>YUSUF:
>    Ternyata kita berbeda dalam menghubungkan antara agama dan
>    keselamatan   kita.   Menurut   iman   saya, agama Kristen tidak
>    menyelamatkan saya,   tetapi     iman   saya kepada Kristus-lah
>    yang menyelamatkan saya.
>
>    Jelasnya, TIDAK   BENAR   BILA KITA BERAGAMA BERARTI
>     KITA  TELAH  BERIMAN, APALAGI AGAMA KITA HANYA DI-
>     BUKTIKAN  DENGAN  JELAS LEWAT: "KARTU TANDA PEN-
>     DUDUK".
>
>     Lebih jelas lagi, SEMUA KITA BISA MENGAKU BERAGAMA.
>     TETAPI   TIDAK  SEMUA KITA PUNYA IMAN YANG TEGUH
>     SESUAI DENGAN AJARAN AGAMA KITA MASING-MASING.

Untuk poin ini saya sependapat dengan anda. Cara kita dalam menghubungkan 
agama dengan iman memang berbeda, tapi saya setuju iman seseorang 
berbeda-beda kadarnya. Istilah 'Islam KTP' muncul bukan tanpa alasan...


>YUSUF:
>   Ternyata kita berbeda dalam mengartikan  agama.   Bagi saya,
>    agama hanya buat di dunia saja. Sedangkan di  akhirat   tidak
>    ada agama, karena di akhirat Tuhan tidak memandang  setiap
>    kita   dari   agama yang kita anut, tetapi setiap perbuatan kita
>    yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
>
>    Jelasnya, TERDAPAT BANYAK AGAMA DI DUNIA. TETAPI
>    HANYA ADA DUA TEMPAT   DI AKHIRAT:    SURGA ATAU
>    NERAKA.

Nah, dalam hal ini kita memang jelas berbeda pandangan. Agama Islam yg saya 
anut jelas menegaskan mengenai kesinambungan dunia-akhirat, termasuk 
mengenai keyakinan / agama yg dianut.


>YUSUF:
>  Bisakah Bung Andi menyebutkan  dengan  jelas nama agama
>  yang dimaksudkan  dimana "Dilihatnya setiap  orang  yg  ber-
>  beda  keyakinan  adalah   musuhnya, yg  harus  dilawan dan
>  diperangi"?.
>
>  Jelasnya,  KALAU BUNG ANDI TIDAK BISA MENYEBUTKAN
>  DENGAN   JELAS  NAMA AGAMA INI BERARTI BUNG ANDI
>  TERGOLONG SEORANG PROVOKATOR YANG SUKA MEN-
>  JELEK-JELEKKAN AGAMA ORANG LAIN TANPA MEMBERI-
>  SUATU BUKTI YANG JELAS.

Sdr. Yusuf, kini saya yg tersenyum kecil membaca tulisan anda. Apakah saya 
menjelekkan suatu AGAMA dengan pernyataan saya itu? Menurut saya, 
pernyataan saya itu tidak memandang agama tertentu. Yg bermasalah adalah 
ORANGNYA, karena pada intinya semua agama mengajarkan kasih sayang sesama 
manusia tanpa pilih kasih. Saya berpendapat bahwa bila dalam menganut suatu 
keyakinan kita tidak berpikiran terbuka, setiap orang yg berbeda dengan 
kita akan kita perlakukan sebagai lawan. Kalau boleh saya sebut sebagai 
fanatisme yang sempit, inilah yg saya maksudkan. Apakah anda bisa 
mengatakan bahwa sifat ini pilih2 orang dari agama / kelompok tertentu?
Kalau anda masih ngotot agar saya menyebutkan agama yg dimaksud (padahal 
saya bukan sedang menyorot agamanya, melainkan orangnya), bukankah anda 
dapat saya anggap justru memprovokasi saya untuk menjelek2kan suatu agama 
tertentu?


>YUSUF:
>   Terima kasih banyak atas kutipan Al Kafiruun dimana saya baru
>   tahu bahwa   ternyata   orang-orang   Kafir punya  agama   yang
>   dibuktikan dengan: "Untukmulah agamamu,.....".
>
>YUSUF:
>Terima kasih banyak sekali lagi atas telah ditempatkan dengan
>pasnya pendengaran   saya   sekaligus   kaitan ayat itu dengan
>kejadian yang sebenarnya dimana Rasulullah Muhammad SAW
>tidak mau ber'kompromi' dengan agamanya kaum Quraisy yang
>menyembah       tuhan      berhala/patung,     tetapi   Rasulullah
>Muhammad   SAW   mengakui       agama    mereka     dengan
>menyatakan: "Untukmulah agamamu,...".(Mohon   ditempatkan
>LAGI dengan pas, kalau  seandainya pernyataan saya SALAH).

Esensinya adalah, anda berhak untuk menjalankan keyakinan / agama anda 
(Kristen) sebagaimana saya pun berhak menganut agama saya (Islam). Pilihan 
agama kita adalah hak asasi masing-masing dan kita harus saling 
menghormatinya. Adapun upaya masing2 pihak untuk 'mempromosikan' (kami umat 
Islam menyebutnya berdakwah), perlu memperhatikan tata cara yg baik. 
Bagaimanapun, penilaian kita mengenai agama / keyakinan orang lain, kita 
tidak boleh menjadikannya alasan untuk memusuhi orang itu.


>YUSUF:
>   MENGAPA ANDA JUGA  TERGANGGU DENGAN SAYA, JIKA
>   ANDA TIDAK SETUJU DIAMKAN SAJA. APAKAH ANDA JUGA
>   PIKIR BAHWA SDR. YUSUF  SUDAH  TIDAK   DALAM BATAS
>   WAJAR?

Sdr. Yusuf, saya tidak terganggu kok. Masalahnya seperti yg saya sebutkan, 
sdr. Nasrullah sedang menujukan tulisannya kepada sesamanya umat Islam, dia 
tidak menyinggung orang non-Islam tapi toh anda (yg saya kira bukan 
termasuk yg dimaksud dalam tulisan sdr. Nasrullah) meng-'kritik'-nya. Buat 
saya itu agak janggal, makanya saya tergugah untuk sedikit berkomentar. 
Namun seperti halnya tulisan sdr. Nasrullah, tulisan anda itu juga belum 
keluar dari norma ataupun batas kewajaran.
Bagi saya tulisan sdr. Nasrullah tidak 'membegini-begitukan' agama Islam 
kok, kalau iya saya yakin justru orang Islam sendiri yg akan 'gerah'.


>YUSUF:
>    Intinya, DALAM URUSAN AGAMA DAN KEYAKINAN SEMESTI-
>    NYA   KITA  TIDAK   HANYA SALING MENGHORMATI TETAPI
>    TAHU MENEMPATKAN DIRI:  'DIMANA' DAN 'KEPADA SIAPA'
>    SEHARUSNYA   KITA   INGIN     'MEMPROMOSIKAN' AGAMA
>    KITA SEHINGGA JANGAN TERJADI PEMAKSAAN KEHENDAK.

Bila boleh saya menambahkan, menurut saya yg paling penting bukan 'di mana' 
atau 'kepada siapa'. Banyak kasus pemaksaan kehendak, masalahnya terletak 
di BAGAIMANA caranya.

>    Kesimpulannya,   INDOZ-NET   BERBEDA   DENGAN   IS-NET,
>    KRISTEN-NET,     PAROKI-NET   DAN NET-NET    BERBASIS
>    AGAMA LAINNYA.
>

Saya harap sdr. Yusuf bisa memahami pandangan saya ini. Masalah agama bagi 
saya tidak bisa ditawar, saya ikut terlibat pada awalnya juga karena saya 
berpendapat ada yg perlu 'diluruskan' dalam pernyataan anda. Meski begitu 
saya menghormati hak anda untuk menjalankan keyakinan dan mengemukakan 
pendapat anda -- tentunya dengan cara yg baik, dan pada saat yg sama 
mengharapkan anda bisa berbuat sama kepada saya.
Mudah2an mailis ini tidak akan berkembang menjadi tempat kita saling 
menjelek-jelekkan orang lain, melainkan saling mengingatkan untuk menjaga 
hubungan yg harmonis dan proporsional di antara kita semua.

>Salam,
>
>Yusuf  L. Henuk

Salam,

Muhammad 
Priandi

Kirim email ke