Ada Apa Dengan Madu ?
"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya,
didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang
memikirkan"
Demikianlah penggalan ayat 69 dari surat An Nahl. Lebah. Salah satu makhluk
Alloh SWT yang kecil namun keberadaannya sangat besar manfaatnya bagi kehidupan
manusia. Manfaat yang bisa diambil dari lebah adalah cairan manis yang disebut
dengan madu.
Apa dan bagaimana madu bisa bermanfaat bagi kita semua terutama untuk kesehatan
kita ? Edisi kali ini kita akan membahas : Ada apa dibalik manisnya madu
tersebut ?
Madu memiliki banyak khasiat. Madu dapat membersihkan kotoran yang terdapat
pada usus, pembuluh darah dan yang lainnya, dapat menetralisir kelembaban
tubuh, baik dengan cara dimakan atau dioleskan. Amat bermanfaat untuk manula
dan mereka yang memiliki keluhan pada dahak atau yang metabolismenya cenderung
lembab dan dingin. Madu amat bergizi, melembutkan sistem alami tubuh,
mengawetkan pasta atau makanan yang direndam dengan pasta, menghilangkan rasa
obat yang tidak enak, membersihkan lever, memperlancar buang air kecil, cocok
untuk mengobati batuk berdahak. Bila diminum dalam keadaan panas dicampur
dengan air mawar, bisa berguna mengusir serangga dan pengaruh opium. Kalau
diminum begitu saja dicampur dengan air putih, bisa berguna mengobati sakit
akibat gigitan anjing gila atau keracunan jamur (jamur yang mematikan). Kalau
sebongkah daging segar dimasukkan ke dalamnya, akan bisa terawetkan selama tiga
bulan.
Demikian juga apabila buah mentimun, labu dan terong direndam dalam madu,
juga bisa terawetkan dalam waktu yang sama. Bahkan buah-buahan yang direndam di
dalam madu bisa bertahan hingga enam bulan. Madu juga bisa digunakan untuk
mengawetkan mayat, sehingga bisa disebut pengawet yang aman. Bila dioleskan ke
rambut dan kulit kepala, akan bisa membunuh kutu dan menghilangkan ketombe.
Madu juga dapat memanjangkan rambut, mermperindah dan melembutkannya. Kalau
digunakan sebagai celak, akan mempertajam pandangan mata, kalau digunakan untuk
bersikat gigi bisa memutihkan dan memperkilat gigi, bisa menjaga kesehatan gigi
dan menyehatkan gusi, madu juga berfungsi membuka simbul-simbul pembuluh darah
dan mem-bersihkan kotorannya. Bila dijilat saja bisa menghilangkan dahak
mencuci lambung dan menyingkirkan kotorannya, bisa juga menghangatkan tubuh
secara stabil dan membuka ganjalan-ganjalan dalam tubuh. Madu juga bermanfaat
untuk lever dan ginjal serta kandung kencing, sementara madu tidak terlalu
berbahaya untuk penderita kelainan liver dan limpa seperti zat-zat gula lainnya.
Selain itu madu relatif aman dari kerusakan, relatif kurang berbahaya
termasuk untuk mereka yang terkena penyakit kuning. Untuk menghilang-kan
bahayanya sama sekali, bisa dicampur dengan cuka buah dan sejenisnya.
Madu bisa menjadi makanan bila dicampur dengan makanan, menjadi obat bila
dicampur dengan obat-obatan, bisa menjadi minuman bila dicampur dengan minuman,
bisa menjadi zat gula bila dicampur dengan karbohidrat, bisa menjadi cream
pelembut kulit bila dicampur dengan cream, bisa menjadi minuman yang berenergi
bila dicampur dengan minuman sejenis.
Tidak ada satu zat yang setara dengan madu yang diciptakan oleh Alloh,
tidak ada yang lebih baik tidak ada yang sama atau sekedar mendekati
kualitasnya. Madu menjadi satu-satunya andalan orang-orang terdahulu. Bahkan
buku-buku pengobatan klasik tidak pernah mengenal unsur-unsur gula selain madu,
unsur gula baru dikenal oleh kedokteran belakangan ini saja.
Nabi Muhammad SAW biasa meminum dengan air untuk membersihkan air liur.
Namun kebiasaan itu menyingkap sebuah rahasia menakjubkan untuk menjaga
kesehatan. Kiat itu hanya dipahami oleh orang-orang yang cerdas saja.
Dalam sunan Ibnu Majah secara marfu' diriwayatkan dari Abu
Hurairah:"Barangsiapa meminum tiga sendok madu dalam tiga pagi saja dalam satu
bulan, tidak akan terkena penyakit berat"
"Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat : Madu dan Al Qur'an"
Disitu dikombinasikan antara kedokteran manusia dengan kedokteran ilahi,
antara terapi kejiwaan dengan terapi badan, antara obat berunsur bumi dengan
obat berunsur langit.
Bila hal ini sudah dipahami, maka demikianlah yang digambarkan oleh nabi
yang berkaitan dengan madu : Madu berfungsi menyingkirkan kotoran yang
terkumpul di lambung dan usus. Karena madu memang mengandung unsur penolak
segala macam kotoran. Terkadang, lambung dihinggapi oleh zat-zat lengket yang
menghalangi makanan akibat kandungan unsur perekatnya. Bila zat-zat perekat itu
menempel di lambung, ia akan bisa merusak lambung sekaligus merusak makanan
yang masuk. Maka obat yang dibutuhkan adalah yang mampu menyingkirkan
unsur-unsur perekat tersebut. Madu adalah obat pencerna. Madu amat cocok untuk
mengobati penyakit semacam itu. Terutama sekali bila dicampur dengan air
hangat. Kenapa dalam kasus diatas perlu konsumsi madu secara berulang-ulang ?
Itu juga mengandung rahasia medis yang mengagumkan. Obat harus dikonsumsi
dengan dosis yang tepat sesuai dengan penyakit yang diderita seseorang. Kalau
dosisnya kurang, tidak akan banyak membantu. Tetapi kalau dosisnya berlebihan
juga bisa melemahkan tubuh sehingga menimbulkan bahaya lain.
Nabi Muhammad SAW memerintahkan seorang laki-laki untuk meminumkan madu
kepada saudaranya yang sakit dengan dosis yang sesuai untuk mengatasi penyakit
yang dideritanya. Namun dosis yang diminumkannya tidak mencapai takaran yang
pas. Ketika lelaki itu datang memberitahukan keadaan si sakit, nabi mengerti
bahwa dosis yang diberikan memang belum cukup. Setelah itu datang
berulang-ulang, beliau menekankan untuk terus menambah dosisnya sehingga
mencapai dosis yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi penyakit tersebut,
ketika obat itu diminumkan secara berulang-ulang, dengan izin Alloh penyakit
itupun sembuh. Pengenalan terhadap dosis obat, cara mengkonsumsi obat dan kadar
berat ringannya penyakit adalah formula ilmu kedokteran yang terbesar. Wallahu
a'lam. ( Miftah Reza )
Referensi : Metode Pengobatan Nabi Muhammad SAW oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah (
Griya Ilmu )
Sumber tulisan : Majalah Dakwah Islam GERIMIS Edisi No.6 Tahun ke 2 bulan Juni
2007 ( Yayasan Islam Al Huda Bogor )