www.eramuslim.com

Qurban Kang Slamet
oleh Jojo Wahyudi Jumat, 07 Nov 2008 08:01 Cetak |  Kirim |  RSS


Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna
Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP
Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan
sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama
Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi
sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.


Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK. Bukan
karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya
untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja
yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur
akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak.
Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut”
sudah tentu sungai Serayu tempatnya.


Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan
kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak
terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga
mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar,
mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah
rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan. Apalagi Kang Slamet tidak
seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi
dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah
orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.


Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat
anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah. Di kampung kami belum
tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet
dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan
sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku,
karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil
tanah yang mereka miliki.


Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput
untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara
sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen
kacang & kedelai di sawah.


Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah
tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia
mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan
berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz).


Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe.
Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al
Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal
surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat
sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga
Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan
sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja
sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.


Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak
Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan
cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih
atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing
peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar
menyala-nyala dari wajah.


“ Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu
Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa
ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di
apakan anak kambing itu.


“ Lho........ apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol
neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya,
nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami
yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.


“ He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban
saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.


Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa.
Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti
kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai
kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan
minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya
bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.


Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan
teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan
dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim
paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia
“ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak
yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk
seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa
di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering. Keadaan
sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia
baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul
air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh
cukup untuk mengitari seluruh desa.


Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan
putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu
minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu”
sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.


Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar,
kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar,
tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi
mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang
memperhatikan.


Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia
punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet
untuk dapat ber-Qurban.


Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet
terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua
pipinya.


Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam.
Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi,
dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.


“ Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-laki
koq nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang
terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.


Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air
mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, “ Kulo
ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku
nggo tak persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur
hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti
Allah)”


“ mmmm......... Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin
Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”
dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.


“ Jalaran keikhlasan....wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo
tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.....kambingnya sudah
menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat terakhir
pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.


Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua
puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa
menghilangkan rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan
yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar
seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya
untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta
yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan
isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus
meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak
perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak
mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.


Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi
menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih
memilih
membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan
sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.


Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah
memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat.
Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami
tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.



dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008
(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada
di mana) Aku sangat iri padamu Kang.

Kirim email ke