Hehehe, Sebenarnya sejak kemarin saya sudah siapkan tanggapan atas respon tulisan saya. Namun, dari saran Bapak-bapak yang saya cek hingga sebelum Jumatan tadi, saya memilih menahan diri untuk menanggapi respon atas tulisan saya. Namun, sebelum semua melenceng, baiknya saya kirimkan saja dengan seluruh niat baik.
Terimakasih, beberapa respon atas tulisan saya tempo hari begitu membantu saya dalam menterjemahkan lamunan kemarin. Dari penjelasan yang diberikan, menyiratkan ternyata memang ada persoalan di warga tentang apa sebenarnya konsep dari rumah Tuhan. Saya justeru akan bergembira, jika respon yang ada menunjukkan sebuah semangat tentang penterjemahan konsep itu. Harusnya, semangat mengeksplorasi pemikiran warga itu kita mulai sejak dulu. Tak apa, lebih baik terlambat dari pada hanya bisa menafikannya. Akan sangat tidak produktif jika kita justeru berdebat tentang siapa salah dan siapa benar, apalagi tentang siapa yang lebih benar. Sungguh, saya tidak ingin menangkap salah dan benar semata. Tapi dari beberapa respon yang diposting, demikian jelas dan gamblangnya persoalan kita. Kita setuju untuk menaruh harap agar dikemudian hari persoalan itu menjadi jernih kembali. Lalu, apakah kegundahan saya terobati? Maaf, malah kian menjadi. Tapi, apalah saya ini? Saya hanya ingin menjadi bagian dari kerja bersama masyarakat, berpikir bersama. Itulah praksis. Saya bukan pejuang, hanya ingin berniat berpikir, syukur bisa bekerja dan bermanfaat bagi orang banyak. Agama yang saya yakini demikian agung, Tuhan yang saya percayai demikian berkuasa. Maka benar adanya Gus Dur, Dia tidak perlu dibela, tak perlu diperjuangkan. Kita hanya perlu bekerja, dan itulah ibadah kita semua. Karena Dia yang maha benar. Yang justeru ingin saya bela malah pada bait terakhir dalam tulisan saya itu. Kebodohan kita, kemiskinan kita, keterjajahan kita dalam arti yang luas. Saya Bintoro warga Gaperi II blok ED 15, saya bukan malaikat, yang secara sahih bisa menjatuhkan palu godam hukuman; A benar dan B salah atas pembenaran Tuhan. Saya hanya ingin berharap, kita dapat demikian santai namun bersungguh-sungguh mencari apa yang dinamakan dengan harapan bersama, termasuk dalam menjalankan ibadah. Dari itulah diperlukan satu organisasi untuk mengelolanya. Mungkinkah selama ini kita terlalu tegang dalam menyalurkan semua harapan? Bisa jadi. Atau, mungkin kita semua juga bersalah dalam menyalurkan energi yang berlebih dalam bermasyarakat dan beragama. Sehingga lupa mengukur sekaligus menentukan skala prioritas keinginan, harapan dan konsepsi kebahagiaan secara berjamaah pula. Mungkin ada yang merasa berhak menjelaskan, saya hargai dan saya menerimanya dengan segenap kelapangan hati. Bila ada kesempatan, ingin pula saya ikut secara intens dalam kerja bersama, bermimpi bersama itu. Namun, benar juga, manajemen yang baik adalah bagaimana mendelegasikan wewenang bukan? Jujur, ada kecurigaan saya, mengutip yang telah dijelaskan, mungkinkah kawan-kawan yang mundur itu justeru karena tidak sanggup menjawab banyak pertanyaan, yang sekaligus mencerminkan pencarian warga kita tentang konsep rumah Tuhan, rumah semua umat itu? Jika demikian adanya, kengerian saya atas cerpen, fiksi dua tulisan yang kemarin saya ungkap itu akan lebih berkerak mengendap di dasar relung hati saya. Kita tak tahu beda kesalehan ritualdan kesalehan sosial yang diungkap Navis lewat tokoh Kakek, marbot dan pengelola surau itu. Kita hanya mau masuk surga sendiri kah? Kita tidak memahami penggambaran Cak Nun tentang haji racun, haji minus kesalehan sosial. Kita tidak paham, bahwa kesalehan komunitas dapat menjadi solusi problematika sosial. Saya ingin menangis siang ini. Saya terjemahkan, ini semua adalah semata urusan sosial, karena Tuhan ternyata tidak perlu hadiah seperti yang selama ini kita kira. Sementara urusan hubungan kita denganNya, biarlah diterjemahkan sebagaimana hubungan hamba dengan Khalik. Hubungan yang paling pribadi, transenden dengan Penciptanya. Terlalu berlebihan untuk mencampuradukan. Benar bahwa transparansi bergantung pada perspektifnya. Cara pandangnya. Tentu juga penjelasan itu menyangkut visi, apa yang sehari-hari dipikirkan orang --warga kita, tentang obyek pikirannya. Jika banyak pertanyaan dari warga seperti yang dijelaskan Pak Lana, bukankah memang ada hal yang memang kurang dapat dipahami oleh banyak orang --bila tak ingin dibilang tidak transparan? Apa arti email Pak Heru, yang mendapati surat undangan setelah Arroyyan rata? Tentu, kita setuju, sebuah transparansi bukan hanya sekedar menjelaskan nominal, tapi juga ide, rasa kebersamaan yang nota bene menjadi tiang utama rumah Tuhan. Kesadaran bersama itulah yang harus terus kita bangkitkan dan kita pupuk dalam pencapaian harap. Berapapun yang kita sebutkan, tentu lagi-lagi bergantung pada perspektif, cara pandang masing-masing pihak. Seperti tauhid itu sendiri, 0 (nol) tidak berarti apapun tanpa satu 1 (satu). Ia dapat menjadi tak terhingga, hanya karena 1. Seperti yang pernah diutarakan panjang lebar Sayyiddina Ali dalam Nahjul Balaghah. Saya pikir semua orang pada akhirnya hampir tidak punya masalah dengan nominal, karena memang menjawab kebutuhan yang hakiki dan kejujuran kesanggupan. Bukankah Muhammad penuh daya pikat karena kesahajaannya itu? Jujurkah kita, benarkah kita butuh tentang suatu harapan? Benarkah apa yang kita bayangkan adalah konsepsi kebahagiaan kita bersama? Nominal adalah akibat, sementara harapan bersama ada buah dari pimikiran bersama, itulah kerja praksis. Bagian dari kesalehan sosial sekaligus ritual yang bisa diabdikan dengan sangat-sangat mudah. Seperti apa kebutuhan kita yang hakiki, bagaimana mencarinya, adalah proses dari sebuah kerja besar kita semua. Maaf, itulah ibadah sesungguhnya yang dapat dilakukan dengan mudah dan betapa bodohnya, seringkali kita remehkan. Tempo hari Pak Jaerony melempar tulisan manajemen berjudul bergerak. Disana dituangkan bagaimana gerakan sesungguhnya berlangsung dan dilakukan bersama. Seni manajemen sesungguhnya adalah bagaimana menaruh empati, menarik simpati agar pekerjaan bersama bisa berlangsung secara spartan. Begitulah, kerja keras semua pihak tanpa kenal lelah membumikan kebenaran, akan melahirkan masyarakat madani yang cinta dan mengagungkan kebenaran. Bukan melahirkan segelintir pejuang yang bingung dengan apa yang diperjuangkan. Dari lamunan dan kegundahan itu, sesungguhnya saya tidak ingin ada tanggapan yang terlalu reaktif, saya juga tidak berharap ada penjelasan yang secara khusus dan juga terlalu serius dan sinis pada Arroyyan kini. potret Arroyyan kini adalah potret kita semua. Sikap reaksioner adalah cermin dari langkah yang kalah. Bukan, bukan respon partial, kecuali respon yang lebih komprehensif dari wacana tentang konsep rumah Tuhan yang kini tengah kita cari. Tulisan itu, buat saya, baguspun tidak, karena hanya merangkai dari yang pernah saya baca dan saya alami. Saya rekam, lalu sesuai saran Bapak-Bapak yang lain, saya share sebagai bagian dari pembelajaran kita semua. Dalam hati kecil, saya percaya proses ini berjalan sesuai jalurnya yang benar. Intrik sangat tidak sehat. Yang saya pahami, intrik adalah bagian dari praktek politik kotor, seperti setan membisikkan ranjang padahal jurang. Dan saya tidak ingin melihat masyarakat kita telah meneladani pegiat parpol dengan praktek-praktek politik puritan macam itu. Terlepas dari siapapun yang memulai, respon atas tulisan saya menyiratkan intrik tengah berlangsung di tengah kita. Tentu kita bersepakat, hal ini sangat tidak bermanfaat dan merusak tatanan sosial masyarakat kita bukan? Jika demikian adanya, kita harus berani memulai untuk segera menyudahinya, dengan segenap kebesaran hati untuk mencapai apa yang kita kenal sebagai kemaslahatan itu. Saya ingin kita semua bergandeng tangan, saling rangkul, siapapun dia, dan tak peduli siapapun yang memulai. Islam di kita adalah mayoritas, dan menjadi mayoritas jauh lebih sulit ketimbang menjadi minoritas. Mari kita kembangkan pendekatan kultural yang penuh penghormatan kepada semua saudara di kampung kita, siapapun dia dengan tidak saling mengecilkan. Tidak ada perbedaan sikap antara jamaah dan warga jika maknanya hanya kata. Warga adalah jamaah, jamaah adalah warga. Kita tahu, ada struktur formal yang memang berwenang mengurusi urusan sosial kemasyarakatan. RW atau RT, mereka lebih tahu dan mengenal warganya. Mereka adalah pemimpin dan imam kita juga bukan? Ajak mereka sejak awal sebagai representatif partisipasi dan keterlibatan semua pihak, bukan hanya menjadi tempat sampah ketika memang ada kebutuhan membuang limbah. Kenapa demikian, karena kita semua tidak ingin menyesal dengan akibat saling mengecilkan. Kita tidak ingin memonopoli kebenaran bukan? Saya ingin ulangi, maaf, seperti apa kebutuhan kita yang hakiki, bagaimana mencarinya, adalah proses dari sebuah kerja besar kita semua. Sekali lagi, ibadah sesungguhnya yang dapat dilakukan dengan mudah secara berjamaah dan seringkali kita remehkan. Mari, kita nikmati kerja besar dari perjalanan sebuah proses menuju jenjang yang lebih baik itu. Apapun keadaannya Arroyyan sekarang, fisik maupun kondisi batin warga kita, saya percaya akan segera pulih. Dengan satu catatan, kita semua harus jujur dengan kesanggupan, kompetensi dan mengingat arti penting sebuah sejarah persaudaraan, itulah peradaban kecil kita, karena saya percaya, itu semua adalah tiang utama rumah Tuhan, rumah bagi semua umat. Saya percaya, bahkan tak seorangpun dari kita yang akan membiarkan Arroyan yang dulu ber-ruh, kini kehilangan makna apapun. Ia hidup, punya ruh yang bersahaja yang ditiupkan dari niat baik dan kecintaan seluruh pencintanya. Saya masih punya banyak keyakinan itu, karena saya nyaman bertinggal di lingkungan dengan warganya yang cerdas dan hatinya yang lapang. Anggap saja respon banyak orang seperti apa yang dituliskan adalah bentuk lain dari kecintaan kita semua terhadap rumah Tuhan. Rumah bagi semua umat, dimana segenap kecintaan dan ketulusan kita tumpahkan. Sekali lagi, saya percaya, kita semua menuju proses yang baik itu... Namun, jika mudharat yang lebih banyak diambil dari manfaat yang diharap pada sebuah pembelajaran ini, mohon dibukakan pintu maaf. Ala kulli haq. Tabik. Selamat siang. Bintoro ----- Original Message ---- From: Heru Hariyanto <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected]; lana sularto <[EMAIL PROTECTED]> Cc: bintoro wisnu prabowo <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, June 29, 2007 11:32:59 AM Subject: RE: [rw14-435] Balasan: [rw14-427] Lamunan Arroyyan,Bojong-Surabaya-Malang PP Ass.Wr.Wb, Mungkin Undangannya juga setelah Masjid Arroyan yanglama sudah dirobohkan dan tidak diajak rembugan sebelumnya, termasuk saya diundang untuk......setelah masjid Arroyan yang lama rata dengan tanah. Saya pribadi merasa kecewa dan treyuh kalo lewat dan melihat bangunan Arroyan yang lama ....dan saya teringat bagaimana susahpayahnya kita bangun Arroyan ....yah tinggal nostalgia aja... Maaf kalo ada yang tidak berkenan. Wass. Wr.Wb, Heru Hariyanto Asset Management Department PT. Mobile-8 Telecom Tbk Telp. 021-3925921, Fax : 021-3916041 HP: 08881853512 -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, June 29, 2007 8:58 AM To: [email protected]; lana sularto Cc: [email protected]; bintoro wisnu prabowo Subject: Re: [rw14-435] Balasan: [rw14-427] Lamunan Arroyyan,Bojong-Surabaya-Malang PP Ass.Wr. Wb Point 4 : Jika pak lana merasa kehilangan teman-teman yang merasa saat ini tidak aktif (Fakum) juga ada beberapa pengurus yang tidak hadir pada saat Rapat, Mohon dicek Apakah mereka diundang rapat...? atau undangannya yang tidak sampai....? Karena selama yang saya tahu dan saya lihat "Yang diundang itu Pagar Pintu Rumah Warga" (Becanda lho..) Undangannya selalu ditaruh ditempat itu, terhempas angin terbang masuk parit dsbnya, jadi mungkin yang bersangkutan tidak tahu jika diundang. Wassalam Eddy Suryadi > Assalamu'alaikum Wr.Wb. > Saya sungguh sangat terkesan dengan tulisan Bapak, seandainya saya > bisa menulis seperti ini dengan sudut pandang lain..... > Maaf karena saya gak bisa nulis yang begini, saya tulis semampu saya > saja ya pak pandangan saya: > Mengenai lamunan Bapak tentang arroyyan, saya kira Bapak perlu > berdiskusi tidak hanya dengan 1 pihak saja, tapi juga dengan pihak > lain seperti pengurus, panitia pembangunan dll, sehingga diperoleh > gambaran yang lengkap, mengapa saya tulis kurang lengkap, karena ada > beberapa point yang perlu saya klarifikasi sebagai pengurus: > 1. Informasi tentang gambar yang tidak transparan saya kira tidak, > karena sudah beberapa minggu ini gambar rencana masjid kami pasang > di masjid juga di situs www.arroyyan.com, sementara, informasi > jumlah sumbanganpun tertulis di depan masjid, bahkan sudah diedarkan > ke seluruh jamaah rincian pemasukan dan pengeluarannya, bahkan > ketua panitia pembangunanpun beberapa minggu ini berkeliling ke > RT-RT dalam acara arisan warga untuk sosialisasi. Makanya saya > heran kalo dibilang kurang transparan, mengingat arroyyan sejak > dulu berdiri selalu mengedepankan transparansi dalam hal apapun. > 2. Mengenai praktek politik kotor dan semua isyu negatif, saya bisa > yakinkan bahwa hal itu sama sekali tidak ada, demi Allah saya tahu > pribadi setiap panitia pembangunan, mereka benar-benar berjuang demi > agama Allah, tanpa ada motivasi lain yang katanya kotor, mereka > tidak digaji, tapi malah banyak mengeluarkan biaya dan tenaga untuk > terlaksananya pembangunan. Satu contoh yang bisa diaudit oleh > siapapun, adalah rincian biaya pembangunan sampai saat ini yang > hanya menelan biaya total kurang dari 60juta, padahal pak Harno yang > membuat masjid Istiqlal-pun dan sekarang masih aktif membangun > gedung, ketika ditanya berapa kira2 tebakan bapak biaya total sampai > sekarang, beliau mengatakan sekitar 100 juta! > 3. Di Arroyyan kita sepakat tidak boleh ada urusan politik apapun, > dan alhamdulillah kita masih konsisten sampai saat ini, apalagi > politik untuk kepentingan pribadi, sama sekali tidak ada (minimal > bagi panitia dan pengurus yang aktif), politik yang lebih besar > sekalipun juga tidak mungkin bisa masuk, karena kita selalu terbuka, > semua jamaah berhak bicara, bahkan kita meletakkan kekuasaan > tertinggi pada jamaah, pengurus hanya sekedar pembantu jamaah,tapi > tentu saja dengan cara yang "terhormat", yaitu hadir dalam undangan > yang kita sampaikan, dan menyampaikan di depan forum, bukan ngomong > di belakang yang sama sekali dirinya sebenarnya tidak tahu apa-apa. > 4. Jujur saja, saya juga mendengar beberapa cerita miring tentang > pembangunan Ar-Royyan, tapi beberapa hal terjadi karena memang > kekurangtahuan orang tersebut tentang beberapa hal seperti mengapa > masjid harus dihancurkan, lalu gimana larinya amal jika dihancurkan > dll, saya kira semua bisa dijelaskan jika orang tersebut mau > berdialog langsung kepada panitia, bukan menyebar berita negatif, > contoh saja, masjid dihancurkan karena memang strukturnya yang > sangat membahayakan jika dipertahankan, kita baru tahu setelah > dibongkar, ternyata memang sangat rentan, sehingga suatu saat sangat > mungkin masjid rubuh ketika terjadi hujan lebat dan jamaah sedang > sholat, tapi hal itu baru ketahuan, niat awalnya memang karena > kondisi masjid yang sudah sempit dan tidak sanggup lagi menampung > jamaah yang sekarang ini melonjak, silakan lihat di www.arroyyan.com > kondisi saat sholat jumat yang sudah meluber tidak karuan, masak > kita biarkan aja? lalu mengenai amal sumbangan masjid lama, saya kira > Allah tidak akan berhitung secara matematis, yang penting niat dan > keikhlasan jamaah dalam menyumbang, namun untuk menjaganya, panitia > juga tidak membuang secuilpun bekas masjid lama, bahkan kayu,kusen > dan genteng yang lama masih akan digunakan lagi untuk masjid yang > baru, sedangkan material lain tetap akan digunakan. Nah disinilah > sebenarnya diuji keikhlasan jamaah yang pernah menyumbang dulu kala. > Tapi saya yakin, hal ini memang cobaan dan ujian bagi pengurus dan > panitia, semoga kami sanggup menahan beban yang berat ini. > Memang sudah ada pengurus/panitia yang tidak sanggup menahan beban > seberat saat ini, bahkan sekarang sudah terlihat siapa saja yang > tidak sanggup dan tidak pernah lagi aktif dalam rapat apapun, jujur > saya sangat sedih kehilangan sahabat2 pejuang agama Allah yang > sebenarnya sangat penting bagi kami, tapi apa yang bisa kami > lakukan? kami hanya bisa berdo'a semoga mereka kembali lagi ke > masjid dan berjuang bersama lagi, namun jika memang tidak bisa, > semoga pengganti-pengganti mereka yang saat ini juga sudah mulai > banyak, sanggup menggantikan posisi mereka, bahkan jika Bapak > bintoro berkenan, kami dengan sangat senang menerima Bapak atau > jamaah lainnya. Kami selalu terbuka pak. > Terimakasih > Wassalamu'alaikum Wr.Wb. > Lana's > > bintoro wisnu prabowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Rumah Tuhan > Lamunan Arroyyan, Bojong-Surabaya-Malang PP > > Surabaya. Sendiri. Malam ini saya terprovokasi tulisan Cak Nun ?saya > terbiasa memanggilnya demikian sejak 1992 ketika kali pertama saya > berjumpa dengan Emha Ainun Nadjib di tabloid Detik, yang dikirim Pak > Yahya untuk menulis pengalaman bulan-bulan terakhir, ketika saban > minggu pulang ke Bojong. Thx to Pak Yahya, blog Anda begitu > inspiratif. > Dalam hati, siapapun yang diberi kesempatan pergi berhaji, hendaknya > mampu menjadikan hamparan puing di bekas Arroyyan tak lagi > mengganggu mata dan hati saya. > Apa kaitan gerangan Arroyyan dan perjalanan berhaji. Simak ungkapan > seorang sufi, ?pada perjalanan haji yang pertama, saya hanya melihat > rumah Tuhan. Pada saat yang kedua, saya melihat rumah Tuhan dan > pemiliknya. Dan pada saat yang ketiga, saya hanya melihat Tuhan > saja? Begitu ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy. > Hadits qudsy yang cukup terkenal berbunyi; Sesungguhnya rumah-Ku di > muka bumi adalah Masjid-masjid. Menekankan kepada kita akan > pentingya keberadaan dan fungsi masjid-masjid, sebagai rumah Tuhan > di alam dunia. > Saya bertanya dalam hati, seperti apa sebenarnya konsep kita tentang > rumah Tuhan ini. Entah mengapa, sepulang ngopi dirumah tetangga, > saya teringat judul cerpen yang begitu berani. Robohnya Surau Kami, > karangan almarhum Ali Akbar Navis yang saya baca ketika awal SMP, > dan kini terbit lagi dalam bentuk antologi, oleh Gramedia Pustaka. > Saya terhenyak, Navis bukan hanya piawai dalam penyampaian yang > mengharukan. Kisah ini menampar saya tentang perlunya menjaga > kelestarian rumah Tuhan melalui acara sosial keagamaan yang > bermanfaat serta mampu memancarkan optimisme hidup bagi orang banyak. > Melalui tokohnya, seorang pembual bernama Arjo Sidi?Navis mengajak > saya memelihara bangunan rumah Tuhan dari segala potensi bahaya yang > mampu merobohkannya. Termasuk di dalamnya kekeroposan pilar > keagamaan --iman dan akidah serta kejumudan beragama para pengelola > dan jamaaahnya. > Tidak. Arroyyan tidak sama dengan surau yang digambarkan Navis. > Warga di komplek ini tidak sama dan sebangun seperti yang ia > gambarkan di desanya, tanah Minang sana. Di Bojong, setahu saya, > tidak ada pembual seperti Arjo Sidi. > Tapi, dalam cerpen itu Navis sepertinya ingin menandaskan, di saat > masjid, musholla, surau, langgar telah dimonopoli oleh tangan > segelintir pengelolanya, maka saat itulah hak milik bangunan sebagai > rumah bersama, dirampas dari kepemilikan sosial masyarakat secara > kolektif. Tidak. Arroyyan tidak akan mungkin demikian. > Istri saya menegur. ?Kamu saja jarang menyambangi Arroyyan, sok > khawatir. Demikian curiganya kamu. Begitu negatifnya otakmu.? > Tidak. Arroyyan tak mungkin demikian. Tapi, entah kenapa selesai > membaca, saya teringat seorang Wiji, marbot Arroyyan yang orang > Tingkir itu. Bukan, Wiji bukan marbot seperti kakek yang digambarkan > Navis. Saya banyak tahu Wiji ketika menemaninya mengerjakan bale RT. > Malam, minggu berikutnya saya membuka lembar jurnal Ulumul Qur?an, > edisi III, 1995. Di halamannya terdapat tulisan Ikun Eska, Sebuah > Rumah Buat Tuhan. Saya berharap, saya mendapat jawab, tentang arti > sejati dari rumah Tuhan. > Ikun bercerita dengan memikat, bagaimana sebuah masjid di desa Jarot > --tokoh cerpen yang berkeinginan mengembalikan fungsi masjid, dalam > kenyataan keseharian hanya berguna sebagai tempat ritual yang > bersifat seremonial belaka. Pak Kamituwa --wakil dari otoritas > penguasa, telah mengunci mati masjid indah itu, dan menjauhkannya > dari kebutuhan publik yang tak lain adalah tiang utama dari > pembangunan rumah Tuhan tersebut. > Sehingga, kala suatu ketika desa itu dilanda hujan badai, masjid itu > tetap tak mampu menjadi penampung yang baik. Masjid Jarot tak dapat > menolong warga dari deraan musibah. Banyak korban bergelimpangan di > di luar masjid. Dan, di tangan Pak Kamituwa ?yang juga simbol dari > ortodoksi pemikiran, sebuah masjid yang begitu megah telah menjadi > hadiah bagi Tuhan. Hehe, Dzat yang sama sekali tak membutuhkannya. > Apalagi hal itu sampai mengorbankan warga --jamaah masjid, sebagai > tumbal dari ritual yang tidak pada tempatnya. > Alamak. Bojong tidak ada angin ribut. Atau semoga angin ribut tidak > datang ketika Arroyyan belum berdiri megah seperti gambarnya itu. > Entah siapa pula yang berimajinasi demikian tinggi, gambarnyapun > begitu sulit diakses publik. Eh, boro-boro gambarnya, transparansi > pembangunannya pun kini banyak digugat. Konon, intrik juga sempat > melanda. Benarkah praktek politik kotor sudah meracuni warga? Cermin > dari rusaknya struktur sosial? Tidak, saya menghibur diri. > Di komplek perumahan Gaperi yang jalannya hancur dan warganya tak > bernyali menagih developer itu, kami siap bahu membahu menolong > sesama. Tidak, tak ada pula tokoh macam Pak Kamituwa seperti Ikun > lukiskan. Yang ada Pak Eman yang sekampung dengan Cak Nun dan doyan > gaple itu. > Esok paginya, saya mendapati bapak. Ayah saya yang stroke dan kini > memilih meninggali rumah samping Pak Saerang. Di bale bambu Bapak > menggenggam buku. Tak berani saya mengganggu. Ketika berhaji 1997, > tendanya ikut terbakar. > Pak, seperti apa konsep rumah Tuhan itu? > Dia tersenyum, seperti mampu membaca pikiran saya. Ia mengutip Buya > Hamka, ?rumah Tuhan mesti bisa berfungsi sebagai tempat introspeksi > dimana semua orang nyaman bertafakkur dan memohon kepada Tuhan untuk > menganugerahkan kesabaran dan keteguhan dalam mengarungi kehidupan.? > Sederhana. Bapak juga mengutip kutipan yang lebih lugas dari Najib > Mahmud dalam buku Ru?yah Islamiyah, ?masjid yang sejati terbangun > dalam nurani,? katanya dengan lafal lidah tpikal penderita stroke, > pelo dan cadel. Hiyaa! > Saya bertambah kalut. Bagaimana mungkin Arroyyan, masjid yang jarang > saya sambangi itu mampu mengusik saya. Bangunan Arroyyan dengan > bilik bambu medio 1997 sekelebat terlintas memenuhi isi kepala yang > makin hari makin tipis berambut. Saya tahu, kenapa Arroyyan bambu > lebih lama tinggal di memori. Pak Zainal, Pak Budi Wibowo dan Pak > Hendro pernah menyenggol, ?dulu semua orang butuh, semangat > kebersamaannya ketika itu luar biasa pak.? Aha, kiranya semangat > kebersamaan itulah yang mampu memberi ruh Arroyyan bambu? Hiyaa! > Masjid yang sejati terbangun dalam nurani. > Kembali ke rumah. Entah mengapa saya teringat Gus Mus di Rembang. > Dua minggu sebelum Soeharto jatuh, saya sempat berdiskusi mengenai > maraknya masjid dibangun di sepanjang daerah miskin pantura Jawa. > Saya hanya ingin tahu, bagaimana mungkin orang giat membangun masjid > megah sementara sekelilingnya warga kesulitan mencari makan. > Ia menerangkan tentang pasokan dana dan sebagainya. Tapi yang > menampar saya ketika itu, KH. Mustofa Bisri ?nama lengkap Gus Mus, > juga mengungkapkan keresahannya. Bahwa menjamurnya masjid dengan > bentuk fisik yang serba megah di mana-mana, pada derajat tertentu, > malah kian mengasingkan para jamaah untuk masuk ke dalamnya. "Masjid > menjadi semakin tertutup, begitu pula para pengelolanya, eksklusif > menikmati singgasananya". > Di balik kemegahannya, bayangan biaya pembangunan dan anggaran > perawatan membuat khalayak sering dihinggapi semacam rasa sungkan, > malu dan rendah diri untuk berlama-lama di dalamnya. ?Makanya, wajar > bila Nabi dalam sebuah haditsnya pernah menggambarkan bahwa salah > satu tanda-tanda kiamat adalah gejala saling bermegah-megahan dalam > membangun masjid,? kata Gus Mus suatu malam. > Satu sisi Gus Mus benar. Tapi Arroyyan bukan hanya membangun masjid. > TPA dibawah bendera lembaga pendidikan dan koperasi dibawah bendera > lembaga usaha katanya juga akan diakomodasi dalam bangunan itu. > Jadi wajar saja membangun dengan menyedot ratusan juta. Tapi, > secara imajiner, senyum Gus Mus malam ini seperti meledek. > Seorang kawan se komplek perumahan menyenggol lewat Yahoo! Messenger > beberapa hari yang lalu. Kita tuh banci Pak. Kok gak fokus? Mau > bangun apa sebenarnya kita ini? Seharusnya kita malu dengan Assalam > di kampung depan itu. Struktur organisasi mereka simply, santai aja > tuh mereka beragamanya. > Tetangga lain nimbrung. Pak, kenapa ya kita tidak serahkan sesuatu > hal kepada ahlinya, kok kita malu mengakui kompetensi orang? > Bukankah pendelegasian yang baik adalah kunci sukses seorang > pemimpin? Saya buru-buru sign out, ingin segera pulang membungkam > mulut mereka. Jikapun tidak, ingin rasanya menghajar pantat mereka > untuk lebih berani mengutarakannya kepada yang berwenang. Ampun. > Cak Nun, jika saja mampu berhaji, saya bukan haji racun seperti yang > sampean maklumkan. Ah, kenapa saya takabur begini rupa. Insya Allah > tidak Cak. Minimal, saya punya modal, selalu membelikan kerabat > maupun kenalan buku Menjadi Manusia Haji karangan Dr. Ali Syari?ati > setiap kali mereka hendak berhaji. Saya ingat betul tentang telaah > sosial dan filosofis yang ia gambarkan dalam ritual kolosal umat > Islam tiap tahunnya. Rumah Tuhan adalah rumah umat manusia. > Farah Amini, karib sejawat di kantor, orang terakhir yang saya beri. > Dia berumroh dua minggu lalu. Semalam dia menelpon dari kantor > barunya di Menara Kadin, Kuningan. Berdiskusi dan melaporkan > perjalanannya. "Minimal kini saya tahu Mas, kenapa Ka'bah tidak > dibongkar!" Sebelumnya Pak Zainal, kawan saya ngopi di rumah dengan > harapan agar ia segera berangkat. > Saya teringat ketika ayah berhaji, beberapa bulan sebelum saya > menikah, saya menangis sejadinya karena buku itu. Berhaji berarti > bersiap mati, sehingga setelah berhaji orang seperti dilahirkan > kembali. > Ali Syari?ati dan sanak kerabat ?NU atau Muhammadiyah atau apapun > mazhabnya yang pernah berhaji bersepakat memberi kesaksian, drama > monumental Haji adalah momentum yang pas dan kontekstual untuk > menggugat kembali kesadaran manusia dalam pergaulannya dengan rumah > Tuhan. > Pada hakekatnya, haji merupakan perjalanan ritual yang sepenuhnya > tak bisa lepas dari nuansa kemanusiaan. Selain perjumpaan dengan > pengalaman spiritual yang mengesankan, di dalamnya juga dipenuhi > beragam ujian berupa rajukan setan yang selalu berusaha > menggelincirkan setiap pelakunya. Haji adalah serangkaian perisitiwa > dengan aneka makna. Ia bisa berupa sekadar kejadian biasa dalam > dimensi yang sarat dengan hasrat dan denyut nadi kemanusiaan, juga > bisa berwujud sederetan tragedi yang konyol, memukau, haru biru, > kelabu dan bahkan lucu. > Pada titik ini, Alm. Navis dan Ikun, juga pengalaman kita semua di > kampung halaman dan masa kecil, dapat memberikan sumbangan yang > berarti bagi dinamika dan penyadaran hidup keagamaan. > Sekali lagi Cak, jika saja saya berhaji, saya ingin menjadi bagian > dari gempita kepasrahan kolosal yang membahana itu. Saya tahu, > sebagai pelaku, saya terlibat untuk menyaksikan secara langsung > napak tilas sejarah beserta situs peradaban yang bernilai religi itu. > Sebab, kata Ali Syari?ati, keberadaan Ka?bah atau Baitullah tak > dapat disangkal merupakan simbol yang memiliki daya pikat paling > kuat dibandingkan simbol-simbol yang lain. Selain sebagai kiblat > shalat, Ka?bah merupakan lambang dari kekuatan tauhid ? monoteisme, > yang obornya dinyalakan oleh Ibrahim. Ia tidak hanya cukup didekati > dengan cara berkeliling di sekitarnya. Lebih dari itu ia membutuhkan > simpul tali keagamaan yang kuat dalam upayanya untuk mengakrabkan > hubungan hamba dengan penciptanya. Bukan begitu Cak? Taraf kedekatan > semacam inilah yang diidealkan pencapaiannya oleh para pelaku haji, > sebagaimana telah dirasakan melalui ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy > diatas. > Seketika saya ingin mengadu kegundahan kepada Suami Novia Kolopoking > ini ?kawan SMA adik saya. Tapi dia kini tengah sibuk mengadvokasi > saudara-saudara korban Lapindo. Sekalipun sama-sama di Surabaya, > saya begitu sulit menemuinya. > Saya tumpahkan kegundahan saya kepada Pak Arief Lukman Hakiem. Kawan > sekantor yang berasal dari Madura. Jago masalah tanah dan > pertanian, dan sempat beberapa tahun berguru di Jerman. Dua jam > lebih kegundahan ini dan silang sengkarut pikiran tentang Arroyyan, > Bojong, Navis dan Ikun saya pindahkan ke kepalanya. > ?Mas tahu, apa yang dilakukan ketika Nabi pertama kali menginjakkan > kaki di Yatsrib, sekarang Madinah?? tanyanya. Dengan gaya maduranya, > dia menjawab sendiri. Pertama, sebelum Nabi Muhammad menginjakkan > kakinya di Madinah, maka Beliau membangun masjid, yakni masjid Quba. > Kedua, tindakan mendasar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad --lelaki > yang sangat bersahaja itu-- adalah menemui dan melayani fakir miskin. > Lalu Pak Arif? > ?Dari dua pengalaman Rasulullah itu Mas, selama hidup seharusnya > kita menyinggahi dengan memberdayakan masjid yang fungsi utamanya > bukan sekadar tempat shalat. Tak perlu megah dan bermewah-mewah, > menjadikannya rumah buat semua umat. Dan, menyantuni fakir miskin, > anak yatim dan kaum tertindas. Keduanya adalah tempat seorang muslim > diuji kebenaran komitmennya dalam mengemban amanat Sang Khalik.? > Bapak asal Sampang --belum berhaji, beranak dua yang baru saja > pindah dari Surabaya ke Malang ini juga bercerita penuh semangat > dengan kutipan isi buku Dr. Ali Syari'ati dalam memotret suasana > kehadiran Rasulullah saat menginjak tanah Yatsrib. > ?Mas Bin, kenapa Tuhan mengijinkan Ibrahim menguburkan istrinya, > Siti Hajar yang mantan budak, berkulit hitam asal Ethiopia itu tepat > di sisi Ka?bah?? > Masih dengan gaya maduranya ia menjawab sendiri. Tuhan sangat setuju > dengan pembelaan terhadap orang-orang tertindas. Tuhan telah > menorehkan simbol tauhid dan pembebasan. Tanggapan terhadap tangisan > kaum tertindas adalah jawaban terhadap panggilan Allah. Mengabaikan > tangisan kaum tertindas sama dengan mengabaikan panggilan Allah. > Lalu Pak Arief, pada perjalanan ke berapa saya mampu menangkap > ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy? > "Tidak mungkin Mas Bin. Pertama, kita semua belum bebas, minimal > merdeka berpikir. Kedua, Anda hanya melakukan perjalanan > Bojong-Surabaya-Malang pulang pergi saban minggunya." > Dasar Pak Arief! > > Ala kulli haq, sampai ketemu, dimanapun. > > dengan segala permaafan, > Surabaya - Malang > June, 27, 2007 > > > > > > ____________________________________________________________________________ _______ > You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck > in the all-new Yahoo! Mail Beta. > http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html > > ----------------------------------------------------------------- > Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong. > Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org > > Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/ > > > > > --------------------------------- > Sekarang dengan penyimpanan 1GB > http://id.mail.yahoo.com/ ----------------------------------------------------------------- Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong. Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/ ----------------------------------------------------------------- Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong. Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/ ____________________________________________________________________________________ We won't tell. Get more on shows you hate to love (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list. http://tv.yahoo.com/collections/265 ----------------------------------------------------------------- Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong. Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
