Surat Pensiun Andung di Gintung

Sujud kedua rakaat akhir Subuh baru saja berakhir. Tubuh rentanya tak kuasa 
menahan terjangan air. Andung --demikian biasanya perempuan 65 tahun ini kami 
panggil, gontai mencapai ketinggian. Bandang akibat runtuhnya bendung Situ 
Gintung, satu kilometer lebih selatan rumah, deras menghantam dinding kamarnya. 
 
Pertolongan Ari --suami Nila anaknya tertua, ia kibaskan. "Cucu, cucuku." Cuma 
itu perintahnya. Surat pensiun almarhum suami membawanya kembali ke pusaran. 
Deru air makin keras, samar masih jelas lantunan Andung mengagungkan asmaNya. 
Kekasihnya.
Ari bercerita. Sekali dua tangannya menggapai mencari-cari pegangan tubuh. Air 
seperti tentara kalap mendobrak pintu. Lamat-lamat asma Allah masih jelas ia 
lantunkan. Tiga cucu --satu belum setahun-- dipastikan selamat di lantai atas. 
Empat jam berselang, kami mendapatkannya. Lumpur memudarkan putih mukena. 
Andung masih segar terendam air yang masih selutut. Seperti tertidur dihimpit 
almari jati. Ada darah dan cairan segar mengalir dari mulut dan hidung. 
Sekeliling temaram, onggokan sampah, puing material kiriman petaka memenuhi 
ruangan. Basah, dingin. Andung berpulang. Ambulan segera membawa jenasah keluar 
dari kerumunan orang yang panik tak karuan. 

Permata Hijau Legoso, 11 AM.
Siang ini, tak ada lagi teh dan kopi kental yang Andung buat. Tak ada irisan 
pisang berbalut tipis terigu yang ia goreng seperti biasa saban pagi. Yang 
biasa kami teguk diteras bawah memandang alir kali kecil, 100 meter sebelah 
barat rumah. 
Tak ada lagi rendang kental Andung yang kesohor di keluarga kami. Siang ini 
berganti bungkusan rames nasi padang. Belasan bungkus diantar ibu-ibu kelompok 
pengajian Pondok Indah yang barusan datang dengan Alphard hitam. Nila, anak 
tertua Andung, meladeni sebentar empat ibu berkerudung dan ber-sun glass hitam 
ke pelataran parkir rumah kakaknya. Siapa mereka? Entah. Yang jelas, lambai 
tangan bidadari-bidadari itu sekali lagi menukas sebelum pergi; Yang tabah ya 
Nila.... Beberapa dus bantuan lain mereka drop di rumah ini.

Rumah Andung, belakang kampus UMJ, 11.15 AM
Lumpur masih tebal. Ruang bawah gelap penuh sampah. Bau lumpur dan sedikit 
anyir masih merebak. Pelataran rumah di belakang kampus Universitas 
Muhammadiyah Jakarta, makin ramai. Minivan Panther Ari masih di carport semula. 
Bekas lumpur subuh tadi ada di batas kepala bila duduk didalamnya. Posisinya 
terselamatkan dari arus yang terhalang pagar tembok bagian selatan atas.
Mirip pasar. Sulit kenali relawan SAR dan selebritis di pelataran lumpur ini. 
Mana petugas PMI dan yang mana wisatawan. Heli polisi terbang rendah 
menderu-deru, dua kamerawan di pintu kiri kanannya merekam kampung Poncol yang 
mencekam. 
Satu keluarga sudah terlihat berfoto bersama di sebelah Taman Kanak-kanak yang 
hancur. Latar hamparan lumpur dan puing kerusakan sapuan bandang seperti 
menyudahi sensasi yang sebelumnya mereka dapat dari televisi. Agak ke utara, 
bis kampus berubah badan 90 derajat.
Hari ini Andung dan keluarga serta taksiran 100an jiwa melayang. Esok kamu, 
kita atau entah siapa lagi yang kita nikmati di layar kaca dan lembaran koran.
Hampir tujuh jam dari bencana, banyak orang bekerja seperti tanpa koordinasi. 
Orang-orang membopong perahu karet, padahal air sudah selutut. Disini kami tak 
kunjung jelas; siapa yang berwenang pegang kendali tanggap darurat ini. "Saling 
lempar tanggungjawab mas, BNPB Banten dan Jakarta." Begitu telpon dari sahabat. 
Ia yang memandu, dan menyabarkan kegundahan, selama 3 jam sulitnya menembus 
Cirendeu. BNPB, kepanjangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Badan yang 
harusnya merespon dan mengelola tanggap darurat bencana di negeri ini.
Dua bendera putih dengan logo garuda seperti di ujung gagang tongkat komando 
tersampir di pagar rumah. Lumayan, kami memang tengah mencari kain lap. Menyeka 
lumpur di barang yang masih layak digunakan.
Agak ke samping rumah, tiga perempuan cantik berkaos biru bertulis Perempuan 
Demokrat, menjinjing kantong hitam dengan sepaket sembako berkeliaran. 
Rambuutnya yang sebahu dicat. Gradasi ungu ke merah sebalah kanannya. Ada 
bercak lumpur di kaos seragamnya itu, juga lengan putihnya. Ber-sun glass pula, 
di sekitaran rumah adik sepupu ini. Tempat Ari, Nila, ketiga anaknya dan Andung 
merangkai mimpi. Di belakang kampus yang porak poranda. 
Masih dengan baju biru, ketua partai dirubung sekawanan wartawan. Komentar atas 
petaka lancar berhamburan dari mulutnya. Sesekali titik-titik air liurnya 
menyembur ke hadapan kamera dan microphone yang disodorkan. Seperti tipikal 
binatang politik Indonesia lainnya; sisa liurnya memutih di pojok kiri kanan 
mulutnya. Istrinya yang cantik itu menemani, dengan topi bulat berwarna khaki. 
Punggawa yang lain berderet di belakang.
Di punggungan bukit depan rumah, dua jenasah perempuan tua baru diangkat dari 
kubangan lumpur. Sama seperti Andung, ada bercak darah dan cairan coklat dari 
hidungnya. Setelah melihat Andung, saya lebih tenang dan menjadi terbiasa 
melihatnya. Bapak tua tepekur dihadapannya. Kami kenali Pak Abduh ini dengan 
tatapan kosongnya. Rombong rokoknya subuh tadi disulap berpindah ke utara, 
300an meter teronggok di pojok halaman rumah Ari-Nila yang dulu asri.
Lagi, enam lelaki berkaus putih lengan panjang dengan rompo hitam berlogo 
kuning hitam. Berjanggut sama panjang menyeruak kerumunan. Hiruk pikuk massa 
berebut bingkisan simpatinya. Diikuti penjaja lain, tak ingin ketinggalan 
menebar mie instan yang sudah ditempeli stiker pesan kampanye partai. 
Selimut anyar dan pakaian ganti pengungsi diumbar layaknya di mall. Oky, cucu 
Andung tertua melirik ke arah saya, memungutnya. Sepasang kaus dan celana 
pendek. Saya hanya mengangguk mengijinkan Oky. Bocah kelas 6 SD, keponakan 
bermata besar dan tajam sedari tadi kubebaskan mengoceh menjelaskan kronologi 
kejadian. Berharap trauma-nya sedikit demi sedikit berkurang.  
Bapak tua berpeci hitam seperti berdagang menggelar nasi bungkus. Di plastik 
ada telur bulat kuah dan paha ayam. Tersenyum menyapa. "Makan Pak, makan saja 
yang sedari tadi belum makan, gratis." Tak jelas, kepada siapa sekeranjang nasi 
bungkus ini ditawarkan. Relawan, pengungsi, kader partai, wartawan, wisatawan 
yang berfoto, atau?
Tenggorokan tercekat. Panas dan pemandangan menjijikan siang ini seperti 
mengingatkan; shalat Jumat, dan, ya air bersih yang demikian sulit didapat. 
Untuk membasuh rasa muak yang kelewat batasnya. Dua tangki dari PDAM setempat 
tuntas sekejap ditengah kerumunan pengungsi sebelah selatan. Isak tangis masih 
berhamburan dari jemaah yang sejenak tunaikan shalat.  
Di utara, sedari pagi ambulan masih merambat perlahan di badan jalan Ciputat, 
menjerit meminta jalan. Silang sengkarut berseliweran dengan truk tentara, 
mobil mewah menteri dan anggota parlemen meningkahi  kedatangan Kalla dan 
Susilo yang belakangan memaksa datang sepulang kampanye. 
Entah dimana shalat Jumat mereka tunaikan. Hari ini, entah berapa ribu kata dan 
berapa jurus janji mereka umbar. Entah dengan berapa penyanyi dangdut mereka 
isi jeda waktu ketika berorasi sebelum meninjau lokasi bencana. 
Dari dekat saya amati, saya khawatir, pemimpin negeri ini layaknya terkena satu 
penyakit. Tiap detiknya, seperti merasa dikuntit kamera dan alat perekam media. 
Tak sedikitpun gerak tubuhnya terkesan natural. Di lokasi bencana sekalipun. 
Bila tersedia binokular, rasanya makin pas gaya kakunya mengkomando operasi.  
4,5 tahun lalu, bencana di Aceh Darussalam mengawali periode kekuasaan mereka. 
Oktober mendatang mereka akan mengakhirinya. 75 Tahun bendung Gintung membisu, 
sejak infrastruktur ini dibangun Belanda. Kini, di belakang kampus UMJ, berdiri 
wisata bencana baru di selatan kota. Peminatnya mengalahi komplek wisata Situ 
Gintung yang airnya peres, bahkan sepanjang riwayatnya selama ini. 
Lelaki tegap menerima telpon. "Ya drop saja bantuan kemari, wartawan ramai." 
Sepertinya tim sukses kampanye salah satu partai. Buang hajat tak kuasa 
kutahan. Terpaksa sudi membuangnya di toilet umum persembahan partai kuning. 
Partai lama yang mencolok di lokasi bencana ini.
Limbah yang terbuang membuat tubuh lebih ringan. Bertambah yakin, dan dengan 
ringan pula saya putuskan; tak kan pernah saya jatuhkan untuk ikut memilih. Tak 
bingung karena metode pilihan atau banyaknya partai. Tak dendam karena Andung 
dan Gintung. Ada tidaknya mereka yang beramanat, negeri ini tak kan runtuh. Tak 
takut difatwa murtad oleh MUI. Tapi itulah yang tersisa pada ruang batin saya.
SMS: Jenasah Andung selesai dimandikan, ba'da Ashar kita kebumikan. Gatot 
--kakak Ari-- cekatan mengatur segala sesuatunya bersama tetangga sekitar 
semenjak jasad Andung kami temukan. Surat pensiun Akki --suami Andung, entah 
dimana.

Pekuburan Karang Tengah, Legoso, Ciputat, 4.30 PM
Lepas Ashar Andung kami makamkan. Oleh sanak cucu yang hanya punya selembar 
baju. Ya, siang ini mereka menyandang sebutan baru; pengungsi. Surat pensiun 
Akki yang ingin diselamatkan Andung dan konon tak sempat terlindung laminating 
entah dimana. Mendung tebal menggantung. Adzan dari liang kubur sungguh 
menyayat, pedih.
Tahlil dan tahmid kami siapkan untuknya; ba'da Isya nanti pasti jauh lebih 
berarti. Jauh lebih berarti ketimbang meminta tanggungjawab mereka yang siang 
tadi di Poncol. Ya, lebih berarti bahkan dibanding dengan ritual 5 tahunan, 
kapan kebohongan dan janji sedang dirayakan untuk diumbar di negeri ini.

- Habis Magrib
Legoso, Ciputat, March 27, 09


      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke