Sebelumnya saya sebagai orang tua dan warga RT 02 RW 14 sangat ber terima kasih 
atas acara Persami pada tgl 4 - 5 Juli, rasa khawatir itu pasti ada karena 
kebetulan anak saya seorang putri kelas 5 SD yang belum pernah ikut acara 
seperti itu, walaupun jaman saya masih sekolah sepertinya hal ini yang paling 
saya suka (berpetualang).

Memang sangat sulit untuk membina remaja apalagi remaja yang baru tumbuh, ke 
ingin tahuan nya tinggi tetapi belum terpikir resiko yang akan dihadapi, hal 
ini masih wajar, karena itu perlu ada pembina an khusus.

Usulan saya untuk mengundang pembina dari kalangan TNI dimana dalam sisi 
penerapan akan lebih disiplin dan lebih menantang, dan hal ini bisa saja 
dilakukan seperti baris-berbaris , seperti Pasukan Pengibar Bendera dan hal ini 
saya sudah alami juga di masa SMP dan SMA, dan saya kira hal semacam ini yang 
perlu di pertandaing kan di lingkungan BDB menjelang 17 Agustus, sehingga semua 
remaja di BDB akan lebih mengerti bahwa dengan hidup yang sangat disiplin maka 
kesuksesan akan diraih.

Salam,
Edi Tobing
DP - 02


--- On Thu, 7/9/09, jaerony <[email protected]> wrote:

From: jaerony <[email protected]>
Subject: [rw14-2101] Membangun Impian Bersama - Jilid 2
To: [email protected], [email protected]
Date: Thursday, July 9, 2009, 5:01 AM



 
 


MEMBANGUN IMPIAN BERSAMA – Jilid 2

 
  
  
Tidak berlebihan kiranya bahwa “dua langkah” telah kita 
lakukan dalam pembinaan remaja. Langkah-langkah lain mendesak disusulkan 
khususnya terkait dengan kemandirian, kepemimpinan dan pengelolaan 
organisasi. 
  
Ini terlihat paling tidak dalam kegiatan Persami IRRWEB 
4-5 Juli yang lalu yang sebagian besar kegiatannya ditangani langsung oleh para 
remaja, sementara pesertanya adalah anak-anak usia kelas 4 SD s/d kelas 2 SMP. 
Pendirian tenda, pelaksanaan upacara pembukaan, kegiatan tracking malam lengkap 
dengan petugas tiap pos, pembuatan tanda jejak, pemberian soal dan tugas-tugas 
di pos, acara api unggun, hingga pada babak akhir kegiatan berupa evaluasi 
kesemuanya ditangani mereka para remaja itu. 
  
Acara-acara yang diisi oleh Pembina di beberapa sesi 
lebih untuk menghidupkan dan improvisasi serta berisi berbagai permainan 
(games). Sesi acara yang diikuti tidak saja oleh peserta tapi juga oleh 
panitianya (para remaja itu) disambut dengan sangat antusias. Mereka senang, 
karena tidak saja berkesempatan berkumpul dengan “saudaranya” sekompleks RW-14 
BDB-2 dalam acara yang tidak berbayar tapi juga berkesempatan berunjuk 
kebolehan 
dan kecakapan. Ini terekam dalam acara api unggun yang sebelumnya diisi 
“penyuluhan remaja” oleh Ibu Emi yang di keseharian tugasnya memang kerap 
terjun 
ke masyarakat. 
  
Acara Sabtu – Minggu ini dibuka secara resmi oleh Bpk. 
Zainal Fitriyadi pada Sabtu jam 16:00 di sela-sela kesibukan mempersiapkan 
Pemilihan Presiden dalam sebuah upacara bendera di lapangan volley RW 
14. 
  
Sudoku 
  
Ada satu acara pancingan dalam kesempatan itu berupa 
pemberian “teka-teki” Sudoku yang dibagikan kepada setiap kelompok. Pancingan 
yang dimaksud adalah keingintahuan Pembina tentang seberapa besar peserta 
menyukai matematika dalam bentuk yang sederhana, “menyusun angka-angka”. 
Hasilnya cukup menggembirakan. Dari 8 soal yang dibagikan kepada peserta dan 
panitia, tiga diantaranya dijawab dengan benar. Ini menunjukkan bahwa mereka 
lebih dulu mengetahui dan tidak asing serta telah mengutak-atik teka-teki ini 
dalam keseharian mereka dibandingkan para Pembinanya yang pada saat ditanyakan 
ternyata Para Pembinanya tidak tahu apa itu 
Sudoku. 
  
Kurang Menantang 
  
Meskipun acara dua hari itu cukup melelahkan, para 
peserta menyampaikan kesimpulan bahwa kegiatan ini masih kurang menantang, 
kurang serem, soal-soal yang diberikan Panitia tergolong mudah, waktu 
pelaksanaan terlalu singkat dan sebagainya. Artinya, bahwa di acara yang akan 
datang peserta mengharapkan ada peningkatan baik dari waktu pelaksanaan, 
variasi 
maupun tingkat kesulitan. Padahal, jika secara jujur boleh disampaikan, faktor 
keselamatan peserta terhadap kemungkinan yang tidak dikehendaki menjadi salah 
satu yang sangat diperhitungkan. 
  
Jadi, kita masih butuh Pembina yang tangguh (taft) pada 
setiap acara yang mampu mengkombinasikan faktor-faktor ketangguhan fisik, 
rekreasi, edukasi, dan keselamatan untuk dapat mencipatakan generasi tangguh 
yang dapat mengganti para bapaknya kelak.  
  
More volunteer is welcome for next 
event!
 
(JS)


      

Kirim email ke