Dengar kata "Lapangan Banteng" teringat saya di sekitar tahun 70-an (masih 
kanak-kanak, belum sekolah). Ketika itu tempat ini masih jadi terminal bus 
dalam kota di mana bus-busnya diberi warna yang berbeda menurut tujuannya -- 
mirip angkot di Kota Bandung sekarang yang diberi warna-warna (kebanyakan 2 
warna) yang menunjukkan tujuannya.

Saat ini, selain lapangan bolanya yang rutin dipakai latihan main bola, tempat 
ini dipenuhi aneka macam tanaman hias yang menyejukkan. Silakan datangi tempat 
ini karena lagi ada pameran sampai dengan 27 Agustus 2007 nanti.

Salam / Jaerony.-

*********************************************


Minggu, 22 Juli 2007

Banteng - Grogol 

Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, kini tertata rapi. Lapangan kedua terbesar di 
Jakarta setelah Monas itu kini menjadi tempat Pameran Flora dan Fauna. Tidak 
lagi sesemrawut ketika pada tahun 1970-an oleh Gubernur DKI Ali Sadikin 
dijadikan sebagai terminal bus. Lapangan Banteng dibangun oleh Gubernur 
Jenderal Daendels -- seperti juga Lapangan Gambir (kini Monas) -- pada awal 
abad ke-19.

Terminal bus Lapangan Banteng ketika itu melayani berbagai trayek hampir ke 
segenap penjuru Ibukota. Trayek paling terkenal dulu adalah Banteng-Grogol. 
Sedangkan trayek ke arah selatan yang banyak penumpangnya adalah 
Banteng-Cililitan. Sekarang ini sebagian besar bekas terminal Cililitan sudah 
menjadi pertokoan.

Grogol yang kala itu terletak di paling ujung barat Jakarta baru dikembangkan. 
Berbagai perumahan, termasuk untuk anggota DPR, dibangun. Sayangnya, pada 
1980-an, ketika terjadi banjir besar, hampir seluruh kawasan di Grogol terendam 
air. Pada abad ke-18, tentara Islam Banten sering mengusik Belanda dari Grogol 
yang masih hutan belukar.

Dulu, bagi warga Jakarta, Grogol menjadi semacan ejekan untuk menyebutkan orang 
yang berperilaku aneh atau sinting. ''Orang ini perlu dibawa ke Grogol,'' kata 
orang. Maksudnya, ke rumah sakit jiwa yang dibangun oleh pemerintah kolonial 
Belanda di Grogol.

Pada 1970-an, sopir ugal-ugalan belum sebanyak sekarang. Bang Ali pernah 
mengejar-ngejar mereka. Kala itu belum banyak 'sopir tembak'. Saat si sopir 
yang bertanggung jawab ingin istirahat, tiduran, main gaple atau main 'judi 
nomor mobil', maka kenek atau teman lain yang membawa bus. Istilahnya nyerep.

Sampai kini, kebiasaan nyerep masih berlangsung secara leluasa. Bukan lagi di 
bus kota, juga bus antar daerah, sampai taksi dan mikrolet. Tidak heran kalau 
kecelakaan lalulintas makin parah saja. Soal SIM pun bisa diatur, termasuk bila 
tertangkap aparat kepolisian, ada yang membereskannya. Saat itu angkutan kota 
dilayani oleh bus Robur buatan Bulgaria.

Sejak tahun 1957, pemerintah mendirikan Perusahaaan Pengangkutan Djakarta 
(PPD). Berdirinya PPD sebagai konsekwensi dari pengambil-alihan perusahaan 
angkutan milik Belanda: BVM (Batavia Verkeer Matchapij). BVM kala itu bukan 
hanya melayani bus kota, tapi juga trem listrik. Seperti juga bus, trem listrik 
ketika ditangani PPD juga mengalami kerugian. Pada tahun 1960 (masa walikota 
Sudiro) angkutan massal ini dihapus.

Kini, ribuan awak PPD dikabarkan tengah 'sekarat' karena selama tujuh bulan 
(sejak Januari) tidak menerima gaji. Dikabarkan banyak pegawai PPD yang 
mengalami depresi -- sesuatu yang tidak terjadi ketika perusahaan angkutan ini 
ditangani Belanda.

Ketika menjadi terminal bus kota, Lapangan Banteng hidup selama 24 jam. Di 
lapangan yang berhadapan dengan Hotel Borobudur itu berjejer rumah makan yang 
juga buka selama 24 jam. Daerah dekat patung Irian Barat, merupakan tempat 
penjualan buku-buku dan majalah. Beragam komik dijual di sini.

Kala itu, bila kita ke lapangan Banteng, harus ekstra hati-hati untuk menjaga 
kantung dan barang berharga. Karena, di Lapangan Banteng beroperasi 
pencopet-pencopet yang paling ulung di Jakarta. Namun, mereka tidak seganas 
sekarang, kriminalitas di Ibukota sangat menyeramkan. Para komplotan penjahat, 
ketika melakukan perampokan, misalnya, tidak segan-segan membunuh korbannya. 
Termasuk di siang bolong.

Lapangan Banteng yang sebelum penyerahan kedaulatan bernama Lapangan Singa (ada 
patung singa di atas sebuah tugunya), oleh Belanda dinamakan Waterloo Plein 
untuk mengejek kekalahan Kaisar Napoleon di Waterloo, Belgia (1815). Pada 
Pemilu 1955, Lapangan Banteng digunakan untuk kampanye multi parpol. Demikian 
juga pada Kampanye 1971. Pada 18 Maret 1982, ketika Golkar berkampanye di 
Lapangan Banteng, terjadi kerusuhan. Panggung dan peralatan musik yang sangat 
mahal dibakar massa, hingga terjadi kepanikan yang luar biasa.

Saat itu, selama beberapa hari para pegawai negeri tidak berani memakai baju 
dan atribut Korpri di jalan-jalan. Mereka takut menghadapi gangguan massa. 
Konon, kerusuhan itu dipicu oleh massa PPP, yang ketika itu menjadi pesaing 
utama Golkar. Sementara, Golkar yang menjadi partai pemerintah mendapatkan 
fasilitas yang sangat berlebihan. Tapi, banyak yang mengatakan bahwa peristiwa 
itu diotaki oleh petinggi Golkar sendiri untuk mendiskreditkan pesaing utamanya 
itu.

Gubernur Jenderal Daendels juga membangun sebuah 'gedung putih' di Lapangan 
Banteng, yang kini menjadi Departemen Keuangan. Pada 1876, untuk memperingati 
200 tahun berdirinya kota Batavia, dibangun patung JP Coen, pendiri kota 
tersebut. Patung itu dihancurkan pada masa pemerintahan Jepang (1942).

Dulu, di sayap sebelah kiri gedung yang gagal dijadikan istana gubernur 
jenderal itu, terdapat gedung Club Concordia -- tempat hiburan para perwira 
militer yang berpangkat letnan ke atas. Pada malam minggu, para perwira dengan 
istri atau pasangan mereka berdansa di lantai pualam, diiringi musik hasil 
karya komposer terkenal, seperti Strauss, Offenbach, Verdi, dan Donizetti. 
Sementara, para wanita mengenakan pakaian yang mereka impor dari Paris dan 
London.

Setelah penyerahan kedaulatan, gedung ini dijadikan sebagai gedung DPR di era 
demokrasi liberal.

(Alwi Shahab )


http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=300952&kat_id=84

Kirim email ke