Terima kasih Pak Bin, Pak Bin yang menginspirasi saya melakukan smash dan mengembalikan bola saat bulu tangkis. Pak Bin pula yang men-drive saya menulis refleksi itu. Semoga dalam pencarian ini, kita memperoleh yang terbaik, bermanfaat bagi lingkungan. Amin,
Wassalam, M.K.Roziqin ----- Original Message ---- From: bintoro wisnu prabowo <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, July 3, 2007 3:00:27 PM Subject: Re: [rw14-471] Sense of Belonging Wah, menulis dengan hati, selamat Pak. Dengan muatannya, saya hargai dan harus dihormati juga tulisan Pak Roziqin ini. Sebagai hak jawab, atau apapun. Sekali lagi, selamat Pak. Bukan hanya di bulutangkis, dalam menulispun Bapak ini belajar dengan sangat cepat. Suwun, salam, bintoro ----- Original Message ---- From: M.K. Roziqin <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, July 3, 2007 12:25:54 PM Subject: [rw14-471] Sense of Belonging Sense of belonging Sebenarnya tulisan ini lebih tepat sebagai reply atas postingan Pak Jojo Wahyudi di milis ini sebelumnya dengan judul Nostalgia yang tercinta. Hanya di sini judul tersebut saya ubah untuk menyesuaikan tema yang sedang ramai dibicarakan. Saya pun putuskan untuk mengirim tulisan ini sebagai bagian dari diskusi, dialog dan silaturahmi kita tentang Masa Depan Masjid. Sekalipun ditulis dengan gaya tulisan yang sederhana, jurnalistik amatiran, postingan Pak Jojo tersebut seolah menggugat nilai-nilai dasar yang selama ini kita anut dan yakini. Sedikit dilakukan hiperbolis terhadap kisah tersebut, seolah-olah bercerita tentang seorang anak yang sepanjang hidupnya tidak pernah mau menyambangi Bapaknya. Sekali-kalinya ia datang, saat Bapaknya meninggal dunia. Itu pun untuk menggugat warisan Bapaknya. Sekalipun ditulis dengan gaya jurnalistik amatiran, cerita dalam postingan Pak Jojo tersebut nampaknya disampaikan dengan tulus, penuh kejujuran, tidak diskriminatif dan jauh dari kesan intimidatif. Ia ingin menggugat sense of belonging sang anak atas Bapaknya. Benar dan tak seorang pun meragukan, anak tersebut darah daging Bapaknya. Ia terlahir dari cinta kasih atas Ibunya. Tentu saja sah , tak terbantahkan klaim anak atas Bapaknya. Secara legal di akta kelahiran, secara informal dalam struktur kemasyarakatan, anak tersebut anak sah yang terlahir dari semburan semen Bapaknya. Namun apakah layak sang anak menggugat warisan di saat Bapaknya belum sebulan disemayamkan. Bukankah sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengunjungi Bapaknya. Ia bahkan tidak pernah galau apakah Bapaknya sehat atau sakit. Apakah Bapaknya bisa makan hari ini atau tidak. Ia sibuk dengan kerjanya, anak dan istrinya, komunitas mobil antiknya dan rambut gondrongnya itu. Ia memiliki peran lebih besar di luar sana daripada hanya sekedar mengurusi Bapaknya, yang sakit-sakitan. Bukankah rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Bapaknya, masih satu kampung. Mengapa tidak ia sempatkan mampir sebentar untuk menyapa dan menjenguk kesehatan Bapaknya yang sudah renta itu. Alangkah senangnya orang tua itu, seandainya ia mau menyambanginya di masa kritis dalam hidupnya. Pak Haji tua itu tidak butuh dicium jidatnya. Ia tidak lagi perlu penghormatan atau penghargaan. Apalagi sanjungan sebagai pahlawan. Cukuplah baginya anugrah Tuhan yang masih memberinya waktu dan kesempatan untuk berbuat baik dan tidak merugikan di sisa-sisa masa tuanya. Tangannya yang kasar namun kekar itu pun tidak lagi layak dicium. Ia hanya ingin melihat dan mendekap kembali anak-anaknya, dengan segenap hati dan jiwanya. Ia tidak pula membutuhkan uang anaknya. Ia bisa mencari makan dan minum sendiri. Setidaknya ia tidak pernah mengemis sampai akhir hayatnya. Ya, kebahagian dalam hatinya tidak bisa dinilai dengan materi apalagi sanjungan dan reputasi. Sekalipun terkadang terlihat kasar pada anak-anaknya, sedikit terkesan kurang sayang, kurang perhatian, sering membentak-bentak di saat fikirannya galau. Tapi di masa-masa tuanya itu, ia merindukan anak-anaknya. Ia ingin mendekap anaknya yang adalah buah hati dan darah dagingnya. Anak biologisnya itu, semakin menjauh darinya. Ia merindukan momen-momen ketika anak-anak itu masih kecil dan belum terlalu sibuk. Ia masih sempat bercengkerama, bersenda gurau dan sekali-kali makan bersama di warung sebelah. Malang sekali Pak Haji tua itu, dia digugat anaknya sendiri justru karena niat baiknya untuk masa depan cucu-cucunya. Dia mungkin salah berinisiatif dan menggalang dana untuk mendirikan sebuah gubuk tua di tanah tak terurus itu. Tanah itu memang warisan anaknya. Tapi berkali-kali Pak tua itu meyakinkan, ia bebas dari segala kepentingan pribadi atas gubuk tua itu. Pagi-pagi ia tengok gubuk tua itu sudah dipenuhi anak-anak TPA dan TK, bermain bersama sambil menyanyi, menari dan menggambar. Tidak pernah terlintas di benak Pak Haji renta itu untuk memiliki apalagi mensertifikatkan gubuk tua itu atas nama pribadinya. Toh dia sudah merasa hidupnya tak akan lama lagi. Ia hanya ingin menjadi bagian dari keceriaan anak-anak kecil itu, di sisa-sisa masanya, sekalipun bukan cucunya. Tak satu sen-pun uang dari kaleng2 kecil yang diedarkan di saat anak-anak itu bermain dan membaca Al-quran masuk ke kantong-nya. Apalagi untuk memberi makan keluarganya. Baginya cukuplah bagian Allah atas rizkinya. Uang jatah makan istrinya pun tak terhitung yang masuk ke gubuk tua itu. Tapi ia memang tak mau menghitung dan tak ingin membicarakannya. Orang-orang kampung itu sangat gembira ketika di gubuk tua itu ditebarkan santunan anak yatim, beasiswa dhuafa, zakat infak dan sedekah dari para dermawan, potongan-potongan daging kurban. Mereka berharap gubuk tua itu menampung lebih banyak anak-anak mereka yang tidak mampu bersekolah dengan biaya jutaan rupiah. Ah, apalah artinya sejuta dua-juta untuk menyekolahkan anak, bukankah itu untuk masa depan anak sendiri, sok eman, tidak rasional. Kursus privat-pun aku berikan, Inggris, matematika, IPA, Fisika kimia, kalau perlu kursus membuat pesawat pun aku biayai asal anakku menjadi orang pandai. Persis, logika orang-orang berduit. Itulah kesalehan sosial bukan hanya ritual, itulah Islam modern bukan jumud dan ortodoks, itulah inklusifitas bukan eksklusifitas, itulah tauhid murni yang tidak ternodai, itulah perenungan para sufi, itulah sejatining urip lan kasempurnaan. Ini akan memberi ruh bagi perbaikan struktur masyarakat. Menghilangkan intriks2 dan politik kotor, membersihkan hati dan membangun struktur masyarakat baru bebas dosa. Sholat pun tidak berguna tanpa kesalehan sosial. Kesalehan sosial boleh muncul tanpa sholat. Sholat di masjid, ah itu urusan kiai2 kolot. Tidak demikian orang kampung itu, ia tidak butuh logika yang tinggi-tinggi, ia malah tidak mengerti gaya bahasa indah, ia hanya perlu menyekolahkan anaknya di sekolah yang murah. Kualitas? Ah, itu hanya untuk orang kaya. Tapi bukankah ia harus transparan, accountable atas segala yang dilakukannya? Keluar masuknya uang di sekeliling gubuk tua itu, setidak-tidaknya anaknya harus yakin tidak digunakan untuk politik kotor? Pak Haji pun sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Transparansi mana lagi yang boleh dituntut jika pikiran penuh prasangka. Akuntabilitas manalagi yang bisa rasional ketika hati dipenuhi kopi. Apalah artinya papan pengumuman jika tidak pernah ditengok. Apalah artinya edaran jika dibiarkan terguyur air hujan. Pak haji tua itu terlalu lelah, sering kali menyiapkan edaran sampai larut malam, dibantu teman akrabnya si Larto yang kemarin sempat menjadi bulan-bulanan karena berani mengatakan apa-adanya atas pengalamannya betapa sulitnya betapa capeknya. Hasilnya, tidak responsible, merusak struktur sosial masyarakat. Malang sekali Pak Haji tua itu, ia dipersalahkan karena membongkar rumah warisan keluarga. Ah, rumah itu memang unik, interiornya menonjol, dinding diplester rapi dengan segala pernak-perniknya. Sepertinya logika Pak Haji itu terlalu berlebihan, rumah itu dirobohkan agar dibangun yang lebih baik, lebih kuat, bisa menampung lebih banyak anggota keluarga terutama di hari-hari libur atau hari raya. Rumah tua itu pun dulunya dibangun untuk sementara, tidak pernah terpikir akan lama, tidak ada slup dan pondasi di bawahnya hanya tumpukan bata-bata, dipoles, dipoles dan diberi warna-warna. Logika orang tua pikun. Pastilah itu hanya imajinasi Pak Haji tua itu agar mendapat sanjungan sebagai pahlawan dari anak-anaknya. Pak tua itu serba salah, ia tidak ingin rumah tua itu, yang tiap hari diciumnya, atapnya telah turun beberapa senti, diikat besi di sana-sini tiba-tiba roboh. Imajinasi orang tua pikun. Tidak akan ada angin puting beliung menerpa masjid. Apalagi yang tiap hari ditafakuri, ditadabburi oleh Pak Haji tua. Ah, Tuhan telah memberikan wahyunya, pada anaknya di saat minum kopi di rumah tetangga. Dari mana uangnya untuk membangun mimpi Pak haji tua itu, si renta yang tidak berdaya, imajinasinya dari para dukun, pastilah dari anak-anaknya. Alangkah berat hidup dan masa depan anak-anak Pak haji tua itu, harus menanggung mimpi Bapaknya. Hari itu, Pak haji tua menarik nafas dalam-dalam tanda ia sedang mengalami goncangan dalam sisa hidupnya. Baginya tuhan yang maha perkasa itu selalu dibayangkan oleh anaknya. Dalam tafakkurnya ia ingat selalu anaknya telah mencapai tauhid yang tinggi. Telah bertemu dengan guru-guru sufi. Berdebat dan berdiskusi dari Langitan sampai di negeri Iran yang sedang membangun reaktor nuklir. Anak itu pastilah telah menemukan tuhannya. Tapi mengapa demikian khawatir di saat Tuhan punya segalanya. Mengapa demikian berprasangka di saat hatinya bersih. Mengapa logikanya disandarkan atas asumsi ketika rasionalitas menjadi bagian dari kepercayaannya. Dimana keadilan ketika asas proporsionalitas dalam kata dan perbuatan dilanggar dan dicampakkan. Intrik2 kotor mana lagi yang boleh distempelkan dijidat Bapaknya. Pak haji tua itu sedang berbaring lemah, tanda ia tak berdaya melawan atau tidak mau lagi berkata kasar pada anak-anaknya di sisa hidupnya. Tapi ia tetap berhak menuntut keadilan, setidak-tidaknya kepada Tuhannya. Pak haji itu tetap tidak pernah fokus dalam kerjanya. Ia bekerja serampangan, tidak mengerti manajemen, amburadul. Tidak mengerti prioritas. Pak haji itu memegangi perutnya, ia tidak ingin berdebat tentang benar dan salah. Ia ingin bekerja sedikit-sedikit, mumpung masih ada waktu untuk menambal kekurangan di sisa-sisa hidupnya. Sudah lama ia sakit, kakinya membengkak dan dadanya nyut-nyutan. Yang terngiang di kepalanya hanya satu, tentang anaknya. Ia ingin melihat anak itu, ia ingin menyapanya, mengelus kepalanya dan mendekap dengan seluruh jiwanya. Tidak cukupkah berita tentang sakitnya itu. Semua orang mendengarnya, tapi mengapa anaknya tidak segera menyambanginya. Ah, seandainya masih ada waktu untuknya, ia ingin mendatangi anaknya itu sekali lagi seperti biasanya. Namun ia sudah terlalu lemah, bahkan untuk sekedar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Ia hanya mampu berdiam dengan hatinya mengharap suatu saat anaknya melihatnya secara tidak sengaja dan mau melambaikan tangan untuknya. Ah, lambaian tangan itu pun seperti sudah di pintu surga. Ia bahkan tidak berani berharap anaknya itu akan melantunkan salam untuknya atau menyapanya. Harapan Pak Haji tua itu sederhana, ia hanya ingin anaknya mengangkat tangan kanannya tanda ia melihat Bapaknya yang sedang meregang nyawa. Cukuplah hatinya, puaslah sanubarinya dan mungkin rasa sakitnya akan banyak berkurang sebelum ajal menjemputnya. Menginjak pintu surga pun, Pak haji sudah tersenyum bahagia, padahal itu pun didapatinya setelah ribuan tahun mendekam di neraka. Tuhan ampunilah Pak haji dan Aku, semoga masih ada ketulusan sekalipun tinggal secuil. Wassalam, M.K.Roziqin DN-11A Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games. TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. ____________________________________________________________________________________ Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC
