> Saya melihat UNamet sebagai wahana atau alat politik banyak interest
> melalui tangan-tangannya di PBB. Beberapa dugaan ini:
>
> 1. Bisa jadi memang ini proyek ambisiusnya Kofi Annan yang menjelang
> pensiun, so, dia perlu bikin suatu prestasi besar supaya namanya selalu
> dikenang orang sedunia. Nama proyeknya ya, Unamet itu. ('selamat' buat
> Bung Kofi dan kroninya - kalo ente-ente sukses di jajak pendapat Timtim!)
>
> 2. Selain itu, mungkin juga Amerika-Australia dan Portugal sendiri yang
> bener-bener pengen hasil jajak pendapat ini dimenangkan kelompok
> pro-kemerdekaan, supaya mereka bertiga nggak kehilangan muka di dunia
> internasional dengan perjuangannya selama 24 tahun di fora PBB. Padahal
> semua orang juga tau, toh its Amerika dan Australia juga yang ngedukung RI
> mengambil-alih Tim-tim dari kekuasaan Portugal pada tahun 1975 hanya
> karena fobia sama kekuatan sosialis-komunis yang mulai rajin membangun
> basis di Tim-tim, terlebih partai sosialis baru aja menang pemilu di
> Portugal, waktu itu. Tapi pendirian politik mereka nggak tahan lama
> setelah melihat perubahan konfigurasi kekuatan politik di Indonesia yang
> serba dahsyat: ABRI, Islam dan rakyat Indonesia. Australia mulai ketakutan
> dan mulai sibuk cari temen, ya Amerika itu.(Komentar: Howard, ternyate
> ente pengecut sejati !).
amat nggak serius:
lebih baik nakut-nakuti atau cari temen? atau nakut-nakuti sambil cari
temen?
>
> 3. Atau bisa juga gaya-gaya politik murahannya Amerika: ngobok-obok
> Indonesia seenak udelnya dengan tujuan satu: mau ngebangun pangkalan
> militer di Asia. Anda tau kalo Amerika lagi puyeng mikirin soal pangkalan
> ini sejak ditutupnya Subic and Clark. So, mereka butuh penggantinya.
> Target calon pangkalannya : di Riau, Ambon atau tentunya ya Timtim. Apa
> yang mereka cari ? Jawabannya: mengamankan investasi jutaan dollar mereka
> di Indonesia seperti LNG dan Caltex di Riau, Freeport di Irian dan mungkin
> sedikit mineral di Celah Timor. Sekaligus memperkuat armada dan fasilitas
> militernya di Asia menghadapi Cina. So, boleh dong kita curiga kenapa
> Ambon begitu kisruh dan rusuh, juga Aceh, dan tentunya Tim-tim yang
> sekarang lagi asik digarap. Khusus untuk Ambon, well bisa jadi tangan
> Amerika disana adalah Belanda dengan RMS-nya (sekaligus balas dendam
> gara-gara dulu dilecehin Soeharto karena skandal CGI). (Komentar saya:
> Amerike dan Belande, muke lu jauhhh)
amat:
aduh ente jangan buka rahasia kepandaian elu gitu dong. mengembangken
komentar dan analisa berdasarkan kecurigaan [so, boleh dong kita curiga
kenapa ambon ....] dan 'bisa jadi' [bisa jadi tangan emberikan...] itu kan
rahasia kepintaran kita? mosok diobral gitu. itu namanya membuka rahasia.
>
> Jadi boleh saya simpulkan, bahwa pada dasarnya negara besar emang
> cenderung arogan, imperialistik, sok pinter dan sok ngatur dari dulu
> sampai sekarang, dan itu nggak ada matinya. Negara-negara besar cuman a
> bunch of dirty rotten scoundrels, pengecut dan kurang kerjaan. Beraninya
> main keroyokan macem anak SMA di Jakarta.
amat:
boleh boleh boleh.... menyimpulkan belum dilarang kok. entar kalau uu
keamanan dan keselamatan negara udah kelar, barangkali nggak boleh lagi.
ini cuman barangkali lho.
kesimpulannya beri beri gud. [maaf kursus bahasa inggrisnya cuma kelas
kampung jadi nggak bisa bilang 'very very good].
>
> David, listen to me, do not underestimate orang Indonesia dari segi apa
> pun. Orang Indonesia tidak bodoh melihat dagelan politik ala
> Clinton-Howard di Timtim. It's really entertaining. Sama lucunya sama
> dagelan Butet. But please bear in mind, that we are not stupid.
> Indonesians are impressive in politics, they make a good and invisible
> manouvre. They are intelligent, very tactical and tends to be corrupt in
> whatever ways (apalagi kalo udah kepepet).
amat:
tuh dengar dapid. jangan underestimate. orang indonesia tidak bodoh.
buktinya? tulisan ini.
So, hold your hats!. Belum lagi
> potensi kuantitas penduduknya yang 200 jutaan. Mobilisasi 1 persen rakyat
> saja sudah bisa bikin sekontinen Australia babak belur.
amat:
nah apa kata bung karno ketika hendak ganyang malaysia. malaysia kita
setrika. kita ke sana ramai ramai, kita kencingi malaysia dan singapura.
pasti tenggelam mereka.
ya.... terus ke sananya naik apa? nglangi? eh renang?
Apalagi kalau
> mobilisasi itu diikuti sekian persen orang-orang sekolahan (the
> intelligent) untuk satu tujuan: ngedepak para imperialis tengil ! Dan
> jangan tanya perkara nasionalismenya .. gampang sekali disulut ...... ini
> urusan sensitif, bo !
amat:
nyiak.....mobilisasi orang sekolahan..... cuma orang 'sekolahan', seneng
tawuran, kemaruk kuasa dan uang, tidak intelek yang bisa dimobilisasi.
yang berumah di awan [gitu kata rendra], nehik. neeee. mboten purun, tidak
akan mau dimobilisasi. tapi ya....entah kalau saya ikut ikutan
underestimate.
>
> Okay David (dan para imperialis tengil lainnya), berdoalah sebelum tidur
> supaya orang Indonesia nggak terbangun dari tidurnya .. dan marah sama
> omongan dan perbuatan kamu. I mean it.
amat:
beri beri inteligent. pinter tenan. pinter nesu barang.
>
> (Tanah airku Indonesiaaaal, negeri elok amat kucincaaaaang ....tanah
tumpah
> darah untukmu, yang muliaaaaa, yang kupuja s'panjang masaaaa ..... ).
>
> Wass.
> Smara
>
>
> david goldsworthy wrote:
>
> > --- Siswanto Siswo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > >
> > > > > lho anda apa tidak baca koran, lihat TV,
> > > > > 1. ada oknum Oz yang di deportasi
> > > > > 2. UNAMET memaksa orang memilih pro kemerdekaan
> > > > > 3. UNAMET berat sebelah
> > > > > 4. Hanya wartawan asing yang boleh meliput di
> > > > > sekitar TPS, wartawan
> > > > > Indonesia diusir untuk menjauh,
> > > > > 5. UNAMET lebih menutup diri, lihat tuh proses
> > > > > penghitungan suara di hotel
> > > > > Borobudur, Jakarta
> > > >
> > deleted ---
>
> --------------2A2483079094691A720AE19C
> Content-Type: text/html; charset=us-ascii
> Content-Transfer-Encoding: 7bit
>
> <!doctype html public "-//w3c//dtd html 4.0 transitional//en">
> <html>
> Bung Goldsworthy (nama anda unik, ya),
> <p>Saya melihat UNamet sebagai wahana atau alat politik banyak interest
> melalui tangan-tangannya di PBB. Beberapa dugaan ini: <p>1. Bisa jadi
> memang ini proyek ambisiusnya Kofi Annan yang menjelang pensiun, so, dia
> perlu bikin suatu prestasi besar supaya namanya selalu dikenang orang
> sedunia. Nama proyeknya ya, Unamet itu. ('selamat' buat Bung Kofi dan
> kroninya - kalo ente-ente sukses di jajak pendapat Timtim!) <p>2. Selain
> itu, mungkin juga Amerika-Australia dan Portugal sendiri yang bener-bener
> pengen hasil jajak pendapat ini dimenangkan kelompok pro-kemerdekaan,
> supaya mereka bertiga nggak kehilangan muka di dunia internasional dengan
> perjuangannya selama 24 tahun di fora PBB. Padahal semua orang juga tau,
> toh its Amerika dan Australia juga yang ngedukung RI mengambil-alih
> Tim-tim dari kekuasaan Portugal pada tahun 1975 hanya karena fobia sama
> kekuatan sosialis-komunis yang mulai rajin membangun basis di Tim-tim,
> terlebih partai sosialis baru aja menang pemilu di Portugal, waktu itu.
> Tapi pendirian politik mereka nggak tahan lama setelah melihat perubahan
> konfigurasi kekuatan politik di Indonesia yang serba dahsyat: ABRI, Islam
> dan rakyat Indonesia. Australia mulai ketakutan dan mulai sibuk cari
> temen, ya Amerika itu.(Komentar: Howard, ternyate ente pengecut sejati !).
> <p>3. Atau bisa juga gaya-gaya politik murahannya Amerika: ngobok-obok
> Indonesia seenak udelnya dengan tujuan satu: mau ngebangun pangkalan
> militer di Asia. Anda tau kalo Amerika lagi puyeng mikirin soal pangkalan
> ini sejak ditutupnya Subic and Clark. So, mereka butuh penggantinya.
> Target calon pangkalannya : di Riau, Ambon atau tentunya ya Timtim. Apa
> yang mereka cari ? Jawabannya: mengamankan investasi jutaan dollar mereka
> di Indonesia seperti LNG dan Caltex di Riau, Freeport di Irian dan mungkin
> sedikit mineral di Celah Timor. Sekaligus memperkuat armada dan fasilitas
> militernya di Asia menghadapi Cina. So, boleh dong kita curiga kenapa
> Ambon begitu kisruh dan rusuh, juga Aceh, dan tentunya Tim-tim yang
> sekarang lagi asik digarap. Khusus untuk Ambon, well bisa jadi tangan
> Amerika disana adalah Belanda dengan RMS-nya (sekaligus balas dendam
> gara-gara dulu dilecehin Soeharto karena skandal CGI). (Komentar saya:
> Amerike dan Belande, muke lu jauhhh) <p>Jadi boleh saya simpulkan, bahwa
> pada dasarnya negara besar emang cenderung arogan, imperialistik, sok
> pinter dan sok ngatur dari dulu sampai sekarang, dan itu nggak ada
> matinya. Negara-negara besar cuman <i>a bunch of dirty rotten
> scoundrels</i>, pengecut dan kurang kerjaan. Beraninya main keroyokan
> macem anak SMA di Jakarta. <p><i>David, listen to me, do not
> underestimate</i> orang Indonesia dari segi apa pun. Orang Indonesia tidak
> bodoh melihat dagelan politik ala Clinton-Howard di Timtim. <i>It's really
> entertaining</i>. Sama lucunya sama dagelan Butet. <i>But please bear in
> mind, that we are not stupid. Indonesians are impressive in politics, they
> make a good and invisible manouvre. They are intelligent, very tactical
> and tends to be corrupt in whatever ways</i> (apalagi kalo udah kepepet).
> <i>So, hold your hats!. </i>Belum lagi potensi kuantitas penduduknya yang
> 200 jutaan. Mobilisasi 1 persen rakyat saja sudah bisa bikin sekontinen
> Australia babak belur. Apalagi kalau mobilisasi itu diikuti sekian persen
> orang-orang sekolahan (<i>the intelligent</i>) untuk satu tujuan: ngedepak
> para imperialis tengil ! Dan jangan tanya perkara nasionalismenya ..
> gampang sekali disulut ...... ini urusan sensitif, bo ! <p>Okay David (dan
> para imperialis tengil lainnya), berdoalah sebelum tidur supaya orang
> Indonesia nggak terbangun dari tidurnya .. dan marah sama omongan dan
> perbuatan kamu. <i>I mean it</i>. <p>(Tanah airku Indonesiaaaa, negeri
> elok amat kucintaaaaa ....tanah tumpah darahku yang muliaaaaa, yang kupuja
> s'panjang masaaaa ..... ). <p>Wass. <br>Smara <br> <p>david
> goldsworthy wrote: <blockquote TYPE=CITE>--- Siswanto Siswo
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote: <br>> > > <br>> > > lho anda apa tidak
> baca koran, lihat TV, <br>> > > 1. ada oknum Oz yang di deportasi <br>> >
> > 2. UNAMET memaksa orang memilih pro kemerdekaan <br>> > > 3. UNAMET
> berat sebelah <br>> > > 4. Hanya wartawan asing yang boleh meliput di
> <br>> > > sekitar TPS, wartawan <br>> > > Indonesia diusir untuk menjauh,
> <br>> > > 5. UNAMET lebih menutup diri, lihat tuh proses <br>> > >
> penghitungan suara di hotel <br>> > > Borobudur, Jakarta <br>> > <br><a
> href="http://auctions.yahoo.com">deleted ---</a></blockquote> </html>
>
> --------------2A2483079094691A720AE19C--
>