From: W P <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, December 28, 1999 18:48
Subject: UNAIR: Albert Einstein Tokoh Abad Ini
Harian Kompas
--------------------
Majalah Time dalam edisi internasionalnya akhirnya menjatuhkan
pilihannya kepada Albert Einstein sebagai Tokoh Abad Ini.
Nasrullah Idris
------------------
Ia merupakan ilmuwan dengan sikap sportivitas intelektual sangat
tinggi. Yang dicarinya hanya pemecahan misteri fisika. Bukan kemenangan
demi mempertahankan/memperkuat kredibilitasnya sebagai fisikawan.
Sebagai pemikir sejati dan peneliti jenius ... ia sering
memikirkan/meneliti masalah fisika secara dalam dan tuntas.
Untuk itu tidak malu bertanya kepada siapa pun. Termasuk para yuniornya di
bidang fisika.
Sebagai pembicara ia sering membahas pemikiran/penelitian tentang
fisika dari banyak pihak tanpa mempersoalkan "DARI SIAPA" tetapi "TENTANG
APA".
Tidak menjadi soal : imajinasi, praktek, maupun teori.
Dalam pembicaraan, ia hanya membahas PEMIKIRAN dan PENELITIAN tentang
fisika. Sedangkan masalah profil PENELITI/PEMIKIR fisika tidak pernah
dilibatkannya ... karena itu baginya bukan lagi urusan fisika.
Pernah juga ia mengkiritik hasil penelitian/pemikiran dirinya secara
terbuka tanpa merasa gengsinya turun.
Karena itu saya katakan bahwa ia mempunyai sportivitas intelektual
sangat tinggi.
Kalau kita pikir memang betul bahwa Hadiah Nobel sains hanya
dipersembahkan untuk mereka yang berhasil membahas pemikiran/penelitian.
Bukanlah untuk mereka yang doyan membahas pemikir/peneliti.
Makanya jangan harap deh berprestasi di tingkat internasional di bidang
sains kalau doyannya hanya membahas profil peneliti/pemikir sains.
Harian Kompas
--------------------
ABAD ke-20 akan dikenang sebagai Abad Sains dan Teknologi. Inilah abad
yang sejak awal melahirkan dan membesarkan pemikir-pemikir yang membantu
anak segala bangsa memahami rahasia atom dan alam semesta.
Nasrullah Idris
-------------------
Harus kita akui pada supremasi Sains Matematika Teknologi untuk abad 20
masih dipegang Eropa/Amerika.
Karena itu, kita sejak dini harus segera melangkah lebih jauh dan
melompat lebih efektif. Antara lain dengan merumuskan visi sebagai
prioritas unggulan serta didukung oleh program kongkrit dan langkag
strategis.
Marilah kita hilangkan segala bentuk image (langsung atau terselubung)
bahwa bangsa Asia/Afrika akan selalu di bawah bangsa Eropa/Amerika di bidang
prestasi teknologi sampai kapan pun. Karena secara alamiah tidak ada isyarat
sedikit pun bahwa suatu bangsa akan di bawah bangsa lain di bidang Sains
Matematika Teknologi secara kontiniu.
Harian Kompas
--------------------
Dari sekian ilmuwan besar peletak dasar pengertian modern tentang atom
yang membangun infrastruktur teknologi elektronika dan komputer, yang
mengubah wajah peradaban dunia serta pengukuh basis pengetahuan mutakhir
mengenai jagat raya, yang menjadi pemacu program eksplorasi antariksa
negara-negara maju sejak pertengahan tahun 1900-an, siapakah yang pantas
dinobatkan sebagai Tokoh Abad Ini?
Nasrullah Idris
------------------
Padahal ketika masih hidupnya, Einstein sering dihujat. Misalkan oleh
kalangan praktisi di mana mereka antara lain menganggap Einstein sebagai
"orang penghayal belaka" atau "orang berteori belaka". Ini mengingat adanya
teori Einstein belum bisa dibuktikan ketika ia menelorkannya.
Hendaknya ini menjadi pelajaran bagi praktisi, agar tidak merasa di
atas angin di hadapan "pelaku imajinasi" dan "pelaku teoritis". Mendingan
merangkul mereka. Siapa tahu akan muncul sinergi kuat.
Harian Kompas
--------------------
Sebagai tokoh yang namanya dalam berbagai bahasa di dunia sinonim
dengan genius, Einstein merupakan tokoh terdepan di antara sekian ilmuwan
yang berhasil membangun teori-teori ilmu dasar sebagai fondasi bagi panggung
kejayaan abad teknologi.
Nasrullah Idris
------------------
Ia adalah sosok ilmuwan mempunyai pola berpikir tuntas, detail, dan
integratif tentan sejumlah fenomena terkait,
seperti waktu, ruang, dan massa. Sehingga memperluas wawasannya. Selanjutnya
memudahkan dia mencari hubungan korelasi satu sama lain di mana semua ini
diolahlah dengan bermodalkan kecepatan kalkulasi, kecepatan analisis, dan
kecepatan engineering pada otaknya.
Harian Kompas
------------------
KESULITAN belajar bicara saat kanak-kanak, Einstein yang lahir di Ulm,
Jerman pada tahun 1879 ini menjadi santo pelindung bagi anak-anak yang
mengalami gangguan mental. Namun, dalam usia lima tahun, ia sudah terangsang
memecahkan teka-teki cara kerja kompas dan misteri gaya-gaya yang terdapat
di alam semesta.
Nasrullah Idris
-------------------
Kreatif dan agresif merupakan kepribadian yang membawa dia jadi tokoh
dunia fisika.
Ketika kecil, kecerdasan/kreativitas dia kurang dihargai oleh para guru
di SD. Bahkan mereka menyimpulkan, Einstein bukan termasuk murid yang punya
prospek baik pada masa depan. Ini di antaranya karena kelambanan/kesulitan
dia menerima pelajaran Matematika yang justru akhirnya dia pakar matematika
yang punya reputasi sejarah sampai kini. Singkatnya, jarang guru yang
memberi semangat, bahkan menganggap dia : sangat bandel, kurang disiplin,
dan murid aneh.
Demikian juga dengan Einstein. Dia menganggap para guru, tidak
bijaksana dalam mengajar. Dia jenuh dan muak dengan sistim pendidikan yang
ada. Karena itu, ketika berusia 12 tahun, dia memutuskan untuk meninggalkan
SD dengan alasan bohong : "Einstein telah terkena neurosis" melalui surat
yang diminta dari psikiater.
Namun Einstein bukan anak frustasi, seperti nyamuk yang jika ditindih
jari, langsung tidak dapat bangun lagi.
Harian Kompas
--------------------
RELATIVITAS Einstein tidak hanya mempengaruhi fisika, tetapi juga
mengguncang masyarakat dunia. Relativitas waktu dan ruang secara tidak
langsung mempengaruhi relativisme baru dalam moralitas, seni, dan politik.
Absolutisme tidak hanya berkurang di dalam ruang dan waktu, tetapi juga dala
m kebenaran dan moralitas.
Nasrullah Idris
-------------------
Izinkanlah saya untuk memprediksi/menganalisa tentang bagaimana cara
Einstein menemukan teori relativitas. Mohon anda untuk tidak langsung
menelannya.
Maksudnya mengunyahnya terlebih dulu agar terasa asam, garam, asin, dan
pahitnya.
Mohon pula hasil kunyahannya diberitahukan kepada saya.
Begini :
Kalau seorang anak sudah memahami "a + a = .... " secara tuntas,
detail, dan dalam, maka dia akan bisa memprediksi apa yang terjadi pada 85
tahun kemudian bila ditemukan "komputer terbang", yaitu "1 komputer
terbang + 1 komputer terbang = 2 komputer terbang".
Walaupun dia belum mengenal yang namanya "komputer terbang", tetapi
secara logika, kita kan bisa mengatakan bahwa aplikasi "a + a = ..." yang
digunakan si anak itu bisa dipertanggungjawabkan. Rasanya kita pun bisa
mempercayainya 100 persen. Kenapa ? Karena kita pun bisa memahami "a + a =
.." secara tuntas, dalam, dan detail.
Hanya saja substansial aplikasi matematika dari si anak sangat
sederhana. Sedangkan yang digunakan Einstein sangat komplek.
Mungkin saja banyak pakar Fisika yang mengabaikan akan teori Einstein
tersebut pada saat itu karena tingkat ketuntasan, kedetailan, dan kedalaman
mereka dalam memahami "gravitasi" dan "cahaya" rata-rata masih di bawah
Einstein. Sehingga ada faktor "x" yang memungkinkannya mereka belum bisa
mempercayainya 100 persen.
Salam,
Nasrullah Idris
------------------
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi