Sabtu, 14 Juli 2007 Depok Beralih ke Pertanian Organik
Pengolahan lahan dengan menggunakan pupuk kimia mempengaruhi kualitas tanah. Lahan pertanian di Kota Depok memang tidak luas. Namun bukan berarti tidak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu unggulan. Itulah yang kemudian mendorong Pemkot Depok menyiapkan program pertanian organik yang berhasil guna. Seperti diketahui, dalam perjalanannya, Kota Depok lebih dikenal sebagai kota jasa, pendidikan, dan permukiman. Laju pertumbuhan penduduk maupun pembangunan kian berkembang pesat. Tak hanya di wilayah pusat kota, geliat perkembangan pun mulai merambah ke kawasan pinggiran. Di sinilah terjadi dilema. Wilayah pinggiran yang sebelumnya banyak terdapat lahan pertanian sawah, menjadi makin terdesak. Data dari Dinas Pertanian (Distan) Kota Depok membuktikan hal itu. Luas lahan pertanian terus menyusut dari waktu ke waktu. Tercatat pada tahun 2000, lahan pertanian di kota ini luasnya masih mencapai 1.300 hektare. Lima tahun kemudian, luasnya hanya tersisa 972 hektare saja atau berkurang sebanyak 25 persen. Bukan hanya itu ancaman terhadap lahan yang kini tersisa. Pengolahan tanah pertanian dengan cara konvensional menggunakan pupuk kimia, telah memengaruhi kualitas tanah. Hal ini jelas bukan kabar baik bagi para petani dan pemilik lahan. Akibatnya hasil pertanian yang diperoleh menjadi kurang optimal yang pada akhirnya tidak mampu mengangkat kesejahteraan petani. Maka dari itu, dicarilah upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dan sistem pertanian organik dianggap paling tepat menjawab persoalan ini. Budidaya organik kini sedang ngetren, tak hanya di dalam negeri, bahkan di dunia internasional. Seiring gencarnya slogan kembali ke gaya hidup sehat, organik seolah menemukan celahnya karena tidak banyak memanfaatkan bahan kimia seperti pupuk, pestisida kimia sintetis, dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Sebaliknya petani organik lebih memanfaatkan pupuk buatan sendiri dari bahan sampah dari lingkungan sekitar dan dijadikan kompos. Keseimbangan pun terjadi, di mana kesuburan tanah berasal dari pelapukan bahan organik yang terjadi secara alamiah. Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia masih sangat besar. Dari 75,5 juta hektare lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta hektare yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Inilah yang hendak dimanfaatkan dengan lahan yang ada di Depok. Belum lama ini, langkah persiapan dilakukan dengan mengirimkan sebanyak 25 petani dan tenaga penyuluh ke Nagrak Organik System of Rice Intensification (SRI) Center di Sukabumi, Jawa Barat. untuk mendapat pelatihan. Mereka nantinya diharapkan segera bisa mempraktekkan ilmu yang diperolehnya sekaligus memberikan bimbingan bagi petani yang lain. Wali Kota Depok, Nurmahmudi Ismail mengancarkan metode baru tersebut sudah mulai diimplementasikan pada musim tanam berikutnya setelah para petani menerima bantuan bibit dan kompos. "Ini memang cara bertani yang sama sekali baru sehingga perlu kesungguhan dari semua pihak untuk mendukung keberhasilannya," ujar Nur. Pemkot berjanji mendukung penuh program pertanian organik. Selain terus memberikan pelatihan dan penyuluhan, nantinya juga bakal dilakukan perbaikan sarana pendukung mulai dari saluran irigasi, transportasi jalan, maupun reklamasi lahan. Nur optimitis, bila diupayakan dengan cara yang benar, pertanian organik bisa menuai hasil seperti diharapkan. Menurut mantan Menteri Kehutanan ini, selain dapat meningkatkan produksi panen serta meningkatkan kesejahteraan petani, juga dinilai lebih ramah lingkungan serta mampu memulihkan kondisi lahan yang kritis. Harapan yang sama juga dilontarkan Saman (47 tahun), petani dari Kecamatan Limo. Lahan sawahnya tidak terlalu luas, kurang dari satu hektare. Setiap panen, hanya mampu menghasilkan satu hingga satu setengah ton gabah kering giling saja. Tidak banyak yang bisa dijualnya, sebagian besar beras dia konsumsi bersama keluarga. Sehingga ayah tiga anak ini mengaku sangat menantikan terobosan dari Distan agar terjadi perubahan signifikan. "Ya kita sih siap saja pakai pertanian organik, asalkan dari pemkot terus kasih bantuan dan bimbingan," urainya. Meski mendukung penerapan metode ini, namun kalangan dewan meminta pemkot dapat mengkomunikasikan rencana itu secara lebih detil agar tidak timbul persoalan di kemudian hari. "Kami tentu menyambut baik gagasan tersebut, tapi akan lebih baik seandainya ada penjelasan lebih jauh dari Distan," tutur anggota Komisi B DPRD Kota Depok Murtadha Sinuraya. Menurut politisi dari Fraksi Partai Demokrat itu, dewan ingin mengetahui apakah lahan pertanian di Depok memang cocok untuk pertanian organik, kesiapan petani maupun pendanaannya nanti. Menurut Kepala Distan Kota Depok, Rumanul Hidayat, pihaknya masih fokus dalam menyiapkan sarana penunjang, semisal irigasi pengairan. Diakui, saat ini masih banyak irigasi belum tertata rapi. "Kita sudah berkoordinasi dengan dinas PU dalam rangka rehabilitasi fasilitas pengairan tersebut. Demikian halnya untuk perbaikan transportasi jalan agar memudahkan pemasaran hasil pertanian," katanya belum lama ini. Dijelaskan, banyak manfaat bisa dipetik dari pertanian organik. Selain ramah lingkungan, dari segi produksi pun lebih baik dari pertanian konvensional. Jika sebelumnya petani hanya bisa menghasilkan satu hingga tiga ton padi per haktare per musim panen, dengan cara organik bisa mencapai lima ton minimal. Hanya saja, untuk melaksanakan metode ini perlu waktu karena para petani sudah terbiasa menggunakan cara yang konvensional. Ini mengingat, pertanian organik sangatlah berbeda dalam penerapannya baik sebelum tanam, saat tanam, penanganan penyakit atau hama serta pemeliharaannya. "Tapi saya kira jika mereka sudah melihat sendiri keberhasilan yang bisa diperoleh, lambat laun pasti bakal bisa menerima kehadiran sistem tersebut," tandas Rumanul. Pihaknya juga akan mengalokasikan dana khusus di APBD terutama bagi upaya pelatihan, sementara dari Departemen Pertanian sudah berkomitmen untuk membantu segi permodalan. Tahap awal, pertanian organik akan diujicobakan di empat kecamatan, yakni Cimanggis, Sukmajaya, Limo dan Pancoranmas. Berapa luas lahan yang akan digunakan Distan belum dapat menentukan karena masih terus berupaya mengajak para pemilik lahan untuk bekerjasama. Fakta Angka 972 hektare Lahan pertanian yang tersisa di Depok saat ini. Jadi Sentra Usaha Pembibitan Suatu pagi di pusat pelatihan tani di Nagrak Organik System of Rice Intensification (SRI) Center di Sukabumi, Jawa Barat. Pemandangan di sekelilingnya cukup indah, terhias hamparan perbukitan nan asri. Bentangan terasering areal persawahan kian menambah teduh suasana. Namun jangan salah, persawahan di sini tak sama fungsinya dengan lahan sawah seperti umumnya. Petak-petak sawah tersebut merupakan area latihan bagi para petani dari seluruh Indonesia yang akan menimba ilmu tentang pengolahan pertanian organik. Segala hal menyangkut pertanian organik terdapat di pusat pelatihan ini. Mulai dari cara dan metode pertaniannya, pemrosesan kompos hingga penanganan paska panen. Semua fasilitasnya lengkap tersedia. Yang menarik, terdapat pula sarana pelatihan dalam rangka pembibitan tanaman padi organik. Tentu bukan tanpa sebab pengelola menyediakan fasilitas ini, karena seperti diketahui, penyediaan bibit organik masih menjadi sesuatu yang perlu ditingkatkan. Hal tersebut pula kemudian cukup menarik perhatian pihak Dinas Pertanian Kota Depok. Ketika mengunjungi SRI Center beberapa waktu lalu bersama sekitar 25 peserta pelatihan, mereka menyadari bahwa selain mengembangkan lahan pertanian sawah, usaha budidaya pembibitan padi organik juga layak diperhitungkan. Dan diakui oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Depok, Rumanul Hidayat, bahwa pihaknya sangat antusias terhadap aspek pembibitan ini. Ketertarikan itu sendiri dilandasi oleh beberapa alasan. Pertama, ungkap Rumanul, apabila dilihat dari lokasi lahan di Kota Depok, dirasakan tidaklah begitu menguntungkan dari segi luas. Tidak seperti di wilayah-wilayah tetangga, semisal Bogor, Bekasi atau Tangerang, lahan sawah di Depok terbilang kecil sehingga tidak cukup mampu memproduksi beras dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, perlu ditempuh cara lain. "Di Depok jangan hanya memprioritaskan ke produk hasil pertaniannya, tapi kita coba ke pengembangan dan budi daya bibit," tegas Rumanul. Inilah yang nantinya secara bertahap coba digerakkan. "Jadi kita akan juga jualan bibit," katanya singkat. Nantinya bibit yang dijual bukanlah yang masih berupa biji, melainkan yang sudah siap tanam. Alasan kedua, prospek usaha pembibitan ternyata sangat cerah. Jika dibandingkan dengan padi biasa, maka harga bibit padi organik jauh lebih mahal karena terbuat dari bahan baku kualitas tinggi. "Hitungannya sekitar Rp 2-Rp 3 juta per hektare. Maka bisa dibayangkan berapa yang bisa dihasilkan dari usaha tersebut," urai Rumanul lagi. Wilayah-wilayah yang kini menerapkan pertanian organik, belum memiliki fasilitas dan sarana pembibitan. Dengan demikian, dalam hal pemasaran, bibit padi organik itu tidak akan menemui kendala berarti. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, tambah Rumanul, jika kemudian pembibitan ini dinilai lebih berhasil, pihaknya akan memfokuskan diri pada sektor usaha ini. "Karena ya itu tadi, pasarnya masih terbuka lebar, misalnya kita bisa jual ke Sukabumi, Purwakarta, Bekasi, atau Subang." Rumanul mengaku optimis pembibitan ini dapat sukses di Depok. Dia lantas mengacu kepada keberhasilan dalam pembibitan tanaman hias dan ikan hias. Saat ini rata-rata pertahun, kedua usaha tersebut mampu menyumbangkan Rp 25 miliar ke PAD. Tahun ini, Distan bertekad untuk meningkatkan angka itu minimal 10 persen. ( yusuf assidiq ) sumber : Republika
