak perlu ada rasa
>takut, termasuk takut mengaku jadi pengikut Pak Harto bukan?
>
>*. Drs Muhadjir Effendy MPA, staf pengajar UMM