Sunat
oleh Jojo Wahyudi
"Ayah, jadi benar kan nanti liburan sekolah Zidan di sunat ?"
dengan gembira penuh harap, anak laki-lakiku bertanya
"InsyaAllah, libur nanti kamu Ayah khitan. Yang pasti nilaimu harus bagus.
Do'akan juga agar kerjaan Ayah lancar ya" sambutku dengan senyum.
"Tentu dong, Ayah kan orang paling baik. Pasti kerjaan Ayah lancar deh"
ujarnya balik menyemangatiku.
Awal bulan Juli ini, praktis kegiatan belajar mengajar di beberapa sekolah
berkurang.
Begitu juga dengan anak ketigaku, Zidan yang duduk di bangku Sekolah Dasar
kelas 3.
THB baru saja diselesaikannya dengan baik. Nilai rata-ratanya 8,5 dan juara
ke-tiga di kelas.
Memang sejak awal test, aku sudah berjanji padanya,
bila naik kelas dengan nilai bagus maka dia akan dikhitan.
Saat itu kulihat kegembiraan yang meletup-letup di mata bocah lelakiku.
Karena memang sudah ada 9 orang teman sekelasnya yang berencana di khitan.
Bersama Ibunya sudah kupersiapkan segala keperluan
untuk pesta perayaan khitan anak laki-lakiku satu-satunya,
kebetulan kakaknya 2 orang perempuan semua.
Kami berencana membuat panggung hiburan yang cukup meriah,
dengan mengundang sebuah grup marawis sebagai pembuka
serta malam harinya diisi organ tunggal dengan 3 orang penyanyi.
Cukup menguras kocek juga setelah dihitung dana yang diperlukan
Tapi apalah arti materi, jika untuk kesenangan anak sendiri,
toh kita bekerja untuk mereka, pikirku dalam hati.
"Nanti Zidan ingin di sunat bareng teman-teman ya Yah. Di klinik depan komplek"
"Lho kenapa klinik yang itu Zidan, kamu tidak takut ?
Di klinik hanya dilayani seorang manteri saja " ujarku menanggapi permintaannya.
"Lebih baik di Rumah dr Husein saja, beliau lebih berpengalaman" tambahku.
"Zidan kan ingin bareng teman-teman di sunatnya Yah" rengeknya
"Baiklah kalau itu memang kehendak Zidan, Ayah akan turuti" aku sedikit
khawatir.
"Sekarang Zidan mau tidak antar Ayah ?" lanjutku
"Siap, Zidan siap mengantar Ayah yang baik " katanya dengan semangat
mungkin karena permintaannya di khitan dengan teman-temannya aku kabulkan.
"Kita sekarang ke tempat penyewaan tenda, sekalian mengukur baju untukmu,
lalu kita ke Depok menemui pimpinan Marawis dan organ tunggal"
"Marawis dan organ tunggal ?" dia bertanya.
"Iya, pengisi hiburan persis sewaktu Om Harno menikah bulan lalu.
Kamu ingatkan ?" aku jelaskan mengenai rencana bersama Ibunya.
"Buat apa sih Ayah repot-repot bikin tenda, pakai organ tunggal segala?"
tanyanya dengan santai.
"Ini kan acara sekali untuk seumur hidup kamu.
Jadi boleh dong kita rayakan dengan meriah" aku bingung dengan pertanyaannya
"Tapi kan Yah, dengan bikin tenda dan mengundang organ tunggal biayanya mahal"
aku kaget dengan pertanyaannya kali ini.
"Zidan pernah dengar dari guru ngaji Zidan di TPA,
kalau sekarang ini banyak orang sedang susah.
Katanya untuk makan saja mereka harus kerja dari pagi sampai pagi lagi"
ujarnya dengan lugu tapi pasti.
"Lalu apa lagi yang Zidan tahu ?" tanyaku dengan ragu
"Kata guru ngaji Zidan, kita semua beruntung punya orang tua yang cukup.
Contohnya Ayah yang baik, bisa sekolahin Zidan, bisa kasih uang jajan Zidan"
Memang Ayah tidak tahu kalau si Karsito itu orang tuanya nggak kerja?"
"Karsito yang mana ?" aku bertanya penuh keingin tahuan.
"Itu Karsito, yang suka nemenin Ibunya jualan nasi uduk keliling komplek kita.
Kata Karsito ayahnya yang dulu kuli bangunan sekarang nggak bisa kerja,
Karsito bilang sih karena waktu kerja bikin sekolahan kakinya patah terjatuh."
Semakin kaget kaget aku dibuatnya.
"Kasihan dia loh Yah. Sekolah aja nggak. Bagaimana bisa pintar?
Ayah kan pernah bilang kalau mau pintar harus sekolah yang tinggi."
Aku sudah tidak mempunyai pertanyaan lagi untuknya.
"Coba kalau uang Ayah yang untuk sewa tenda dan bayar penyanyi
di kasihkan ke orang tuanya, pasti Karsito bisa sekolah lagi deh".
"Bisa jadi anak pintar juga seperti Zidan".
Kali ini aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, kupeluk tubuhnya yang mungil
dengan erat, segenap ragaku luluh dalam kebanggaan.
Kebanggaan seorang Ayah yang memiliki anak seperti dambaan setiap orang.
Anak yang mengingatkan Ayahnya akan "kepedulian" pada sesamanya
yang tidak mengukur segalanya dari materi dan kesenangan dunia semata.
Kepeduliannya membuktikan, bahwa pendidikan agama yang baik adalah
tiang utama menjadikan generasi kuat penerus umat negeri ini.
Aku sangat malu dengan kenyataan yang ada,
saat masjid tempat anakku mendapat bimbingan agama membutuhkan dana pembangunan
perluasan,
dengan berat hati aku menyumbang ala kadarnya.
(KRL Bojong - Cikini 09 07 2007)
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/