Teman-teman Indoz-net semua,


Sebagai kata  pengantar saya dalam menanggapi kedua tulisan
menarik dibawah ini, saya mengutip tulisan  Dr. Al. Purwa Hadi-
wardoyo  MSF (1992: 17-18), menulis dalam bukunya: "MORAL
DAN MASALAHNYA", bahwa: 

"Hati nurani merupakan pusat kepribadian. Maka, seperti seluruh
kepribadian,   hati   manusia   juga mengalami pertumbuhan. Per-
tumbuhan itu dapat   berarti   kemajuan, namun dapat juga meng-
alami kemunduran.   Mutu  dari pertumbuhan itu tergantung pada
tanggapan lingkungan maupun   pada  usaha sendiri. Lingkungan
yang baik   dapat   mendukung   pertumbuhan hati nurani  secara
positif. Maka   keluarga   maupun kampung yang baik merupakan
bantuan besar bagi   warganya   untuk   dapat maju dalam pertum-
buhan hati nuraninya.   Sebaliknya,   masyarakat   dan   keluarga
yang buruk    akan   menghambat perkembangan hati nurani. Hati
nurani orang   yang   semula   peka   dan tajam pun dapat mundur,
menjadi tumpul atau  bahkan   menjadi buta. Namun pertumbuhan
hati nurani juga   ditentukan   oleh usaha  masing-masing pribadi".

Tidak hanya itu,    K. Bertens   (1997: 64-66),   dalam     bukunya: 
"ETIKA", menulis bahwa:  "Hati    nurani harus dididik, seperti juga 
akal budi manusia membutuhkan pendidikan. Tapi pendidikan akal 
budi lebih gampang untuk dijalankan. Pendidikan hati   nurani--ber-
sama   dengan   seluruh   pendidikan    moral--jauh lebih kompleks 
sifatnya. TEMPAT YANG [PALING] SERASI UNTUK PENDIDIKAN 
MORAL ADALAH    KELUARGA,   BUKAN SEKOLAH. Jadi, kalau 
secara   teoritis    pendidikan   hati   nurani lebih sulit daripada pen-
didikan akal budi, pada      taraf    praktis   itu   kurang terasa, asal 
saja keluarga diliputi iklim    moral yang   serasi   dan   menunjang. 
Pendidikan hati    nurani   tidak  membutuhkan pendidikan   formal,
malah  lebih baik berlangsung  dalam rangka   pendidikan informal,
yaitu    keluarga. Sedangkan    pendidikan     akal   budi sulit untuk
dijalankan   di luar    rangka pendidikan formal".

Selanjutnya, saya mencoba menanggapi kedua tulisan dibawah ini,
demikian:

Date sent:              Thu, 13 Jan 2000 00:14:30 +1100 (EST)
From:                   [EMAIL PROTECTED]
Subject:                Finally

> Bung Yusuf dan rekan-rekan
> 
> Terimakasih atas pencerahan dan penjelasan anda tentang per-
> tentangan pendapat dan   polemik  yang   akhir-akhir  ini terjadi 
> di Indoz-net.  Saya   setuju   bahwa   untuk   diskusi   yang me-
> nyangkut   urusan   agama   sebaiknya   dibawa   ke milis yang 
> memang di akomodasikan untuk   hal itu   seperti Isnet, Paroki-
> net, Hindu-net dsb.

[EMAIL PROTECTED]:
Bung [EMAIL PROTECTED], saya pribadi betul-betul senang, karena
ternyata PERJUANGAN   SAYA     SELAMA   INI   TIDAK DINILAI 
NEGATIF  OLEH  Bung [EMAIL PROTECTED] sehingga Bung "setuju
bahwa     untuk   diskusi   yang   menyangkut     urusan      agama 
sebaiknya  dibawa   ke milis yang memang di akomodasikan untuk 
hal itu   seperti Isnet, Paroki-net, Hindu-net dsb.".

Jelasnya, SAYA MENGAWALI PERJUANGAN SAYA   DENGAN
SUATU PIKIRAN YANG POSITIF SEHINGGA SAYA-PUN AKHIR-
NYA MENGHASILKAN   SUATU   PIKIRAN YANG POSITIF. Pen-
dapat saya didasarkan kepada pendapat Dale E. Galloway dalam
bukunya: "Twelve Ways   To Develop   A  Positive Attitute" (1993),
menyimpulkan bahwa: "...APA PUN YANG TERJADI PADA ANDA,
PILIHLAH PIKIRAN-PIKIRAN YANG POSITIF. DAN CEPAT ATAU
LAMBAT, ANDA AKAN  MENJADI   SEORANG PEMENANG. SE-
BALIKNYA, JIKA ANDA MENGALAH   PADA   PIKIRAN-PIKIRAN
YANG NEGATIF DAN MEMBIARKAN   PIKIRAN-PIKIRAN ITU ME-
RASUKI PIKIRAN ANDA,   MAKA   TERTUTUPLAH JALAN  BAGI
ANDA UNTUK MENJADI SEORANG PEMENANG". 

[EMAIL PROTECTED]:
> Saya   percaya  bahwa anggota milis ini tentunya adalah para 
> professional   dan orang-orang  yang mempunyai pengetahuan 
> luas  dan kerangka  berpikir  logis. Dengan demikian kita akan 
> tahu bahwa DEBAT AGAMA di  forum ilmiah seperti Indoz-net 
> akan berakhir dengan DEBAT KUSIR.
>
> Oleh  karena  itu  saya juga setuju dan mengusulkan  kalau disini 
> lebih  baik diisi dengan    forum  yang  berguna   bagi  professional 
> dan pelajar Indonesia di dalam dan di luar negeri. Seperti informasi 
> tentang lomba  penulisan   ilmiah,  mencari  tempat kost yang baik 
> selama belajar di luar negeri, dsb.

> Dengan demikian kalau boleh saya simpulkan, apabila masih ada 
> saja orang yang ingin memperkeruh suasana diskusi ilmiah  disini 
> dengan hal-hal yang berbau agama   dan berpotensi  menimbulkan 
> debat yang tidak sehat, tentunya   kita   akan tahu KUALITAS dan   
> MENTAL  orang seperti itu.
>
> Lebih baik TIDAK DI TANGGAPI dan TIDAK DI JAWAB.
> 
> Bagaimana ?
 
> Salam sejahtera.
 
[EMAIL PROTECTED]:
Bung   [EMAIL PROTECTED]   yang baik,   saya  pada  dasarnya 
SANGAT SETUJU dengan  pendapat Bung [EMAIL PROTECTED]  
Tetapi   perkenankanlah   saya untuk MENANGGAPI atau MEN-
JAWAB   tulisan dari Bung Nasrullah   Idris    dibawah  ini meng-
aku   ber-AGAMA   ISLAM    TETAPI    MENGANGGAP  SAYA 
SEBAGAI IKAN DAN BUKANNYA  SEBAGAI MANUSIA:
 
Date sent:       Thu, 13 Jan 2000 02:24:02 +1100 (EST)
From:             "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:       Re: Finally

> Dengan demikian kita akan tahu bahwa DEBAT AGAMA di forum
> ilmiah seperti Indoz-net akan berakhir dengan DEBAT KUSIR.
> ===========

[EMAIL PROTECTED]:
> Saya nggak merasakan adanya debat kusir. Kenapa? Soalnya
> bagi saya, setiap komentar   itu   mempunyai   nilai   keilmuan 
> tersendiri. Kalau keilmuan  itu   sendiri  saya ibaratkan dengan
> "duit", berapa banyak "duit" yang telah saya hasilkan.

[EMAIL PROTECTED]:
Bung Nasrullah Idris, kalau seandainya Bung masih punya yang
namanya "HATI NURANI", maka Bung akan  merasakan seperti
yang   selama   ini    telah   dirasakan   oleh     saya   dan Bung 
[EMAIL PROTECTED]   serta   mungkin banyak anggota Indoz-net
bahwa: Dengan demikian kita akan tahu bahwa DEBAT AGAMA 
di forum ilmiah seperti Indoz-net   akan  berakhir dengan DEBAT 
KUSIR".

Jelasnya,   HATI NURANI    berkaitan   erat   dengan  kenyataan 
bahwa manusia mempunyai KESADARAN. Charles Durham da-
lam bukunya: "Temptation"  (1982) menyimpulkan bahwa: HATI
NURANI ADALAH INDERA  MANUSIA YANG MEMPERINGAT-
KAN   TENTANG   PELANGGARAN   YANG  DIKETAHUI TER-
LEBIH DAHULU, ATAU YANG MENIMBULKAN PENYESALAN
YANG DALAM KETIKA SESEORANG  MELANGGAR SISTEM
BENAR DAN SALAHNYA".

Lebih jelasnya lagi, Dalam kedua kamus baku bahasa  Indonesia,
(1) "Kamus Besar   Bahasa Indonesia"  (Departemen  Pendidikan
dan Kebudayaan, 1996: 344) dan (2) Kamus  Umum Bahasa Indo-
nesia (W.J.S. Poerwadarminta,   1996: 350),   sama-sama mende-
fenisikan HATI NURANI atau KATA HATI sebagai: (a) "HATI YANG
TELAH MENDAPAT CAHAYA ATAU TERANG DARI TUHAN; dan
(b) "PERASAAN  HATI   YANG   MURNI   DAN YANG SEDALAM-
DALAMNYA".

Oleh karena itu, APALAH ARTINYA   HIDUP   INI   KALAU BUNG
NASRULLAH   IDRIS   BETUL-BETUL TELAH   MENGHASILKAN   
BANYAK   "DUIT"   DI INDOZ-NET, TETAPI HATI NURANI  BUNG 
NASRULLAH IDRIS TIDAK MENDAPAT CAHAYA DARI TUHAN.

[EMAIL PROTECTED]:
> Indoz-Net ini kan ibarat kolam yang terdiri dari banyak species
> ikan. Posting   saya   ibarat pancing. Dari pancing itulah, saya
> mengharapkan banyaknya ikan yang saya peroleh.

[EMAIL PROTECTED]:
  Bung    Nasrullah Idris, sekali lagi saya ulangi bahwa kalau Bung 
  masih  punya   yang   namanya "HATI NURANI", maka Bung dan
  saya   serta   banyak teman kita di Indoz-net akan setuju dengan
  pendapat   Bung   [EMAIL PROTECTED]    bahwa mari kita jadikan
  Indoz-net sebagai suatu "forum  yang  berguna  bagi professional
  dan pelajar Indonesia di  dalam dan di luar negeri". 
 
  Jelasnya, KALAU BUNG NASRULLAH IDRIS SEORANG SARJA-
  NA YANG MASIH PUNYA HATI NURANI YANG   BAIK SEKALI-
  GUS TAHU MENG-"INTROSPEKSI DIRI",   MAKA BUNG TENTU 
  AKAN   SETUJU   DENGAN    KEBANYAKAN   KAMI SEBAGAI
  PELAJAR YANG INGIN AGAR   INDOZ-NET  DIJADIKAN  "forum 
  yang    berguna    bagi   professional   dan  pelajar   Indonesia  di 
  dalam dan di luar negeri". 
 
[EMAIL PROTECTED]:
> Hanya yang saya sayangkan, kenapa hanya ikan species "Yusuf
> Henuk" yang sering   saya  peroleh. Malah ukurannya gede-gede
> pula. Species   lain   sih   ada   juga. Hanya   seukuran ikan teri. 
> Pokoknya tidak segemuk ikan "Yusuf Henuk".

[EMAIL PROTECTED]:
  Bung   Nasrullah   Idris yang baik, selama ini saya tidak  meng-
  anggap anda seperti   yang anda anggap terhadap  saya dalam  
  tulisan  anda   yang  terbaca  dengan jelas  diatas. Kalau Bung
  Nasrullah Idris betul-betul  beragama ISLAM yang baik, anggap
  saya sebagai MANUSIA dan jangan  anggap     saya    sebagai
  IKAN, kecuali kalau memang DALAM AJARAN   ISLAM MENG-
  HARUSKAN   BUNG   NASRULLAH     IDRIS    BOLEH MENG-
  ANGGAP  SAYA SEBAGAI IKAN DAN BUKANNYA MANUSIA.

[EMAIL PROTECTED]:
> Saya tunggu ya sayang !

[EMAIL PROTECTED]:
  Saya juga    tunggu     tanggapan   yang    baik    dari  Bung    
  Nasrullah      Idris     sebagai    seorang   penganut AGAMA
  ISLAM   YANG    BAIK, Ter-PELAJAR DAN  MASIH PUNYA
  HATI NURANI!

Salam,

Yusuf L. Henuk

Kirim email ke