cerita di bawah ini, adalah rekonstruksi dari berbagai macam informasi 
seputar jajak pendapat di timor timur:

sekelompok jurnalis, baik yang secara resmi bergerak sendiri tapi 
menggunakan nama lembaganya maupun yang benar benar bekerja untuk 
lembaganya, berbondong bondong ke tim tim untuk mengumpulkan berita untuk 
diinformasikan kepada pembacanya. 'freedom of information', 'cover all 
side' [tentu saja bukan 'to cover' dalam artian menutupi tapi 'to cover' 
dalam makna meliput], imbang, tak memihak, menjadi bekal semangat 
pengumpulan berita.

sampai di lapangan, disemangati oleh jiwa investigasi dan keinginan untuk 
menampilkan laporan eksklusif, sejumlah wartawan mewawancarai calon 
pemilih: apa yang hendak dipilihnya. pro otonomi atau tolak otonomi. 
[bukankah mustinya laporannya begitu? bukan 'pro otonomi' atau 'pro 
kemerdekaan'. adakah perbedaannya? jelas ada, tapi dibikin diam. teori 
untuk analisa penggeseran atau pendiaman 'kata' semacam ini bisa dibaca di 
n. fairclough, 1989; konsep 'totalisasi wacana' yang dikutip ariel dalam 
thesis dan makalah makalahnya; juga jacob torfing: new theories of 
discourse].

kalau saya mengambil posisi sebagai jurnalis, saya merasa tidak ada yang 
keliru dengan apa yang saya lakukan dalam mengumpulkan berita. tapi ketika 
sampai pada pelaporan, jelas ideologi [jangan dibaca dalam pengertian isme 
politik], 'watak'/ciri media akan menentukan, atau paling tidak 
mempengaruhi hasil laporan. channel 9 nya oz, bisa ditebak akan 
membingkainya dalam 'ciri' 'human drama', misalnya. abc di samping 
memberitakan, barangkali juga membahasnya dalam di radio nasional. tempo 
dengan bahasa, lukisan atau gambar dengan semangat cerdas, tidak 
'merayakan' [celebrate] kekerasan. kompas melaporkan dengan kata-kata, 
imajinasi dan gambar yang jelas berbeda dari pos kota, misalnya. perbedaan 
ini kemudian lebih jauh lagi dimengerti dan dimaknai oleh kelompok 
masyarakat yang berbeda. kalau saya pembaca berat pos kota, jelas saya 
akan menganggap berita paling aktual adalah persepsi atau tanggapan kita 
atas pewartaan pos kota. media lain, bohong, pengecut, tidak tuntas, 
berusaha menutup-nutupi, memihak kepentingan tertentu dan mungkin banyak 
lagi alasan. kalau saya konsumen berita bbc, voa, atau radio nederland, 
hanya berita dari sumber sumber berita semacam ini lah yang bisa 
diandalkan. barangkali ilustrasi ini adalah ilustrasi ekstrem. tapi, 
menurut saya, demikianlah sebenarnya potret wajah kita sebagai konsumen 
berita.

jadi kalau begitu, untuk mendapatkan kekomprehensipan berita, haruskah 
kita merangkum semua berita dari berbagai sumber? pada hemat saya, itu 
usaha yang sia-sia. berita yang tidak kompatibel dengan selera kita, tidak 
akan masuk ke perhatian kita. [is this the totalitarian nature of news and 
ideology?]

dengan demikian, jelas, yang sampai di persepsi kita lah yang akan kita 
anggap berita. kalau demikian, lalu di manakah fairness? bukankah persepsi 
terhadap berita itu dibentuk dengan memilih dan 'mengabaikan', men-diam-
kan pelaporan tertentu?

yang lebih memprihatinakan lagi adalah, tidak hanya ketidaksiapan kita 
untuk melakukan dicernment terhadap apa apa yang masuk ke benak kita, 
melainkan juga kekerasankepala kita untuk hanya mempercayai apa yang kita 
persepsi sebagai the only and ultimate truth. dan karena kekakuan, atau 
watak totalitarian, posisi 'the only and ultimate truth' ini lah, kita 
'petentang petenteng' menantang tetangga. 

Kirim email ke